HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 84 : (Season 2)



"Bolehkan saya minta nomor yang bisa dihubungi?" ucap wanita itu cari mati.


"Untuk apa?"


Skala berusaha bersikap sopan. Ia takut acara naik-naik ke puncak gunung yang sudah digadang-gadangkan sedari tadi akan batal begitu saja hanya karena masalah tidak penting seperti ini. Bukannya bertamasya ke puncak gunung, yang ada ia malah didorong terjun ke jurang penuh buaya oleh istrinya.


"Kalau boleh saya ingin mengenal Anda lebih dekat. Namaku Safira ...." Wanita itu mengulurkan tangannya. Bahkan ia tak sempat membersihkan noda minuman di bajunya.


"Waduuh, maaf! Saya sudah punya anak dan istri," jawab Skala jujur apa adanya. Bahkan istrinya tengah menatap bengis ke arahnya sekarang.


Wanita cantik yang sepertinya lebih muda dari Bianca itu tertawa. "Punya istri bukan berarti tidak boleh memiliki teman, bukan? Saya akan senang jika Anda mau berteman. Ya, itung-itung berbagi rasa penat," ujar wanita itu dengan sejuta bujuk rayu.


Skala tidak peduli. Ia lebih merasa ngeri jika istrinya mengeksekusi gadis genit ini sampai mati di depan orang sebanyak ini.


Pria itu melirik Bianca lagi. Titik-titik keringat mulai membasahi dahi saat Bianca melotot semakin murka ke arahnya, lantas menarik garis lurus di bawah dagu dengan ujung jari telunjuknya.


Mati kau!


Itulah maksud dari kode Bianca kepadanya.


Tak mau berlama-lama berada dalam jeratan wanita dakjal satu ini, ide untuk menjaili wanita itu pun muncul selancar air terjun. Skala tak ingin menyia-nyiakan kecerdasan yang sudah mengalir begitu saja. Ia anggap ini merupakan anugrah terindah yang dihadiahkan dari Tuhan untuknya.


Skala manggut-manggut penuh arti. "Ok ... ok. Mari berteman, tapi selain punya istri saya juga homo, istri saya saja jarang kebagian jatah! Saya lebih tertarik menghisap batang-batang besar dengan otot-otot melingkar ketimbang memasuki goa di bawah lembah. Jadi—" Skala menarik garis bibirnya membentuk sebuah seringai. "Yakin kamu masih mau berteman dengan saya?"


"Jadi Anda seorang homo?" Bahu wanita itu berguncang. Ekspresinya berubah geli saat Skala mengatakan hal yang sangat tidak pantas untuk didengar oleh orang awam. "Idiiihhhh! Maaf, sepertinya saya salah orang!" ketusnya.


"Iya, saya homo, makanya jangan dekat-dekat saya kalau tidak ingin kena penyakit tumor!" Tanpa menunggu lima ratus tahun, pria itu berjalan menghampiri istrinya. Bianca sudah ancang-ancang, hendak berubah wujud menjadi banteng karnaval yang siap menyeruduk Skala dan gadis genit itu kalau saja Skala tak kunjung kembali.


Tadi dia bilang apa? Tumor?


Wanita tadi mengernyit kebingungan. Membandingkan apa hubungannya tumor dengan status Skala yang katanya seorang homo. Bukankah tumor tidak menular?


"Iksh!" Wanita itu berdecak. Mengentak-entakkan kakinya kesal karena telah ditipu dengan begitu mudahnya.


Skala kembali menghampiri Bianca dengan sebotol mineral yang tutupnya sudah ia buka. "Minum dulu!" ujarnya seraya menyodorkan minuman itu ke arah Bianca.


Bianca menerimanya dengan tatapan sengit. "Bagaimana kalau minuman ini aku siramkan ke kepalamu saja, Ska?"


"Jangan Sayang. Kamu yang akan repot kalau aku masuk angin. Yukk ke kamar ...."


"No!" seru Bianca geram. "Lupakan kamar! Jatahmu lenyap!"


Meskipun ia juga ingin bercengkrama ria tanpa diganggu Rain, tapi harga diri adalah yang utama. Skala sangat menyebalkan hari ini. Ia harus diberi sedikit pelajaran agar berhenti berulah yang tidak-tidak.


"Ayolah Cha!" bujuknya.


"Kamu tidak menurut padaku, Ska! Tadi membuatku kesal karena telah mengganggu tuan Farhan. Sekarang membuatku geram karena meladeni cabe-cabean! Bisa-bisanya kamu minta jatah setelah membuat istrimu emosi jiwa!" sembur Bianca.


"Maaf ... maaf! Anggap saja hal-hal itu tidak pernah terjadi. Wanita hamil harus sabar dan menjadi pemaaf," ujarnya.


"Kamu menyebalkan!" pekik wanita itu. Rasa haus yang melanda ladang kerongkongan membuat Bianca mau tak mau meminum air mineral yang tadinya hendak disiramkan ke wajah suaminya.


Skala mengambil ponsel dari dalam saku celana, lantas menggeser-geser layar seperti hendak melakukan sesuatu.


"Sudah, nih!" Pria itu menyeringai bahagia.


"Aku sudah pesan kamar hotel untuk kita berdua. Nanti kita turun lagi kalau acara penggalangan dananya sudah mulai. Aku tahu piranhamu pasti sudah tak sabar bertemu kangen dengan anakondaku," ledek Skala.


Bianca memekik kesal, "Siapa yang mau bercinta denganmu?"


"Oh, jadi kamu tidak mau?" Skala menunjukkan layar ponselnya ke arah Bianca. Alisnya naik turun dibarengi seringai tawa jahat sekali. "Kamu tahu tidak berapa harga kamar president suit di hotel ini? Apa kamu yakin akan mengikhlaskannya begitu saja setelah melihat harganya? Kalau aku si sayang uangnya."


Ya Tuhan! Manusia ini!


Tak ada pilihan lain selain mengangguk atau berkata iya. Suami sialan ini selalu tahu bagaimana caranya mendapat haknya sebagai seorang pria.


*


*


*


"Skaaaaaaaaaaaaaaa! Kamu keterlaluannnn!"


Pria itu meng-ulum senyum geli saat Bianca berteriak seraya memukul-mukul kecil bagian dadanya. Gemas, ia malah semakin gemas pada tingkah perempuan itu.


"Maaf ... maaf! Aku 'kan sudah bilang mau main cepet!" Pria itu tertawa sekali lagi. "Kita sudah lama tidak melakukan itu, Cha! Wajar jika stok bubur sumsum di perut anakondaku terlalu penuh dan cepat muntah!"


"Tapi tidak lima menit juga!" kesalnya.


"Kalau begitu ayo main lagi ... kamu mau seberapa banyak pun aku sanggup melakukannya!" Dielusnya puncak kepala Bianca dengan lembut. Wanita itu mendongak dengan lidah mencibir.


"Percuma pesan kamar mewah kalau hanya mampu bertahan lima menit!" sungutnya.


Skala hanya diam sembari menahan tawa. Ia sudah lama tidak melakukannya sejak Bianca mulai hamil lagi. Jadi wajar jika anakonda syok saat bertemu belahan mulut piranha yang bertambah semakin rapat karena jarang dikunjungi pemiliknya.


"Hapus predikat anakondamu, Ska! Ganti saja dengan ulat bulu! Membuatku gatal-gatal tahu!" kesal Bianca semakin jadi.


Skala menyengir ala kuda. Ia paham sekali apa yang dirasakan istrinya sekarang pasti tidak enak sekali.


"Eitsss! Yang kedua aku janji tidak akan seperti ini." Cumbuan maut ia layangkan kepada istrinya. Namun Bianca terlanjur kesal pada pria itu.


"Jangan marah, Cha!"


Wanita itu membatu tanpa jawaban.


Bagaimana tidak marah kalau Skala membuatnya kepalang tanggung di tengah jalan? Dasar suami tidak peka!


Padahal hanya tinggal dua menit lagi Bianca akan sampai pada batas pertahanan-nya. Sayangnya Skala terlanjur letoy sebelum menit jam mencapai angka 7.


"Ayok ulangi sekali lagi." Skala melayangkan cumbuan di mana-mana. "Maafkan aku. kali ini aku akan memberikan servis terbaik untuk tuan putri tercinta ini!"


Dan kegiatan yang enak-enak itu pun berlanjut tanpa perlu diceritakan lebih detail .... Semua akan mengetahui rasanya jika waktu itu sudah tiba.


***


Ada yang nanya kenapa gak panas kayak di novel aslinya? Tolong pahami, otornya masih 19 tahun. Hehe. Bab ini ditulis oleh Anarita atas izin penulis aslinya.


Kasih komen yg banyak dund.. Sayang. Sepi syekali ini lapak. Kasih semangat kek.