HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Pergulatan Ranjang



"Kamu beneran gak mau mandi sama aku, Mas?" Lisa kembali menawari Farhan dengan gaya centil ciri khasnya. Pria itu menggeleng samar. Di mana Lisa melempar juluran lidah mengarah jengah.


Farhan mengernyitkan dahi sambil membuka kemeja putihnya, menyisakan kaos putis polos yang masih melekat di tubuh. "Sudah kubilang masih panas, kamu saja dulu." Lantas keluar dari kamar. Pergi ke balkon untuk melihat siapa yang datang.


Tak lama kemudian, seseorang menekan bell kamar. Lisa berjalan pelan sambil mengangkat gaun pengantin yang cukup berat, lantas membukakan pintu untuk orang yang menekan bell pintu.


"Selamat siang, Nona. Kami hendak mengantarkan makan siang," ucap petugas hotel tersebut.


"Ah kamu ya, kukira siapa ... silahkan masuk." Lisa menyeret gaun pengantinya ke samping. Memberi akses jalan untuk petugas hotel tersebut masuk dan menaruh aneka makanan di atas meja.


Setelah pelayan itu pergi, Lisa menutup pintu kamar. Lalu bergegas ke kamar mandi tanpa mengunci pintunya terlebih dahulu—ia kelupaan.


Kegiatan berlanjut, Lisa mandi dan membasuh tubuhnya sekitar setengah jam. Harus benar-benar bersih dan wangi. Karena ini adalah hari spesial. Bukan tentang acara resepsi atau malam pertama susulan, tapi karena ini adalah anniversary pernikahannya dengan Farhan yang ke dua bulan. Harus dibuat berkesan dan dibedakan sedikit. Agar rumah tangganya berubah menjadi lautan gulali nanti malam.


Setelah selesai mandi, Lisa keluar dengan lilitan handuk yang membalut tubuh indahya. Punggung mulusnya terpampang, ia hendak menggoda Farhan. Namun alangkah terkejutnya Lisa saat pria yang berdiri di depannya bukan Farhan. Melainkan orang yang memukulnya dengan bunga di pelaminan tadi.


"Aaaaaaa." Sontak ia berteriak saat melihat orang asing masuk ke dalam kamarnya. Lalu pergi menutup pintu kamar mandinya kembali.


"Sial sepertinya aku salah kamar," gumam si penyusup sambil menggusar rambutnya ke belakang.


Farhan yang sedang menikmati angin sepoi-sepoi dari dalam balkon langsung berlari begitu mendengar teriakan Lisa.


"Apa yang kau lakukan di kamarku, Tuan Skala?" Farhan menyergah tanpa basa-basi.


Mendapati Skala berada di kamarnya, Farhan berubah menjadi seekor srigala, mengingat perbuatan laki-laki itu yang hampir menciderai istrinya tadi jelas ia masih sangat emosi.


"Lepas! Lepaskan! Kamu salah paham!" teriak pria itu. Takdir seolah sedang berpihak pada Farhan, setelah emosi di acara resepsi tadi, akhirnya ia dapat melampiaskan semua kemarahannya pada si target—Skala Prawira. Waktunya berubah wujud menjadi—aing macan dan memakan Skala bulat-bulat.


"Duh, bagaimana ini?" Lisa yang berada di kamar mandi kebingungan. Karena ia tidak membawa baju ganti, Lisa hanya bisa mengintip dari cela kamar mandi. Wanita itu tidak takut suaminya babak belur, tapi ia takut Farhan murka dan membunuh Skala. Apalagi pria itu bukan tandingan Farhan yang setara dengan Fir'aun.


Selain menambah populasi janda, Lisa juga tidak mau punya suami yang mendekam di penjara. Lisa terus mondar-mandir mencari solusi. Kukunya sampai patah karena ia gigit kuat-kuat.


Sementara pergulatan yang ada di luar kamar mandi semakin memanas. Farhan yang menguasai tehnik beladiri, unggul satu kosong dari Skala Prawira.


Skala sadar, jika tidak segera membalas, ia akan mati ditangan Farhan yang sudah berkamuflase menjadi Wiro sableng. Akhirnya, tangan Skala berusaha menggapai-gapai ke belakang, Ia mencari pusat gagang gayung berharga milik Farhan. Diremasnya aset itu sekuat tenaga sampai Farhan menjerit kelojotan. Tak ada hal lain yang bisa Skala lakukan selain menyerang titik kelemahan Farhan.


"Arghhh!"


Sekujur tubuh Farhan mendadak lemas seperti kesetrum ikan listrik. Bahkan ia tak yakin, apakah gagang gayungnya masih bisa beroperasi nanti malam.


Farhan yang merasa tidak terima bangkit seketika. Skala juga ikut bangun melawan Farhan dengan kemampuannya sebisa mungkin. Mereka mulai bergulat seperti petinju profesional di atas ring pertandingan. Farhan mendorong Skala ke tempat tidur, dikungkungnya tubuh Skala dengan buas.


Ia menecekik leher cucu kesayangan Prawira di atas tumpukkan bunga. Peluhnya menetes, membasahi Skala yang ada di bawah kungkuhannya.


"Sial! Apa kamu ingin membuat aku tidak bisa memiliki keturunan?"


***


Jangan lupa kasih Like, komen, bunga, dan vote setiap seminggu sekali ya, gengs.