
Hai ... selamat datang di season keduanya HELLO, MY BOSS! Aku satuin di novel ini ya, biar gampang nyarinya. Berikut adalah judul dari season keduanya.
SETULUS CINTA KITA
Terima kasih sudah mengiringi perjalanan Lisa dan Farhan. Mari kita lanjut pada rana konflik yang lebih serius dan penuh dengan kebucinan seperti keinginan kalian.
Prolog :
Kita nikah bukan hanya sekedar mereproduksi bayi saja! Begitulah nasihat Farhan setiap kali Lisa teringat masa kelamnya dua tahu lalu. Bayi tampan yang ia lahirkan meninggal tepat di usianya yang ke delapan hari karena lahir prematur dan terdapat kegagalan pada saluran pernapasan . Hingga sampai detik ini, Tuhan belum memberikan kepercayaan lagi pada Lisa dan Farhan untuk memiliki momongan baru.
Tak dinyanya, karakter Farhan yang biasanya suka menuntut menjadi pihak yang paling sabar menghadapi konflik ini. Ia terus mendukung Lisa dan tidak pernah mempermasalahkan soal kehamilan kedua yang tak kunjung datang juga.
*
*
*
(2 Tahun Kemudian)
Tring ...
Dering ponsel membangunkan Lisa dari kesibukannya memeriksa lapor kerja akhir bulan para karyawannya. Kini ia sudah tidak lagi menjadi sekretaris Farhan, melainkan beralih dan menjabat sebagai direktur utama di perusahaan almarhum ayahnya yang sudah bergabung menjadi anggota cabang Revical Group.
Farhan sengaja melepas Lisa karena ambisi dan potensi gadis itu. Walau berat, ia membiarkan Lisa meraih cita-citanya sejak kecil. Yaitu meneruskan bisnis keluarga ayahnya di bidang properti.
Tring ... Tring.
Bunyi ponsel itu tak mau berhenti. Membuat Lisa terpaksa bangkit dan mengambil gawai yang ia letakkan di atas meja dekat sofa.
"Siapa sih?" Lisa menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang biasa ia pakai untuk menerima tamu khusus di ruangannya. Mata wanita itu melotot seketika saat mendapati nama Farhan tertera pada layar ponselnya. Buru-buru ia mengangkat panggilan Farhan sebelum batu bernapas itu mengamuk dari balik sana.
"Hai, Sayang." Senyum bercampur kikuk mengulasi bibir tipis Lisa.
"Aku sudah ada di depan ruanganmu. Ayo cepat buka! Apa yang kau lakukan di dalam sana, heh." Suara Farhan terdengar marah sampai Lisa merinding ngeri.
"A-apa ... apa?" Darah Lisa berdesir seketika. Semua syaraf dan anggota tubuhnya ikutan panik mendengar kabar buruk itu. Buruk, karena Lisa tidak menyambut Farhan dan membiarkan pria penting itu berjalan dari lobi sampai naik ke lantai 7 sendirian.
Mati aku ....
"I-iya sayang. Aku buka ...." Lisa langsung berlari membukakan pintu. Di mana ada wajah garang Farhan yang tak pernah luntur sejak tahun monyet. Pria itu menatap Lisa nyalang, seakan ingin memakan objek di depannya bulat-bulat.
"Apa yang kau lakukan di ruangan ini?" Farhan menerobos masuk ke dalam tanpa dipersilakan. "Mana ponselnmu?"
Belum sampai hati Lisa menjawab, pria itu sudah mengulurkan tangannya.
"I-ini ...." Dia memberikan ponselnya pada Farhan dengan perasaan ketar-ketir. Please jangan dibanting ya anak manis.
Farhan menatapi ponsel Lisa sambil memutar benda pipi itu menggunakan jari. "Sepertinya ponselmu tidak rusak, ya. Kenapa lama sekali mengangkat panggilanku?" Matanya kembali beralih pada Lisa yang berdiri gugup di depannya.
"Ah, apa karena ponselmu terlalu kentang sampai proses mengangkat panggilanku harus loading lama?" Sambil meninggikan satu alisnya, Farhan berbicara dengan nada sinis yang mengarah pada keangkuhan.
"Em, aku tadi masih sibuk memeriksa laporan, Mas!" Padahal ponsel itu sudah Lisa angkat sebelum panggilan berakhir, tapi semua penjelasan seolah tidak berlaku bagi seorang Farhan Budiman, karena ia adalah spesies aneh yang tidak mau mendengar ada bunyi 'tut' tiga kali setiap kali menunggu panggilan telepon.
Pria itu masih berdiri kaku, membuat Lisa mengeluarkan jurus rayu pada akhirnya. Lisa menggandengan tangan Farhan hati-hati. Mengajaknya duduk di sofa sambil pura-pura membenarkan dasi Farhan yang sedikit miring. "Duduk dulu yuk, Mas! Ke sini sama siapa?"
"Apa kamu lihat ada orang lain selain kita di sampingku?" Menjawab angkuh pertanda masih kesal.
"Hehehe. maksudku tumben banget datang ke kantorku di jam makan siang yang panas dan terik seperti ini?" Lisa membenarkan ucapan dengan menambahkan senyum manis sebanyak-banyaknya. Kemudian mengedipkan mata genit dua kali bolak-balik.
"Cih!" Farhan berdecak sambil mendudukkan tubuhnya di sofa dengan gestur malas. "Kau pasti lupa!"
Satu hal yang harus Lisa pahami. Ketika Farhan berbicara dengan kata 'kau': artinya ia masih kesal. Lisa butuh usaha lebih keras lagi agar amarah pria itu cepat padam.
"Memangnya kita ada janji makan siang bareng?" Bertanya karena bingung. Wajah bodohnya terus dipertontonkan sebab merasa tidak memiliki janji apa pun dengan si batu keramat itu.
Farhan mulai memejamkan mata. Menandakan bahwa kesalnya sudah mencapai puncak nirwana. Sambil memijit pelipisnya, ia tampak menggeram beberapa kali seperti macan.
"Sayang, jangan seperti itu." Lisa sudah panik melihat ekspresi Farhan yang diam-diam menghanyutkan. "Tolong kasih tahu di mana salahku."
"Mendekat padaku." Satu gertakkan Farhan lebih dari cukup untuk membuat bulu kuduk Lisa berdiri minder.
"I-Iya ...." Wanita itu memajukan posisi duduknya hingga jarak mereka terpangkas dan bisa merasakan hangat napas masing-masing. Tinggal sedikit lagi, wajah mereka dapat menyatu sempurna.
"Happy anniversary."
Astaga!
Seketika itu juga lutut Lisa terasa lemas. Ia baru ingat bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga tahun.
Mati, mati, aku benar-benar lupa bahwa bulan ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami.
"Kenapa diam?" telisik Farhan sambil memperhatikan wajah Lisa yang sudah berubah pucat pasi. "Kamu sedang berjuang mencari alasan untuk membohongiku, 'kan?"
Tebakkan Farhan sukses menghadirkan telak mematikan untuk Lisa. Bahwa wanita itu sudah tidak ada kesempatan berbohong atau mencari pembelaan apa pun saat ini. Dan Lisa pun terpaksa jujur, "Maaf. Aku benar-benar lupa kalau ini adalah hari jadi pernikahan kita, Mas. Jangan marah ya, ampuni aku kali ini saja. Please ... please."
Tangan Lisa tertaut di depan muka. Sambil minta ampun banyak-banyak agar pria asam manis di depannya segera luluh.
Pria itu menjawab malas. "Kali ini kau kuampuni. Jangan pernah ulangi kesalahan seperti ini sesibuk apa pun."
"Serius diampuni, Sayang?
"Hmmm." kemudian merogoh saku celananya sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. "pakai ini, tadi iseng beli di jalan."
"Eh?" Lisa menatap kotak beludru yang Farhan letakan di atas pahanya. Benda itu tampak cantik dengan hiasan manik-manik perak di pinggir pinggirannya. "Ini apa?"
Hawa lega bercampur bahagia menyeruak di dada wanita itu.
"Buka saja." Farhan berbicara angkuh tanpa ada romantis-romantisnya, tapi hatinya terus berdetak cemas, takut Lisa tidak suka dengan hadiah yang ia berikan.
"Oke. Aku buka ya ... sebelumnya makasih atas kadonya. Padahal aku belum kepikiran mau memberimu hadiah apa." Lisa mengulas senyum geli, kemudian memamerkan deretan gigi putihnya yang berjajar rapi. "Kira-kira isinya apa ya ...."
"Akhp!"
Wanita itu terkesiap saat melihat gelang kaki edisi langka yang sangat diincarnya belakangan ini. "Dari mana kamu tahu kalau aku mau ini?"
Eksrepsi Lisa mendadak girang seketika.
"Jangan berlebihan, itu hanya benda biasa yang kubeli karena iseng di pinggiran jalan." Wajah Farhan merona saat mengatakannya. Jelas aura kebohongan tampak nyata terpancar dari sorot mata pria garang itu.
"Mana mungkin kamu beli gelang limited edition ini karena iseng. Aku tahu loh kalau gelang kaki ini hanya bisa di beli di lima negara tertentu. Dan Indonesia tidak termasuk ke dalam daftar negara tersebut," goda Lisa dengan ekspresi bahagia luar biasa. Soalnya, ini adalah pertama kalinya Farhan berinisiatif memberikan kado di hari jadi. Biasanya tidak pernah sama sekali.
"Katakan padaku, berapa lama kamu mempersiapkan kado untukku? Karena PO gelang kaki itu saja bisa memakan waktu paling sebentar tiga bulan, lho." Rasa penasaran wanita itu semakin jadi. Meski gaya Farhan sangat kaku, namun Lisa merasa pria itu romantis parah. Entah ia yang kegilaan atau apa, tapi Lisa sangat gemas dengan gaya dan tingkah manis-manis kaku pria itu.
"Bukan urusanku. Tanya saja Alex, dia yang mempersiapkannya." Nama pria yang tidak ada sangkut pautnya pun ikut disebut. Padahal Alex sama sekali tidak tahu menahu mengenai hadiah itu.
Ah Parlan, kenapa dari dulu kamu susah sekali mengakui kebucinanmu, si?
...***...
...Bantu kasih sambutan lewat komen, hadiah poin kopi dan bunga ya. biar aku ceneng. Makasih semuanya. Semoga kalian sabar melewati proses cerita Lisa dan Farhan....