HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Tiga Manusia. (boncap 1)



Tiga manusia bodoh sedang mengantri di ruang tunggu selagi Lisa menjalani tes dan pemeriksaan di ruang OBGYN. Ini sudah kesekian kalinya Cello dan Cilla terus bertanya kapan dedek bayinya akan keluar. Di mana Farhan nyaris membentak dua bocah ngotot itu andai tidak di tahan-tahan sedari tadi.


“Jadi cembilan buyan tuh yama ya, Yah? Ada belapa jali?” Pertanyaan yang keempat kali meluncur dari bibir si manja Cilla.


“Hmmm. Jari-jari temanmu satu kelas tidak akan cukup untuk menghitungnya.” Farhan si batu bernapas menjawab simpel dengan ekspresi yang sudah diatur sedikit lebih lembut menurutnua. Kata orang, anak kecil yang suka bertanya artinya pandai, menandakan bahwa dia memiliki keingintahuan yang tinggi dalam berbagai aspek pembelajaran, tapi masalahnya … otak Farhan yang tengah kalut sungguh tidak bisa diajak berceloteh ria seperti ini. Pria itu benar-benar khawatir pada calon ibu yang sedang menjalani beberapa tes di ruang sana. Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia takut? Aigh! Kenapa jarum jam begitu lama berputar? Farhan bisa gila dadakkan kalau begini caranya. Farhan mulai mondar mandir tidak jelas.


“Ayah kenapa puter-puter terus dari tadi? Ello pusing liat Ayah.”


“Humm … Humm. Cilla uga puciing,” ujar anak itu ikut-ikutan.


Farhan menoleh malu, lalu berjongkok sambil memegang kedua tangan mungil si kembar untuk mencari titik nyaman dengan memandang dua titisan Reyno dan Jennie. “Ayah tidak kenapa-napa. Bolehkah ayah bertanya?”


“Humm … humm.” Dua anak itu mengangguk. Jejak matanya yang polos membuat Farhan sedikit teralihkan dari sang istri.


“Apa nanti kalian berdua benar-benar akan menyayangi bunda Lisa dan calon dedek bayi? Ayah takut kalian berdua bosan,” tanya Farhan iseng. Senyumnya lepas bersama dua tangan yang mengelus dua puncak kepala mereka berdua.


“Iya cayanglah, Ayah. Gak akan bocand!” Bibir Cilla manyun tak senang mendengar pertanyaan sensitif seperti itu. “Ello juga sayang dong!” lanjut Cello.


“Eukh! Peltanyaan Ayah Hanhan gak aciik!” Dua alis gadis kecil itu menukik, jutek. Ia paling tidak suka ditanya sesuatu yang sudah jelas jawabannya apa. Meskipun bicaranya masih cadel, tapi daya tangkap otak dari jelmaan papa Teddy tidak perlu diragukan lagi kualitas pekanya seperti apa.


Farhan yang merasa jengah tersenyum siput. “Kalau begitu doakan bunda dan dedek baik-baik saja sampai dia lahir ya,” ujar Farhan. Mereka berdua mengangguk sebagai bentuk jawaban.


Pintu terbuka bersama langkah sepatu pantofel yang bergerak seirama. Asisten dokter keluar untuk memanggil calon ayah yang sedari tadi tak hentinya mengkhawatirkan keadaan sang istri. “Atas nama Tuan Farhan.”


“Ya.”


“Silakan masuk ke dalam, Tuan. Pemeriksaannya sudah selesai.” 


“Terima kasih, saya akan menyusul.” Farhan segera berdiri dan memanggil dua baby sitter yang duduk tak jauh dari posisi mereka. Lalu merayu si kembar agar jangan ikut masuk ke ruang konsultasi. “Ayah masuk ke dalam dulu ya, kalian berdua ke kafetaria bersama bibi, nanti kalau sudah selesai ayah akan menjemput kalian berdua di sana.”


Cello berceletuk, “Yah, kan kita mau ikut masuk yah.” Tentunya kalimat protes yang Farhan dengar dari dua bocah itu. “Cilla mau iyat bunda yah, mau iyat dedek bayi uga tapinaa.”


“Dedek bayinya belum bisa dilihat. Kan baru saja datang,” ujar Farhan. “Nurut ya sama ayah, kalian berdua tunggu sama bibi. Kasihan bundanya, loh, biar bisa cepat pulang.” Farhan masih berusaha mencegah karena ada banyak hal yang ingin dia bicarakan di dalam. Yang jelas tidak akan bisa leluasa jika ada telinga-telinga polos si kembar.


“Ya udah deh, tapi kita boleh beli es krim, kan, Yah?” tanya Cello mencari kesempatan. Farhan yang kurang suka makanan manis terpaksa mengangguk.


“HOREE!” Mereka berdua berteriak girang. Lantas berlari ke arah bibi asuh yang sedari tadi tersenyum melihat tingkahnya.


***


Kandungan Lisa dalam keadaan sehat. Ternyata wanita itu sudah mengandung selama dua bulan lebih. Terlalu sibuk membuat Lisa lupa, bahwa ia sudah lama tidak merasakan datang bulan.


Setelah periksa dan melakukan beberapa konsultasi mengenai kehamilan, Farhan dan Lisa melajukan mobilnya kembali ke rumah. Sementara si kembar sudah di bawa pulang oleh mami Dina yang menyusul ke rumah sakit karena mengkhawatirkan keadaan Lisa.


"Iya. Maaf karena aku tidak paham soal kehamilan. Untuk dia dalam keadaan sehat. Kalau tidak aku akan merasa sangat bersalah karena telah menyadari kehadirannya."


"Tidak papa, Mas. Ini bukan salahmu, tapi karena kita yang belum terlalu mengerti perihal hamil pertama. Apalagi kata dokter hamilku tidak begitu menimbulkan gejala fisik. Kecuali pingsan yang kemarin," ujar Lisa.


Mendengar kata pingsan Farhan jadi teringat. "Oh ya, aku sudah memanggil tukang untuk menambahkan satu kasur di kamar kita. Mulai hari ini kita akan tidur terpisah."


"Terpisah?" Lisa menoleh terkejut ke arah Farhan.


"Iya, daripada pisah kamar. Lebih baik aku tidur di kasur yang berbeda saja," ujar Farhan dan membuat Lisa marah seketika.


"Maksud kamu apa sih, Mas? Untuk apa kita tidur terpisah? Apa kamu sudah tidak sudi lagi tidur dengan wanita yang tengah berbadan dua sepertiku?"


Farhan memperlambat laju mobilnya agar dapat leluasa mengobrol. "Emmm. Bukan begitu Lisa. Justru itu yang aku khawatirkan. Aku sudah memutuskan untuk tidak menyentuhmu selama tujuh bulan ke depan demi kenyamanan bayi kita. Karena takut macam-macam padamu, makannya aku berinisiatif tidur terpisah."


"Jadi kamu gak mau nyentuh aku selama sembilan bulan?" tanya Lisa dengan nada marah.


"Iya, aku akan menahannya," jawab Farhan. Merasa jadi kesatria baja hitam yang begitu bangga dengan misi menyelematkan dunia.


"Apa kamu tahu, setelah melahirkan kita juga tidak boleh bersentuhan minimal dua bulan. Artinya kamu harus menahannya selama sembilan bulan."


Farhan mengangguk dan berusaha memahami. "Kalau begitu aku akan berusaha menahannya selama sembilan bulan."


Satu jeweran melayang di telinga Farhan. Pria itu menoleh dengan tatapan bingung. "Kenapa kamu malah marah? Bukannya aku sudah berusaha menjadi calon ayah yang baik untuk anak kita?"


"Kamu bisa tahan tidak berhubungan selama dua bulan, tapi aku yang tidak, Bodoh!"


"Kamu marah? Aku melakukan ini demi kebaikanmu dan anak kita. Aku tidak mau membuatmu kelelehan dan pingsan lagi seperti kemarin. Mengertilah, ini demi anak kita!" balas Farhan,dengan bahasa penekanan.


"Demi anak kita apanya? Dia tidak akan sudi mengakui seorang ayah yang bahkan tidak mau menjenguknya.


Farhan tertohok dengan geraman tertahan. "Lalu aku harus bagaimana?"


"TERSERAH!"


Lisa memalingkan wajahnya kesal. Jika biasanya pria selalu ingin berhubungan badan di saat istrinya hamil dan bahkan sampai konsultasi ini itu pada dokter, katakanlah Farhan adalah suami lucu level jiwa tertukar. Yang berhasil membuat istrinya marah karena memutuskan untuk tidak berhubungan selama sembilan bulan.


Gilakah dia?


***


Cuma bonus chapter. Mau baca gak? Semarak komennya mana?🥰🥰