
"Aku tidak mencintainya, tapi aku suka melihat gadis itu tertawa. Aku dapat melihat jati diri Spongebob yang bodoh di dalam diri gadis itu." Tawa memecah suasana, mengusir aura hitam yang sempat menyelimuti ruangan itu.
Rico membuka rahasia pertama Farhan. Di mana Lisa mengernyit kebingungan dan tidak paham dengan kalimat ambigu yang Rico ucapkan.
"Maksudnya apa, Pak Rico?" tanya gadis itu.
"Itu kata-kata mutiara yang diucapkan suamimu saat pertama kali mengadopsimu."
Farhan langsung menutup mulut Rico. Menjauhkan pria itu dari Lisa dan membanting tubuhnya di sofa seberang. "Kau bukannya kembali ke kamar pengantinmu bersama gadis itu? Pergi sana!"
"Tidak, aku lebih suka jadi orang ketiga di sini. Bersama kalian!" teriak Rico dengan tawa lepasnya. Farhan menindih tubuh Rico seperti bocah. Membungkam mulut pria yang jauh lebih kuat darinya dengan seluruh tenaga yang ia kerahkan.
Lisa semakin bingung dengan perubahan sikap mereka yang tidak biasa. Dua manusia yang selalu terkesan berwiba itu tampak seperti orang gila. Yang satu pucat ketakutan, dan satu lagi kesetanan ingin mengungkapkan sesuatu. "Sebenarnya kalian kenapa, apa yang kalian sembunyikan dariku?"
Rico menyergah cepat. "Rahasia suamimu! Bantu aku menyingkirkan manusia gurita ini. Aku akan ceritakan hal yang menarik tentang suamimu."
Sorot mata Lisa membola, ia langsung membantu Rico menyingkirkan Farhan dengan menjauhkan suaminya agar tidak menggangu Rico. Lalu menarik paksa tubuh Farhan agar kembali ke tempat semula. "Mas duduk di sini sama aku, biar pak Rico cerita." Pelukkan erat Lisa membuat Farhan tak bisa berkutik.
"Cepat cerita Pak, aku mau dengar." Gadis itu sangat antusias menunggu mulut Rico yang sedang menyusun rangkaian kata.
"Mulai dari mana ya?" Rico memutar memorinya. "Mungkin kita bisa memulai dari CCTV."
"CCTV?" tanya Lisa tertohok.
"Iya." Rico melipat bibirnya lucu, lalu menjurkan lidahnya ke arah pria yang sedang menatapnya setengah murka. "Kau tahu? Suamimu selalu memasang CCTV di sudut ruangan apartemenuntuk mengawasi kegiatanmu selama ini. Itu sebabnya ia tidak pernah pulang ke rumah karena sudah puas melihatmu dari kamera CCTV." Rico memukul-mukul sofa, gemas sendiri melihat ekspresi polos Lisa ataupun Farhan. "Kalau dia sedang menatap layar dengan wajah memerah malu, itu artinya dia sedang melihat adegan kamu ganti baju sembarangan. Hahahaha."
Lisa menoleh ke samping dengan tatapan tajam yang menukik. "Beneran, Mas?"
Farhan mengedikkan bahu, pandangannya lurus ke arah Rico seorang. Tidak ingin mengakui perbuatan jailnya sama sekali.
Rico berkata lagi, "Tidak hanya mengawasimu lewat CCTV Lisa, tapi dia juga menyadap ponselnmu sampai sekarang. Jika dia tiba-tiba cuek dan berubah dingin di kantor, itu artinya suamimu sedang kesal karena melihat istrinya berinteraksi dengan sang mantan. Bodohnya dia tidak berani bilang cemburu ataupun marah kepadamu. Bukankah itu lucu?"
Lisa menunduk malu, kali ini gadis itu yang merasa tidak enak pada sang suami. Rico benar-benar pandai merusak suasana. Antara kesal, marah, geretan, dan semuanya bercampur aduk tidak jelas.
"Jangan melebih-lebihkan sesuatu!" Bantal sofa melayang ke wajah Rico. Lisa hanya berani melirik sang suami karena ia dalam posisi salah.
"Memang kenapa?" Lisa kembali antusias menunggu bongkaran aib Farhan selanjutnya.
Tawa Rico menggema semakin nyaring. "Mungkin karena dia horni... hahaha."
Farhan sudah melepas sepatu, nyaris melempar benda berat itu ke wajah Rico andai Lisa tidak mencegah. Ia menyesal 400 tanjakkan karena telah menjadikan Rico sebagai tempat curhatnya.
Lisa menghalu Farhan agar tidak macam-macam. "Teruskan Pak Rico... memang apa yang dilakukan suamiku di masa lalu?"
"Saat itu dia pulang ke apartemen, tapi kau sedang tidak ada di rumah. Tanpa sengaja, ia menemukan BH milik perempuan di atas sofa. Lalu suamimu yang penasaran langsung menghubungiku dan bertanya perihal benda apa yang ia lihat." Rico menarik napasnya sejenak, menahan perut juga agar tidak pipis di tempat. "Setelah aku memberi tahu bahwa itu benda pembungkus itu, suamimu langsung kembali ke kantor dengan wajah merona. Dia bilang sangat penasaran dengan isinya sampai tak sadar mencium benda itu. Begitu sadar, suamimu langsung membuang benda itu ke tempat sampah. Merasa teracuni BH sianida katanya, hahaha."
Tarikkan napas semakin memburu, Lisa melayangkan tatapan murka ke arah suami. "Berani-beraninya kamu melecehkan gadis di bawah umur pada saat itu. Jahara kamu, Mas!"
Farhan tertunduk diam seraya mengepalkan tangannya kesal. Ingin rasanya dia menembak Dipsy milik Rico sampai sekarat agar mulut pria itu tak bisa berkutat lagi.
"Jangan salahkan suami, Lisa! Dia hanya terlambat sadar bahwa dirinya memiliki kromosom Y yang berfungsi normal," kelakar Rico.
"Kalau begitu aku ingin menjenguk istri baru dulu. Selamat berjuang Adikku sayang." Rico mengedipkan mata nakal, lalu meninggalkan ruangan yang sudah mulai kembali kehilangan pasokan udaranya.
Terakhir, Rico mendengar suara prang ... prang dari dalam sana. Ia tertawa geli. Merasa bangga karena telah berhasil membuat Farhan malu habis-habisan di depan wanita untuk pertama kalinya.
...***...
...Kasih yang gabut-gabut dulu....
...Jangan lupa mampir ke novel baru ya,...
...Menikah Sukarela Karena Korona....
Farhan.