
Beberapa menit sebelum kejadian.
Pagi itu, adalah hari terberat yang akan menjadi keputusan seorang Rico. Pria itu mengatur napas dan ekspresi wajahnya beberapa kali sebelum memulai hari.
Mendongak dengan rahang tegas yang memperkokoh wajahnya, Rico berjalan dengan niat mantap. Memasuki ruang kerja yang biasa dihunii ia dan Farhan setiap harinya. Pria itu membawa berkas dan beberapa dokumen yang telah ia siapkan sekitar satu bulan yang lalu.
"Selamat pagi, Tuan." Sapaan halus itu keluar dari bibir Rico saat pintu baru saja ia buka. Pria itu lekas duduk di hadapan Farhan, lalu meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja kerja bossnya.
"Ada apa dengan wajahmu?" Farhan mulai curiga saat melihat raut muka tak biasa tersiratkan di wajah Rico. Pria itu langsung menatap lurus ke arah Farhan, tak mau basa-basi lagi, Rico pun langsung menjelaskan keniatannya itu,
"Sebelumnya saya minta maaf Tuan, mungkin ini adalah keputusan terberat yang pernah saya ambil dalam sejarah hidup saya. Sebenarnya—" Rico menggantung ucapannya. hatinya teramat sakit, bibirnya seketika kelu. Jantungnya berdegub kencang serasa dipukul palu. Entah kenapa, keniatan yang ia sudah pikirkan selama semalaman suntuk hilang ditelan keguguppan.
"Apa maksudmu!" Satu tangan sudah memangku dagu, Farhan melirik dokumen rahasia yang terbalut amplop berwarna cokelat. Cukup mencolok dan membuat pikirannya tertuju.
"Dokumen apa yang kau bawa?" Dia bertanya sambil melihat dokumen itu. Mata hazelnya menyipit, penasaran dengan isinya.
Rico semakin berat, seolah ia akan segera melepas kehidupannya saat ini juga. Namun, ia tetap menjawab apapun yang terjadi. "Dokumen itu adalah data karyawan baru, Tuan," jawab pria itu dengan suara tidak nyaman.
"Karyawan baru?" Farhan mengernyit, heran. "Apa hubungannya karyawan baru denganku, biasanya kau juga langsung merekrutnya tanpa memberitahuku terlebih dahulu." Farhan sudah mengambil pena untuk menandatangani beberapa berkas yang sudah menumpuk dari kemarin. Matanya tertunduk, mulai fokus pada pekerjaannya.
Rico mengembuskan napas dalam-dalam. Lalu menjawab dengan satu tarikkan napas mantap. "Dia adalah kariyawan yang saya rekrut untuk menggantikanku, Tuan."
Farhan sontak mendongak.
Pulpen terjatuh layaknya adegan di sinetron. Pria itu membelalak dengan tatapan yang menusuk tajam. Membunuh, seolah tembus langsung sampai ulu hati terdalam Rico.
"Apa kau sudah gila?" Pria itu membungkuk, mengambil pulpen yang jatuh di kolong dengan tangan gemetar. Lalu ia beranikan diri menatap Rico lekat-lekat, napas sengaja diatur setenang mungkin untuk menutupi berbagai rasa yang berkecamuk.
"Katakan saja apa yang kau mau, aku pasti akan memberikannya untukmu. Tidak perlu mengancamku dengan hal yang menijikkan." Farhan masih mencoba menampik segala kemungkinan buruk itu. Berusaha tetap positif bahwa semua yang Rico ucapkan hanyalah candaan.
"Jangan gila, Rico! Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Kau sendiri sudah berjanji bahwa kau akan terus berada di sampingku." Farhan mengingatkan kalimat yang dulu pernah Rico ucapkan jika pria itu lupa. Farhan tidak akan pernah lupa akan hal itu, ia mengingat jelas setiap kata yang Rico katakan, sebuah kalimat bermotif janji yang mampu memperkokoh hidup Farhan sampai ia berada di titik sekarang.
Maafkan aku, Tuan. Aku sudah tidak memiliki pilihan lain selain mengambil jalan ini. Seperti yang Rico duga, Farhan tidak mungkin melepaskan Rico dengan mudah. Apalagi kepergiannya akan menjadi awal yang buruk untuk hubungannya dengan Farhan.
"Kembalilah ke mejamu Rico." Farhan masih berusaha sabar atas ucapan Rico yang masih ia anggap sebagai permainan.
"Maafkan saya sekali lagi Tuan, dengan berat hati saya harus mengingkari janji saya di masa lalu. Saya harap Tuan mau memaklumi."
Rico menatap Farhan seraya tersenyum. Manik matanya mengandung jejak keseriusan, membuat Farhan nyaris gila mendengar ucapannya.
"Sudahlah, kembali lagi ke mejamu, aku tidak ingin bercanda sepagi ini." Dia mengalihkan pandangannya pada layar laptop lagi. Mencoba menutupi getar takut yang menggerogoti jiwa sedari tadi.
"Mengertilah Tuan, saya serius! Bulan ini adalah terakhir kalinya saya bekerja dengan Anda. Semoga—"
Prang!
Gelas kaca yang Farhan lempar ke dinding membuat nyali Rico menciut seketika. Belum sempat ia menyampaikan pesan kesan beserta doa untuk Farhan. Namun Farhan sudah mulai merajut garis permusuhan dengan dirinya. Rico dapat membaca raut murka luar biasa di wajah pria itu. Tanpa senjata, mata itu mampu membunuh sekujur tubuh Rico saat ini juga.
"Berhenti membahas hal tidak masuk akal seperti itu Rico, aku akan menganggap kau tidak pernah mengatakannya sama sekali."
Dengan angkuh, Farhan mengalihkan pandangannya ke segalah arah. Mencoba mengumpulkan kesadaran yang mulai berhamburan.
***
Hari ini aku Crazy up, jangan lupa like setiap bab dan kasih komen ya... 🙏🙏🙏