
Farhan menatap Lisa dengan pandangan mata teduh. Ada binar sedih yang sulit diungkapkan menggunakan Lisan. Dan ia pun mulai bercerita sepenggal kisahnya di masa lalunya. Sebuah cerita yang menggores luka tak berbekas.
Luka yang berasal dari kematian. Di mana ada korban yang terjerat dalam kisah tersebut.
"Masa itu adalah masa-masa tersulit untukku. Duniaku seakan hancur, hingga aku menderita gangguan mental karena tidak menerima garis takdir yang direncanakan Tuhan."
Lisa terkesiap, lalu mencoba menerka kepiluan yang terlukis di wajah Farhan. "Apakah itu gara-gara Jennie dan Reyno meninggal?
"Bukan hanya itu." Ucapan Farhan terdengar tenang, akan tetapi bibirnya mulai bergetar seperti menahan sesuatu.
"Lalu karena apa lagi?"
Farhan menggengam kuat jari-jemari Lisa. Layaknya mahluk rapuh yang butuh dikuatkan. Ia pun merasakan hal itu sekarang. Butuh sandaran.
"Keluarga kami memang sangat terpukul saat Reyno dan Jennie pergi untuk selama-lamanya. Namun semua itu tidak berlangsung lama karena kami tahu bahwa menjemput maut bersama adalah keinginan mereka berdua. Sekitar dua bulan kemudian, semuanya sudah ikhlas dan keadaan pun kembali normal. Tapiβ"
Farhan menjeda ucapannya. Lehernya seperti dihimpit batu raksasa hingga kesulitan untuk bicara. Lisa masih diam terpaku menunggu cerita sang suami selanjutnya.
Tes!
Terperangah, Lisa terkejut bukan main saat lahar hangat menetes di tangannya. Tak membutuhkan waktu lama, wanita itu langsung menangkap sisi wajah Farhan. Mengindahkan permukaan wajah sang suami yang mulai basah perlahan.
Seberat apa masalah hidupmu sih, sampai kamu menangis di depanku seperti ini?
Lisa memeluk Farhan sekuat tenaga. Membiarkan pria itu menangis dalam pelukannya untuk pertama kali. Sesekali Lisa mengusap punggung Farhan untuk menenangkan jiwanya yang sedang rapuh.
Kini Lisa paham, laki-laki sekuat Farhan juga memiliki kelemahan dan bisa menangis. Ia merasa tidak enak karena telah membuka luka lama suaminya walau tidak disengaja.
Sebongkah rasa bersalah pun turut menyergap dada. Di mana semuanya sudah terlanjur menjadi bubur. Farhan sudah bersedia buka suara atas luka yang ia derita.
"Memangnya apa yang mereka lakukan? Apa mereka nakal?"
"Tidak!" Farhan menggelengkan kepala seraya mengusap jejak air mata. "Awalnya aku hanya penasaran mengapa mereka berdua sering mengurung diri di kamar, sehingga aku menyuruh orang untuk memasang CCTV di berbagai sudut kamar mereka. Sunggug tak kusangka, frustrasiku muncul sejak melihat tingkah mereka."
"Memangnya kenapa dengan tingkah mereka?" Lisa sangat penasaran, akan tetapi ia harus sabar dan membiarkan Farhan bercerita pelan-pelan.
"Para keluarga selalu mengajarkan pada si kembar, bahwa mereka harus ikhlas melepas kedua orang tuanya bersama Tuhan. Tapi, hal itu justru menjadi boomerang di pikiran mereka."
"Tanpa di ketahui siapa pun, mereka diam-diam berdoa di dalam kamar. Memohon pada Tuhan agar kedua orang tuanya dihidupkan kembali ke dunia. Mungkin terdengar biasa pada awalnya, tapi lama-kelamaan hal itu semakin jadi. Mereka sangat antusias setiap kali berdoa dan meminta. Mereka begitu percaya, bahwa Tuhan Yang Maha Baik akan mengembalikan kedua orang tuanya. Di situ aku mulai stress dan nyaris gila."
Tangis Farhan semakin pecah saat mengingat masa-masa sulit itu. Ia menjadi orang pertama yang tidak terima melihat anak berusia empat tahun itu ditinggal orang tuanya. Terkadang juga, Farhan merasa dunia sama sekali tidak adil. Kenapa harus anak sekecil itu yang menjadi korban atas kematian yang diciptakan Tuhan? Mungkin Farhan akan terima jika mereka pergi di saat si kembar sudah dewasa. Tapi ini ... empat tahun! Usia di mana mental mereka masih sangat polos. Sampai Farhan merasa khawatir dengan pertumbuhan kedua bocah itu untuk kedepannya.
"Aku sungguh tidak kuat melihat tangis mereka setiap hari. Semua itu terus berlarian di kepala. Aku tidak pernah lupa wajah polos dan tangis tulus mereka saat berdoa. Walau pun mereka tidak merengek di depanku, tapi aku tahu persis bahwa kematian orang tuanya mempengaruhi psikis kedua bocah kembar itu."
Suara parau Farhan terdengar semakin kacau. Lisa tak bisa berbuat apa-apa selain mendekap sang suami lebih dalam.
"Kematian mereka adalah bukti nyata bahwa harta dan kekuasaan yang aku miliki tidak ada gunanya sama sekali. Dari situ aku mulai berpikir, bahwa nyawa jauh lebih berharga daripada harta yang aku kejar selama ini. Sebanyak apapun uang yang dimiliki keluarga Haris, tak akan pernah bisa menghidupkan tokoh Reyno dan Jennie kembali. Saat itu aku hanya bisa kalap, lalu mengamuk karena tidak bisa menghadapi ketidak berdayaan untuk pertama kalinya. Uang? Benda itu tidak bisa berperan apa-apa ketika takdir sudah datang menyapa."
Lisa merasa tertampar. Ia teringat kedua orang tuanya yang telah berpulang kepada Tuhan. Ia tahu persis rasanya digunjing teman-teman seumurannya karena tidak punya orang tua. Ah, sakit ... rasanya sungguh sakit. Memangnya anak yatim atau piatu tidak pantas hidup? Sepertinya dunia ini bukan tempat yang aman untuk anak yang berbeda sepertinya. Hampir semua orang benci melihat anak yang nasibnya berbeda dengan anak lainnya. Mereka menolak kehadiran mahluk seperti Lisa.
"Ma-mas!" Lisa memanggil Farhan dengan bibir setengah gemetar. Gadis itu merasa tertusuk mendengar ucapan Farhan. "Cukup ceritanya, aku sudah tidak kuat lagi, Mas. Hatiku sakit sekali."
"Kini semua itu sudah berlalu. Aku sudah menemukan setitik cahaya untuk bangkit kembali. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk mempercayai komitmen dengan wanita dan memikirkan pernikahan. Mungkin hanya dengan itu, hidup kedua bocah yang ditinggalkan orang tuanya bisa kembali normal."
***
πππ