
Ceritanya mau move on seperti orang dewasa pada umumnya, namun Cello dibuat terhenyak saat melihat tubuh kecil Malika sudah berada di balik punggung Farhan tanpa ia sadari. Remot kontrol yang dipegangnya nyaris jatuh. Anak kecil itu langsung berjongkok cepat lantaran ia hanya mengenakan s*mpak dan kaos tipis bergambar mickey mouse.
Itu adalah kebiasaan Cello. Dia sering sekali bermain di dalam rumah hanya mengenakan s*mpak dan kaos karena tubuhnya mudah kegerahan. Kalau Cilla yang melihatnya sih biasa saja. Namun ini Malika. Dia bisa langsung ilfeel melihat Cello dalam keadaan seperti ini.
“Bunda mana?” tanya Farhan langsung menyergah tanpa basa-basi lagi.
Cello terpaku sejenak. Menetralkan otaknya yang terasa linglung beberapa saat sambil memikirkan langkah apa yang akan ia lakukan kalau sudah ketangkap basah begini.
“La-lagi tiidur di kamar sa-sama adek. A-Ayah kenapa pulang?” tanya anak itu segugup-gugupnya. Mukanya sudah memerah seperti udang rebus, dan tangannya terus memegangi anakan burung cicicuit yang baru tumbuh di balik c*lana d*lam bergambar Spidermannya.
“Tentu saja ayah pulang. Ini ‘kan rumah ayah. Ngapain kamu jongkok di lantai begitu?” Dengan ketusnya Farhan berkata. Ia tahu anak delapan tahunnya itu sedang menahan malu, tapi Farhan membiarkan dan pura-pura tidak paham saja dengan konflik anak bocah ingusan seperti itu.
Duh, kenapa ayah pulang bawa si Kecap sih? Mana aku lagi gak pake celana lagi. Gimana ini, apa aku lari aja?
Cello terdiam dengan sejuta asumsinya.
“Bangun!” seru Farhan.
Cello mendongak sedikit dengan wajah malu-malu. “Ello lagi nggak pakai celana Yah,” lirihnya
“Memangnya kenapa? Biasanya juga kamu sering seperti itu,’kan?” pancingnya. Membuat Cello merengut lantaran si ayah tidak bisa diajak kompromi oleh anaknya sama sekali.
Farhan melipat sedikit bibirnya. Gemas-gemas menyebalkan, tapi ia suka melihat ekspresi malu bocah nakal itu. Anggap ini adalah pelajaran untuk Cello karena sudah berani mengajak anak gadis orang nikah tanpa sepengetahuan orang tua.
“Ayaah! Ada cewek tauuu,” tunjuknya dengan satu tangan mengarah pada Malika. Sementara satu tangannya lagi masih setia menutupi si cicicuit minimalisnya.
Farhan melongo ria sambil menoleh pada Malika. Mengangguk-angguh lusu sambil menilai ekspresi mereka berdua. Ello tampak gugup luar biasa. Sementara gadis kecil itu malah tertunduk diam tanpa ekspresi seolah tidak terganggu sama sekali dengan keadaan Cello. Padahal Malika sedang berargumen memikirkan kesalahannya tadi.
“Oh, dia calon istrimu, bukan?”
“A-anu Om. Kita tidak seperti itu, 'kan masih kecil.” Malika terpaksa menjawab takut-takut. Tangannya yang bergetar terus meremas-jari jemari. Farhan yang melihatnya tersenyum ngilu, rasanya tidak kuat melihat dua bocah yang tengah salah tingkah ini.
Malika sengaja bilang begitu karena tidak mau ada kesalahpahaman lagi di antara orang dewasa. Apalagi sampai menimbulkan konflik perdebatan seperti tadi.
“Ya sudah kalau begitu, Om mau ke kamar tante. Kalau ada perlu apa-apa minta tolonglah pada Ello. Dia baik kok," ujarnya.
“Ayahhhhh!” Cello berteriak lantaran sang ayah melangkah pergi dengan santainya tanpa mengajak Malika. Lalu gimana dengan keadaannya? Di saat-saat tertentu Farhan benar-benar ayah yang menyebalkan! Cello sampai bingung harus melakukan apa.
Anak kecil itu pun semakin dibuat salah tingkah saat hanya berdua saja dalam keadaan tak pakai celana. Malika sampai mengernyit bingung sambil terus menatapinya. “Kamu ngapain jongkok terus, sih?”
Cello yang sedang menunduk pun mendongak. “Apa-apaan sih, kamu madep ke belakanh dulu. Aku mau ke kamar pakai celana. Kamu gak liat aku cuma pake s*mpak doang?" ujarnya ketus.
"Ngrepotin banget yah," balas Malika yang juga ikutan ketus.
"Yang ngrepotin itu kamu. Dateng ke rumah gak bilang dulu. Aku kan udah kasih nomer aku," gerutunya.
"Hape aku ketinggalan di tas ayah. Lagian ayah kamu yang ngajakin aku ke sini, bukan salahku."
"Yaudah madep ke belakang dulu sana! Kenapa kamu masih ngeliatin aku terus!" kesalnya.
"Iya bawel!" Gadis kecil itu pun membalik tubuhnya ke belakang sambil menutup mata. Cello langsung berlari ke kamar. Buru-buru ia mengunci pintu dan meninggalkan Malika di ruang tamu.
Dibukanya si s*mpak merah bergambar Spiderman kebanggaannya seraya diusap penuh penjagaan. "Untung belum dilihat sama si Kecap. Kata om Rico penerus bangsa junior gak boleh diliat anak cewek! Nanti bahaya kalau sampai terbang sembarang," gumamnya pelan, mengingat pesan jenaka Rico kala itu berkunjung ke rumahnya.
***
Up Kedua. Jangan lupa kasih hadiah biar mangatt