
Senyum manis tak pernah lepas dari bibir Farhan setelah melihat wajah hasil main komidi putar sembilan bulan lalu. Yang ternyata cetakannya sangat mirip sekali dengan pria itu.
Bagai batu bernapas di belah dua, mereka tampak kompak saat menunjukkan keangkuhan dan ekspresi datar. Benar-benar seperti manusia yang baru keluar dari mesin fotokopi. Begitulah kira-kira ekspresi tenang bayi itu yang sangat mencerminkan sikap Farhan.
"Kamu seneng banget ya, Mas?" Lisa mendongak, menatap Farhan yang tengah mendorong pelan kursi rodanya setelah menjenguk si buah hati di ruang bayi.
"Tentu saja aku senang. Dia mirip sekali denganku, sama sekali tidak ada wajah kamu di sana, pasti kalau sudah besar dia lebih sayang pada ayahnya daripada bundanya."
Entah dapat bisikan sialan dari mana, Farhan mengatakan itu tanpa rasa malu, padahal tempat yang sedang mereka lewati sekarang sangat ramai karena ia sedang melalui ruang tunggu OBGYN.
"Asal sayang kamu ke aku gak luntur, gak masalah kalau lebih sayang ayahnya," balas Lisa sambil menyeringai jenaka.
"Hmmm. Kamu yang paling menang banyak. Bisa mendapatkan dua kasih sayang dari dua pria sekaligus."
"Cemburu?" Wanita itu tertawa diambil menepuk lengan Farhan heboh.
"Mana ada ... aku hanya berkomentar," ujar pria itu tanpa berhenti senyum-senyum.
Meski belum pernah menyentuh, tapi Farhan dapan merasakan sayang yang amat besar saat melihat bayi yang terbaring lemah di inkubator itu.
Mereka mulai memasukki ruang rawat kembali. Farhan mengernyit saat melihat botol susu yang sedang disiapkan suster. Di mana ia sedang menghangatkan ASI milik Lisa di ruangan itu.
"Susu apa itu?" tanya Farhan memastikan. Tangannya cekatan menggendong Lisa ke pembaringan kembali agar segera beristirahat.
"Ini adalah air susu ibu. Milik Nona Lisa." Sambil melirik Lisa seolah meminta bantuan karena takut melihat ekspresi dingin Farhan.
"Berikan makanan itu ... aku harus memastikan dia meminum sesuatu yang benar." Farhan merebut botol susu itu dan mengarahkan pada mulut sendiri.
Itu benar Tuan. Tidak ada makan yang lebih baik untuk bayi selain ASI. Sang suster menggerutu dalam hati.
"Sampah macam apa yang kau berikan kepada anakku?"
Farhan sudah menyesap sedikit ASI yang baru saja dihangatkan suster tersebut. Wajah pria itu berubah emosi saat mengetahui rasanya tidak enak.
"Itu ASI. A-air sususu ibu," ulang suster tersebut dengan nada tergugu-gugu ketakutan.
"Apa kamu bilang, sampah? Itu ASI-ku, Bodoh! Makanan paling bergizi untuk bayi kita" Lisa menatap tajam sang suami. Darahnya mendidih mendengar kalimat yang keluar dari bibir sialan itu.
Merasa situasi mulai tidak benar, sang suster segera pamit undur diri sebelum terseret lebih dalam. Karena ia sudah tahu, suami penghuni kamar VIP ini adalah salah satu CEO gila yang menjadi sponsor rumah sakit. Dari berita yang ia dengar dari gosip, adalah suami yang galaknya kebangetan tiada ampunan kalau sudah melihat kesalahan orang lain.
Maka ia memutuskan kabur.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan dan Nona. Saya harus segera mengecek keadaan bayi Kalian." Suster itu meraih tremos berisi persedian ASI milik Lisa. Ia merelakah botol yang sudah siap minum itu disita Farhan daripada ikut terkena masalah rumah tangga runyam mereka berdua.
Farhan melirik si suster yang pergi terbirit-birit sambil mengangkat satu alisnya tinggi-tinggi. Kemudian melirik botol yang baru saja ia taruh di atas nakas kembali. "Amis, bau, menjijikkan. Apa kau yakin dia suka makanan seperti itu?" Pertanyaan kedua lolos dari bibir Farhan begitu saja.
Lisa terdiam sejenak. Bibirnya berkedut karena terlalu menghayati dalam membatin,
Begitulah kalau punya suami yang lahirnya langsung otodidak. Tidak pernah merasakan jadi bayi.
Kemudian dia menjelaskan setelah mengacak-acak rambutnya tiga kali.
"Itu bukan untukmu ya Sayangku. Siapa yang suruh kamu coba? Dasar suami gila! Pergilah, aku bisa mati kalau begini caranya. Tidak tahu apa kalau melahirkan itu sakit?" Akhirnya pertengkaran gemas itu terjadi lagi setelah lama tak terdengar.
Farhan merasa tidak terima saat diusir. Karena apa yang dia pikir adalah demi kenyamanan si buah hati.
"Aku hanya memastikan dia menyukainya. Makannya aku coba dulu sebelum diberikan pada anak kita. Salah?" Farhan berbicara dengan gaya menantang pengin dikemplang.
Wanita itu mendelik heboh. "Tentu saja salah. Itu adalah makanan terbaik yang dikhususkan hanya untuk bayi. Bukan orang dewasa sepertimu. Jangan terlalu khawatir anak kita tidak suka. Bukankah pelajaran seperti itu sudah ada sejak SD. Apa jangan-jangan kamu bolos saat pelajaran biologi?"
"Guruku tidak menjelaskan rasa ASI seperti apa. Mana kutahu kalau ternyata menjijikkan seperti itu." Dengan angkuhnya ia membela diri.
"Sialan ya, lagi pula itu bukan buat kamu, Mas. Tidak perlu repot-repot mengomentari rasanya. Itu punya anak kita, bukan punyamu."
"Dulu itu punyaku. Dia hanya kupinjami beberapa waktu." Dengan tidak tahu dirinya Farhan berkata,di mana ada bunda yang sedang menutupi telinga si kembar di belakangnya.
"Apana yang puna ayah?" Cilla berlari menunggu jawaban. Bersama Cello yang antusias ingin memeluk Lisa dan minta naik ke pembaringan.
"Apa ya?" Farhan menyeringai bodoh.
Bunda yang mendengar semua percakapan mereka merasa malu dan ingin segera membawa si kembar transit ke planet Mars dulu.
Ya ampun, kupikir mereka berdua sudah tobat. Ternyata masih sama-sama gila kalau sudah ribut. Hikssss.
...***...
...PROLOG SEASON DUA HELLO MY BOSS SUDAH RILIS DI IG YA. KALIAN BISA KUNJUNGI IG AKU UNTUK MELIHATNYA....
...Instargram: @anarita_be...
...SEASON DUA ISINYA KEBUCINAN FARHAN....
...Kalo masih banyak yang dukung dan vote poin bungan dan kopi nanti aku UP Di Novel ini. Pertanda kalian masih mau baca kan. hehe🤗...
...TERIMA KASIH....
......See you.........