
Doain aku biar bisa terus membuat kalian ketawa meskipun lagi down.
***
Bola mata Farhan berubah kunang-kunang melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Sebuah kepiting alaska mentah dengan berat sepuluh kilo hadir di depan mata. Padahal ini yang kedua kalinya Farhan lihat, setelah yang pertama terkejut dan nyaris lari melihat saudara tuan Crab yang sudah tereksekusi tersebut.
"Kau yakin dia tidak sedang mengerjaiku, 'kan? Kenapa nyidamnya aneh sekali?" Farhan beralih ke samping, menatap tamu undangan yang sengaja dia panggil untuk membantunya masak.
BTW, mereka tidak jadi memanggil adik-kakak seperti keinginan Farhan dulu. Keterbiasaan mengobrol dengan bahasa boss dan bawahan membuat mereka canggung merubah panggilan lagi. Jadi mereka memutuskan untuk membiarkan panggilan itu mengalir natural apa adanya.
"Istrimu memang sangat menyukai kepiting alaska. Bahakan aku pernah diajak makan kepiting bareng sepulang kerja disalah satu restaurant." Rico menjawab dengan enteng tanpa peduli pada sorot mata cemburu yang menatapnya sedari tadi.
"Oh ya, sepertinya kau sangat akrab dengan milik orang lain." Farhan membalasnya dengam ketus. Bola matanya beralih kembali menatap kepiting yang tergeletak di atas meja.
Rico tergelak melihat tingkah acuh tak acuh si batu bernapas itu. Kemudian menepuk bahu pria itu dan mendorongnya sedikit ke samping. "Ck, itu sebelum kamu dekat dengannya. Tidak usah cemburu." Segera membungkuk, Rico mengangkat panci besar yang tadi sengaja ia beli khusus hanya untuk memasak hewan mengerikan itu. Lalu meletakannya di atas kompor gas setelah di isi air sampai batas garis yang ditentukkan "Ngomong-ngomong kamu payah, masa meminta bantuan orang lain untuk masak. Padahal ini 'kan nyidam pertama istrimu."
"Biarkan saja, toh dia tidak masalah saat aku mengundangmu ke sini." Farhan berjalan pelan sambil melipat tangannya di depan dada. "Tolong urus kepiting itu, aku tidak sanggup melihatnya."
Pria itu bergidig ngeri, kemudian mulai membuka kulkas dan memilih menyiapkan bumbu daripada mengeksekusi kepiting sebesar itu.
"Kamu tidak tahan apa tidak tega? Pasti bayanganmu tertuju pada temannya spongebob, kan? Siapa namanya." Rico tampak berpikir.
"Tuan Crab," jawab Farhan. "Tapi aku tidak segila itu juga kali. Untuk apa aku membawa kartun ke dunia nyata!" Dia memekik dengan bola mata sepenuhnya jengkel. Padahal Farhan pernah mencoba tutorial mengambil boneka capit yang diajarkan oleh Spongebob. Berarti dia lupa bagian kisah memalukan yang satu itu. Ya, begitulah Farhan dan segala kekurangannya yang kadang membuat orang senyum-senyum melihat tingkahnya.
"Aku hanya ngeri saja memasak kepiting besar sebesar itu," kilahnya sambil menuangkan butter untuk dibuat saos.
"Eh ..." Farhan menoleh kebelakang. Ternyata kepiting itu sudah masuk ke dalam panci besar dan mulai terkukus.
"Apa?" tanya Rico.
"Bagaimana pernikahanmu dengan gadis kecil itu? Apa semuanya baik-baik saja?"
Rico tersenyum kecut mendengar pertanyaan Farhan. "Maksudmu si Petasan Banting?"
"Wah-wah. Sudah punya panggilan mesra ternyata." Farhan meledek selagi memanaskan saos butter di atas teflon dengan api kecil. Ia mengaduk-aduknya dengan pelan hingga baunya menguar harum memenuhi seisi dapur.
"Mesra apanya, dia adalah aset kebangkrutanku tahu."
"Memangnya apa yang dia lakukan?" Farhan mengernyit di balik sana.
Di mana Rico langsung berlagak lunglai dan mendesah frustasi saat menemukan tempat untuk berbagi keluh kesahnya. "Dia meminta uang jajan sepuluh juta setiap hari, kamu bayangkan saja betapa repotnya aku menghadapi anak itu."
"Hanya sepuluh juta saja bukan masalah besar. Jangan terlalu pelit pada istrimu." Farhan iseng-iseng menasehati. Ia tahu bahwa Rico adalah pria yang suka berhemat dan jarang mau berbagi dengan wanita, tapi masa mau pelit pada istrinya juga. "Dasar Dipsy," lanjutnya mengejek.
Rico yang merasa kesal langsung meninggikan nada bicaranya. "Aku tidak masalah jika uang yang aku berikan dipakai untuk dirinya sendiri, tapi ini untuk game dan ketidakjelasan lainnya. Bagaimana aku tidak kesal, coba?"
"Coba kamu beri nasihat dan sentuhan-sentuhan yang menyenangkan. Biasanya Lisa akan nurut saat aku melakukan itu." Ada tawa kecil yang keluar dari bibir Farhan saat mengatakan kalimat itu.
"Sentuhan apa maksudmu?" Rico membalikkan tubuhnya menghadap ke meja Farhan dengan mata memicing sebal.
"Sentuhan cintalah," jawab Farhan asal-asalan. Sampai tergelak hingga kategori batu bernapasnya sedikit menyusut.
"Masa sih?" Farhan ikut berbalik hingga kini posisi mereka saling berhadapan dengan jarak tiga meter. Acara gibah semakin panas. Sekarang, dua pria yang sudah berstatus suami itu layak disejajarkan dengan emak-emak gibah tingkat RT dan Lurah.
"Ya begitulah istriku. Apa kau ingin tahu yang lebih gila lagi?"
Farhan mematikan kompor setelah sausnya matang. Kemudian mulai fokus pada acara gibah dapur kali ini. "Apa tuh?" tanya pria itu sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kemudian menunggu cerita Rico dengan wajah penasaran.
Rico menyipitkan matanya sambil bergidik ngeri. "Dia sangat jorok, bahkan kawat BH—nya saja sampai keluar-keluar tak terurus. Ihhhg!" Sambil mengedikkan bahu karena teramat merinding membayangkannya.
"Kawat BH?" Bola mata Farhan mengajak otaknya berpikir keras. "Memangnya ada kawat di dalam BH? Ngeri sekali."
"Iya, ada. Mungkin gunanya untuk menyangga milik wanita agar tidak jatuh. Aku juga baru tahu setelah mencopotnya satu. Karena istriku orang kampung, tadinya aku pikir itu adalah jimat atau semacam pelet, tapi mana mungkin wanita tidak jelas itu tahu soal dukun-dukunan."
"Oooo." Dalam diam Farhan mendadak cengo. Jujur ia masih kepikiran kawat BH. Sepertinya Lisa tidak memilik bra yang seperti itu. Tapi entahlah. Dia akan menyanyakannya nanti jika sudah masuk kamar.
"Ck, sepertinya aku kena karma istrimu. Dulu aku pernah meledek karakternya yang aneh. Sekarang aku dapat yang lebih aneh."
"Jangan terlalu dipikirkan, itu salahmu sendiri membohongiku. Andai kau mendengarkan ucapanku waktu itu, kau tidak akan menikah dengan gadis ZONK seperti itu."
"Semua itu terjadi begitu saja, Han. Ceritaku terlalu rumit untuk dijelaskan, saat itu Wicaksono hampir mati meregang nyawa, jadi aku terpaksa menerima perjodohan gila ini. Kupikir dia mau menjodohkanku dengan visual wanita yang baik-baik, ternyata pilihannya hanya gadis kencur edisi petasan banting seperti Bebi."
Pria itu menarik napas kasar setelahnya. Bagi Rico ini hanya cerita sampingan yang belum ada apa-apanya, ia sengaja tidak menceritakan pada Farhan kalau istrinya adalah mantan maling sapi karena takut dihujat. Bagaimanapun juga ini adalah pilihannya, kan? Entah takdir atau pilihan si, Rico hanya bisa pasrah.
Merasa kehabisan kata-kata lagi, Farhan mengeluarkan kalimat pamungkas terakhirnya. "Sabarlah. Jangan terlalu memikirkan gadis kecil itu. Berikan saja uang sepuluh juta yang rutin agar hidupmu tenang," ucap Farhan menasihati.
Rico menjawab dengan bahu setengah mengedik. "Ya, aku juga selalu memberikannya walau sebenarnya tidak rela."
"Harus rela, dia istrimu."
Rico mendesah frustaris untuk kesekian kali. "Kamu 'kan tahu aku orang yang hemat dan rajin menabung. Tentu saja aku tidak rela jika uangku dihabiskan untuk game dan hal-hal tidak penting."
Seulas senyum menghiasi wajah Farhan kini. "Sabar, wanita memang diciptakan untuk menghabiskan uang kita dengan membeli hal-hal tidak penting. Terima saja."
Tanpa disadari. Ada mata melotot yang mendengar kalimat akhir Farhan hingga si pemiliknya langsung berteriak sensitif.
"Jadi menurutmu aku wanita seperti itu?"
"Eh." Farhan mengerjap gugup saat melihat Lisa sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan tatapan menukik ke arahnya. Sial, kenapa dia harus mendengar bagian ini?
Padahal kata-kata itu bukan ditujukan untuk Lisa. Oh, kenapa Farhan harus ikut kena getah rumah tangga Rico juga? Ah, menyebalkan!
"Bu-bukan seperti itu Lisa."
"End!" Lisa menghentakkan kakinya sambil menggorok leher dengan tangan. Kemudian berlalu pergi meninggalkan Farhan.
Hilang sudah jatah ritual aye-aye malam ini.
***
Jangan lupa komen dan tinggalin jejak dung.