
"Bagaimana perkembangan Cilla, Bun?" Lisa bertanya selagi Farhan mengajak kedua anak kembar itu bermain. Mereka berdua sedang berada di dapur bersama asisten rumah tangganya. Menyiapkan berbagai makanan untuk persiapan makan siang nanti.
"Bunda sedang berusaha membuat Cilla berpihak padamu. Sabar ya, anak itu agak susah. Kotak yang kamu berikan juga belum disentuh oleh anak itu." Tangan bunda memasukkan potongan wortel dengan cekatan. Mengaduk kuah sup itu sambil mencicipi kuahnya sedikit. Kepulan asal beraroma sedap itu menyeruak, membelai bulu-bulu hidung Lisa dengan manjanya.
Bunda menatap Lisa yang sedang termenung kecewa. "Jangan pikirkan anak-anak, lebih baik perbaiki hubunganmu dengan suamimu terlebih dahulu, Lisa."
"Eh." Lisa terlonjak kaget. Matanya menatap bunda sedikit bingung. "Maksudnya bagaimana, Bun?"
"Kamu dan Farhan! Perbaiki hubungan kalian agar seperti suami istri normal," telak bunda tanpa basa-basi.
"Eum. Iya, Bun!" Lisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Kok Bunda bisa tahu kalau hubunganku dengan tuan Farhan kurang baik?"
"Ishkk!" Ada jeweran keras mendarat di telinga Lisa. Wanita itu mengaduh sambil memperhatikan netra bunda yang melotot sebal ke arahnya.
"Kok dijewer sih, Bun," ringis Lisa seraya mengusap telinganya yang terasa panas.
"Kamu itu sudah besar, tapi masih saja oon! Tentu saja Bunda bisa tahu, dari panggilanmu saja sudah jelas. Mana ada seorang istri yang memanggil suaminya dengan sebutan tuan," kritik bunda geregetan.
"Itu namanya panggilan sayang, Bun. Tuan Farhanku yang budiman," ledek Lisa sambil bergelayut manja di pundak bunda.
"Dasar bocah nakal! Taruh tempe goreng ini di meja makan sana," suruh bunda sambil melipat bibirnya ke dalam. Menahan agar tidak tersenyum dengan tingkah nakal menantunya.
"Iya Bundaku sayang," balas Lisa sambil menyomot satu buah tempe dari piring yang baru saja ia terima. "Nyobain satu ya, Bun." Anak itu berlalu pergi sambil mengunyah tempe goreng di mulutnya.
Lisa memang sedekat dan seberani itu dengan bunda. Tak ada perbedaan dari dulu hingga sekarang. Bunda Lynda selalu memperlakukan Lisa selayaknya anak kandung sendiri dari dulu. Bahkan, kehadiran anak itu mampu meredakan rindu Lynda pada almarhum anaknya ... Jennie.
Berjalan pelan, Lisa menaruh sepiring tempe goreng di atas meja makan. Lalu mengambil gelas dan melangkah menuju dispenser air.
"Yah, abis!" keluh wanita seraya merengut masam. Diambilnya galon yang ada di bawah mesin dispenser untuk menggantinya dengan yang baru.
"Galon isi ulangnya di mana ya?" Lisa mengedarkan pandangannya sambil menenteng galon kosong di tangan. Lalu melihat ke rak besi yang berisi dua persediaan galon.
"Kok naruhnya jauh banget, sih?" Kesal, Lisa melangkah dengan hentakan kaki cukup keras. Menaruh galon kosong dan merangkul galon barunya dengan kedua tangannya. "Berat!" sungut Lisa sambil menghela kasar.
"Kalau berat minta tolong!" seru Farhan dari belakang Lisa.
"Eh, aku kuat kok?"
"Apanya yang kuat, kau pikir aku tidak melihatmu yang begitu kesusahan saat mengangkat galon itu? Dasar lemah," ejek Farhan. Lisa yang merasa kesal langsung menjawab tak kalah jahat dengan mulut Farhan.
"Biarpun aku tidak kuat mengangkat galon, tapi aku mampu membuat statusmu berubah dari jomlo abadi menjadi seorang suami. Hebat kan," sindir Lisa sok bangga.
"Cih!" Farhan mendengkus tanpa berkomentar. Pria itu langsung mengambil galon yang ada di rak besi. Lalu menjulangkan benda itu ke atas bahu.
"Woah suamiku hebat," puji Lisa heboh sendiri.
Wanita itu berjalan ke arah Farhan. Menerima uluran segelas air putih yang baru saja Farhan tuangkan. "Makasih Suamiku." Lantas meminumnya hingga tandas.
"Lain kali jangan sok kuat! Jika galon itu jatuh mengenai tubuhmu, aku juga ikut repot dan harus membawamu ke rumah sakit," gerutu Farhan sok menasihati.
"Iya! Iya," balas Lisa.
"Mau ke mana!" Lisa menarik baju Farhan saat pria itu hendak pergi. Dengan ketusnya Farhan menjawab,
"Mau ke ruang bermain."
"Peluk aku dulu," rengek Lisa tidak tahu malu. Setelah mendapat dukungan penuh dari bunda, Lisa memberanikan diri untuk mengajak Farhan melakukan hal-hal kecil yang memicu kedekatan antar hubungan suami istri.
"Aku mau peluk!" rengek wanita kecil itu.
Dasar tua bangkotan, apa Anda tidak paham arti kata uwu? Aku sedang ingin dimanja, Bodoh! batin Lisa kesal.
"Ah, kamu sedang kesurupan sepertinya." Farhan hendak berbalik karena malas meladeni, namun buru-buru Lisa menarik lengan pria itu hingga tubuh mereka bersatu.
"Peluk aku sebentar," lirih wanita itu. Kedua tangannya merangkul Farhan dengan kepala yang disandarkan ke depan dada.
Jika Farhan tidak peka, maka Lisa harus merubah manusia planet itu agar layak disebut sebagai suami. Dan tekat Lisa sudah sangat bulat untuk membangun istana uwu di hati Farhan.
Hanya panggilan yang masih belum terpecahkan. Lisa bingung harus memanggil Farhan dengan sebutan apa. Yang enak dan pantas untuk lelaki berumur tiga puluh dua tahun tentunya.
"Makasih," ucap Lisa saat Farhan membalas pelukkanya.
"Jangan lama-lama," balas Farhan sedikit jaim.
Lisa masih bergelayut manja, enggan melepas pelukannya sama sekali. Untungnya ruangan itu cukup sepi. Cilla dan Cello sedang asik menonton kartun kesukaannya di ruang bermain.
"Aku mau minta cium dulu sebentar?"
"Jangan gila Lisa, lepas!" gertak Farhan mulai kesal.
"Cium aku sedikit, baru mau lepas."
Farhan mendengkus dengan deru napas yang semakin tak beratutan. Karena menahan rasa kesal sekaligus emosi. "Ini tempat umum. Jangan aneh-aneh."
"Tidak ada orang, sekali saja, aku butuh amunisi," rayu Lisa tak mau tahu.
"Kalau begitu kamu saja yang menciumku. Kenapa harus aku?" Farhan melengos, menyembunyikan rona merah pada pipinya.
Lisa menatap Farhan cengo. Masih menyebalkan, tapi lumayan untuk perkembangan manusia batu itu.
"Dekatkan wajahmu, Tuan." Lisa menangkup wajah Farhan. Bagai kerbau yang di sentil hidungnya, Farhan mengikuti kemauan Lisa hingga posisinya sedikit membungkuk.
"Tutup matanya, ikh," decak Lisa malu-malu.
"Memangnya kenapa? Aku ingin melihat." Farhan menolak.
"Bukan begitu cara mainnya, Anda harus tutup mata agar kita semakin menghayati," tutur Lisa geregetan.
"Tidak mau." Farhan bersikeras menolak. "Aku lebih suka membuka mata. Bisa melihat langsung cara kerjamu."
"Dasar suami aneh!" seru Lisa, wajahnya merona merah seperti udang rebus. Ia melepas pelukkannya pada tubuh Farhan seraya berkata,
"Aku gak jadi minta cium," tukas Lisa sebal. Wanita itu meninggalkan Farhan sambil menghentakkan kaking ke lantai—kesal.
Farhan tersenyum siput sambil memandangi tingkah Lisa.
"Apa gunanya punya mata kalau tidak dipakai untuk melihat?" gumam Farhan sambil berkacak pinggang.
***
Yang nanya konflik atau sesuatu yang greget, maaf ya. Ini hanya cerita kacangan yang kubuat senatural mungkin. Jadi ya mengalir aja kek keseharian, gak ada yang aneh-aneh di awal. Adapun nantinya aku kasih konflik, itu hanyalah konflik manusiawi sewajarnya. Gak ada drama ikan terbang. Ini si pandanganku.
Jangan Lupa Vote biar aku semangat nulisnya.