HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 62 : (Season 2)



"Siang Bunda." Lisa menyapa, setengah berlari  kecil saat melihat bunda membukakan pintu untuk mereka berdua. Wanita berwajah ceria itu lekas mencium tangan halus bunda diikuti oleh Farhan dari belakangnya. Pria kaku itu hanya mencium tangan bundanya tanpa mengatakan sepatah kata pun seperti biasa.


"Bagaimana kabar Bunda, sehat?" Dua wanita itu nyelonong pergi ke ruang tamu bersamaan meninggalkan Farhan yang masih berdiri menenteng sedikit oleh-oleh untuk orang rumah.


"Semua yang ada di sini sehat Lis," jawab bunda, mendudukkan dirinya di sofa dengan tangan yang masih merangkul Lisa sepenuhnya. Wanita itu juga ikut duduk di samping bunda. "Tapi ayah lagi keluar kota. Ngurusin perkebunan teh di Bogor. Ngomong-ngomong kondisi kandunganmu bagaimana? Masih suka mual-mual, nggak?"


"Masih, Bun. Setiap jam sepuluh siang ke bawah selalu muntah-muntah. Ngidam kali ini agak beda dengan yang waktu itu. Lebih tersiksa! Untung Mas Farhan selalu sigap di rumah, jadi lumayan bisa membantu." Sambil menatap suaminya dengan bangga.


Mendengar itu bunda melirik Farhan yang baru saja duduk dengan mata sedikit sinis. "Ya memang harus begitu. Laki-laki harus tahu proses tersiksanya seorang istri dalam memperjuangkan anak di dalam kandungannya. Tidak hanya sekadar mau enaknya saja."


"Ehmm." Pria itu berdehem dengan mata melotot protes. "Aku tidak seperti itu, Bun."


Lisa hanya bisa tersenyum geli melihat anak dan ibu itu saling bersitegang. Padahal ia tahu betul bahwa keduanya saling sayang. Hanya karena masalah si kembar waktu itu, bunda masih sebal terhadap anaknya yang selalu ingin terlihat mampu mengurus segalanya itu.


"Oh ya, Bun. Si kembar belum tidur siang, 'kan? Lisa mau ketemu mereka sebentar, kangen banget!"


"Kayaknya si belum. Tadi bunda lihat masih pada ngerjain PR di kamar." Bunda melirik ke arah pintu kamar mereka berdua. Tidak seperti di rumah, di sini keduanya tidur di kamar yang sama. Hanya saja ranjang mereka terpisah.


"Ya, udah! Lisa ke kamar mereka sebentar ya. Itu tadi kita beli kue bakery kesukaan bunda yang di ujung perempatan. Dibuka saja Bun, mumpung masih anget."


"Ah, iya ... makasih banyak Lis. Kamu tahu saja kalau bunda lagi ngidam kue ini ...." Bunda segera membuka bingkisan yang Farhan letakkan di atas meja tadi, sementara Lisa langsung melangkah menuju kamar anak-anak.


Pintu terbuka pelan, tampak Cello tengah duduk di kursi belajarnya, sementara Cilla sudah terlelap di antara tumpukkan-tumpukkan boneka kesayangannya.


"Ell," lirih Lisa mengatung di depan pintu. Anak itu menoleh bahagia dan langsung memeluk Lisa.


"Bundaaa ...!" serunya. "Ell kangen!"


"Bunda juga kangen banget sama kalian." Tangan Lisa menerima pelukan erat dari Cello. "Kamu lagi apa? Kok belum tidur siang?"


"Tanggung Bun. Ello lagi ngerjain tugas tambahan dari bu guru. Minggu depan aku mau ikut lomba cerdas cermat, doain menang ya, Bun."


"Iya ... bunda pasti doain. Anak kesayangan bunda 'kan pinter. Pasti bisa juara." Lisa dan Cello lanjut duduk di tepian ranjang tidur. "Tapi kalian kapan mau pulangnya ... bunda kangen banget! Rumah jadi hampa kalau ngga ada suara berisik kalian berdua."


Wanita itu memasang wajah sedih. Membuat Cello mendongak tak kalah sedih juga. "Sebenarnya ada yang mau Ello omongin sama bunda dan ayah, sama Cilla juga, tapi Ell bingung harus ngomong dari mana dulu. Ell takut semuanya pada marah."


"Marah?"


Anak itu mengangguk penuh binar. Bibirnya sedikit berkedut dengan raut wajah takut.


"Mau ngomong apaan?" Lisa menyergah tak sabaran. Kali ini alisnya mengernyit keheranan. "Soal Malika, apa soal kamu yang belum mau disunat?"


"Bukan dua-duanya." Dia menggeleng polos. Rambutnya yang lurus halus ikut bergerak mengikuti gelengan kepalanya. "Kemaren Grandma sama Grandpa ke sini. Nengokin kita berdua."


"Terus?"


"Terus Grandpa bilang kalau aku adalah calon penerus perusahaan. Penggantinya papah Teddy. Jadi harus bisa menjadi harapan keluarga kalau udah besar." Anak itu menatap Lisa lebih lekat. Raut wajahnya tampak sedang memikirkan sesuatu yang sulit untuk dijabarkannya.


"Iya, bunda juga tahu kalau soal itu. Sementara ini perusahaan dibantu urus sama om William dan Grandpa. Nanti kalau sudah waktunya, kamu akan gantiin Granpa ngurus perusahaan juga. Masing-masing keluarga kita sudah mendapat jatahnya Sayang. Kecuali adek, baru kamu yang harus urus dia nanti. Terus Grandpa bilang apa lagi?"


"Grandpa nawarin aku buat sekolah ke luar negeri," jawab Cello sedih. "Artinya aku harus pisah sama kalian."


"Ya ampun!" Lisa memeluk tubuh Cello yang mulai bergetar. "Kamu jangan khawatir. Nanti bunda bilang ke ayah, biar ayah yang nyuruh Granpa batalin rencana itu. Jangan takut ya ...."


"Kamu serius? Amerika itu jauh Ell!" Kini gantian bahu Lisa yang mulai berguncang tak kuasa. "Tunggu tamat SMA dulu ya. Bunda masih pengin ngerawat kamu. Kasihan Cilla juga kalau ditinggal. Dia pasti sedih banget."


Keduanya refleks melirik Cilla di ranjang sebelah. Anak itu masih tidur terlelap seakan tak merasa terganggu dengan obrolan Cello dan Lisa.


Tadinya Lisa berpikir bahwa Cello akan merengek penuh penolakan. Tapi ia sungguh tak menyangka bahwa anak berusia delapan tahun itu sangat antusias ingin pergi belajar ke negeri orang. Pemikiran anak kecil itu memang beda sendiri. Kini justru Lisa yang merasa tidak rela. Ia mulai menangis seperti anak kecil yang tak mau ditinggal pergi ibunya.


"Bunda jangan nangis ...." Cello memeluk perut Lisa sedikit lebih erat. "Ell pengin cepet gede Bun. Pengin cepet pinter. Biar bisa jagain bunda sama Adek, sama dedek bayi juga. Ello mau jadi anak yang mandiri kayak harapan Grandpa."


"Tapi bunda ngga bisa jagain kamu kalau di Amerika. Bunda masih pengin ngurus kamu di sini, Sayang." Lisa bersikeras menolak keputusan anak itu. Lisa tahu persis watak Cello. Anak itu tidak pernah bercanda saat menginginkan sesuatu.


"Ell bisa pulang kalau libur sekolah. Bunda juga bisa jengukin Ell kalau ada waktu. Kata Granpa Amerika itu ngga jauh. Kita juga masih bisa komunikasi setiap waktu."


"Bagi bunda jauh Sayang. Kamu di sini aja bunda kepikiran terus, apalagi di Amerika. Pikirin lagi ya Sayang, sekolah-sekolah di sini juga banyak yang bagus lho. Ngga perlu jauh-jauh."


"Ell ke Amerika karena mau mandiri Bunda. Ello mau belajar jadi anak kuat, ngga mau jadi anak manja, karena Ell adalah harapan Grandpa satu-satunya sebagai pengganti papah."


"Ya ampun Ell, bunda ngga tau lagi harus ngomong apa. Bunda sedih banget dengar keputusan kamu .... " Air mata wanita itu semakin berderai hebat. Ketidakrelaaannya berpisah dengan sang anak begitu kuat. 


"Bunda jangan nangis, nanti Ello jadi ikut sedih."Anak itu mendongak penuh. Tangannya menggenggam jari-jemari Lisa untuk saling menguatkan. "Bantu Ell ngomong sama ayah ya, Bund. Nanti biar Ell ngomong sendiri ke adek. Dia pasti mau mengerti. Ini buat kebaikan kita bersama."


Lisa masih tak mengindahkan juga. Demi merayu Cello, omongannya mulai ngelantur pada hal-hal yang tak seharusnya diucapkan.


"Nanti bagaimana dengan Malika? Katanya kamu mau nikah sama dia? Kalau kamu pergi, Malika bakalan direbut sama yang lain," ujar Lisa berusaha mengompor-ngompori.


"Kata Malika jodoh ada di tangan Tuhan. Ello cukup berdoa aja biar Malika jadi jodohnya aku kalau udah gede." Lisa tertegun menelan saliva. Sepertinya anak itu sangat mantap dengan keinginannya. Sampai Malika saja tak dihiraukan.


Ah bodohnya Lisa. Kenapa pula harus membahas soal wanita dengan anak kecil seumuran Cello. Jelas anak seumuran itu belum memiliki cinta, hanya rasa sekadar suka yang tak berat-berat amat untuk dijadikan alasan ia pergi.


"Yang tahu kamu mau sekolah di Amrik siapa aja?"


"Baru Grandpa sama Bunda aja. Ello belum berani ngomong ke siapa pun. Bunda aja yang ngomong ke ayah."


Ya Tuhan. aku belum siap. Lisa meratap sedih seraya memandangi wajah polos perpaduan antara Reyno dan Jennie itu. Anak tertua yang paling dekat dengannya. Bagaimana bisa Lisa berpisah dengan anak itu?


"Bantu ngomong ke ayah ya Bun," rengek anak itu lagi. Lisa mengusap air matanya dengan berat hati.


"Nanti kita bahas sama-sama ya. Tapi kamu pergi bukan karena benci sama ayah dan bunda 'kan? Apa jangan-jangan kamu masih kesal karena sikap ayah akhir-akhir ini?"


"Engga Bund. Ello pergi belajar biar bisa membanggakan ayah dan bunda. Ello ngga marah sama sekali. Cuma kesel doang waktu itu. Tapi sekarang udah engga."


Mereka berpelukan kembali.


"Sebenarnya bunda belum rela kamu pergi, Sayang. Seperti ini juga bunda udah bangga banget."


"Ell mau lebih membanggakan lagi. Izinin Ell ya, Bun."


***


Hai semuanya. Apa kabar? Stay safe di rumah aja ya, jaga kesehatan semuanya.