HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Malam Pergantian



Berlarut-larut dalam kesedihan bukanlah hal yang baik untuk kesehatan. Toh, semua itu sudah berlalu sejak lama. Si kembar juga telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Meskipun Tuhan tidak dapat mengabulkan apa yang mereka minta, setidaknya Tuhan masih bertanggung jawab dengan memberikan kekuatan dan keteguhan hati untuk dua bocah itu.


Tuhan juga menghadirkan Lisa sebagai pelengkap hidup mereka. Tidak hanya si kembar, Farhan juga mendapat hikmah luar biasa dari kejadian ini. Yaitu menikah, mempercayai bahwa komitmen tak selamanya terasa buruk. Buktinya, Lisa lebih banyak membantu segala urusan Farhan selama ini. Baik pekerjaan, anak-anak, dan bahkan masalah ranjang sekali pun. Opini Farhan tentang repotnya menikah tidak terbukti sama sekali. Justru ia merasa bahagia dengan status pernikahannya.


Farhan menatap Lisa dalam-dalam. Mata teduhnya memancarkan jejak sedih yang bisa Lisa rasakan. Lalu, Farhan menggenggam tangan mungil yang sejak tadi melingkar di pinggangnya.


"Maafkan aku." Satu kata keluar dari mulut Farhan saat pria itu baru saja menghentikan tangisnya.


"Maaf untuk apa?"


Farhan nampak menghela kasar, dan akhirnya menyusup masuk ke dalam selimut. "Maaf karena menangis di hadapanmu. Mungkin kamu akan ilah feeling setelah tahu kejadian ini."


"Kata siapa?" Lisa ikut masuk ke dalam selimut. Lalu berbaring di atas dada bidang Farhan pelan-pelan. "Tidak perlu malu, laki-laki juga perlu menangis sesekali. Jangan berlagak kuat, justru aku tidak suka sikap kamu yang seperti itu."


"Apa kau tidak jijik melihatku menangis?" ulang Farhan, memastikan bahwa yang ia dengar tadi tidak bercanda.


"Tidak sama sekali. Justru aku merasa bangga karena suamiku mau terbuka seperti tadi."


Senyum datar mengenghiasi rahang tegas Farhan. "Kalau begitu terima kasih atas pengertiannya," jawab pria itu dengan gaya bahasa kaku. Matanya menatap langit-langit seolah sedang memikirkan sesuatu.


Merasa kesal diabaikan, jemari lisa menusuk bagian perut Farhan. Menimbulkan efek geli hingga pria itu menggeliat. "Kau!" sergah pria itu.


Lisa tergelak kencang, lalu mendongak dengan kedipan mata nakal yang menggoda. "Hari sudah malam. Apa kamu masih ingin melanjutkan yang sempat tertunda tadi, Mas? Atau mau tidur saja?"


Kamu menang, sungut Farhan dalam hati.


Ia menganggukkan kepala malu-malu. Di mana Lisa langsung menggigit lengan pria itu, gemas. "Tapi apa dia masih bisa berfungsi? Aku lihat kamu kesakitan sekali tadi siang. Ah, jangan-jangan ...?"


"Jangan-jangan apa?" Farhan memotong ucapan Lisa. Lalu membalik tubuh kecil itu seperti ikan asin. Secepat kilat, Farhan sudah berada di atas dan mengunci Lisa dengan tubuh kekarnya.


"Kamu mau gaya apa?" tanya Farhan yang mulai tertantang. Ia merasa kalimat ambigu yang Lisa ucapapkan adalah bentuk ejekkan.


"Gaya?" Lisa melipat bibirnya dalam-dalam. Mencoba menahan tawa agar tidak segera keluar.


"Gaya apa ya? Kerbau makan kuaci bisa gak, Mas?" goda wanita itu.


Ya ampun. Dasar si serius batu bernapas! Kenapa kamu lucu sekali, sih?


Lisa tertawa jahat dalam hati. Ia semakin gencar dalam menggoda. Tanggapan manusia yang hobinya serius lucu juga. Lisa sendiri pun tidak tahu seperti apa gaya kerbau makan kuaci.


"Kalau gaya tukang sate kegerahan bisa?" Bahasa aneh-aneh mulai keluar dari bibir Lisa. Farhan mengerutkan dahinya seperti kakek-kakek. Namun, masih tetap meladeni ledekkan tidak mutu si istri jahanam.


"Aku tidak tahu."


Wajah Lisa berubah murung. "Ah, gimana dengan gaya kuda putar balik?"


"Apalagi itu, aku tidak tahu!" jawab Farhan.


"Kambing makan rumput yang dikasih bon cabe, bisa?"


"Lisaaa!" Farhan menggeram kesal pada akhirnya. Lama-lama Lisa semakin jadi.


"Yah Mas! Kenapa kamu nanya aku mau gaya apa kalau ini itu tidak bisa. Nyebelin." Lisa mengerucutkan bibirnya, pura-pura kesal dengan reaksi Farhan.


Menggoda Farhan memang sudah menjadi rutinitas Lisa sehari-hari. Reaksi Farhan yang selalu serius membuat Lisa tidak jera dengan kelakuannya. Malahan semakin jadi. Herannya, Farhan selalu menanggapi semua pertanyaan Lisa dengan serius. Seperti calon kariyawan pelamar yang sedang diinterviuw oleh HRD.


"Aku menawari agar kamu nyaman. Kamu 'kan yang selalu banyak protes jika gaya yang kupakai tidak sesuai keinginanmu." Farhan berdecak sebal. Gairahnya mendadak hilang karena Lisa terlalu banyak bertanya. Pria itu menggulingkan tubuhnya ke samping. Melepas tubuh Lisa seperti macan kekenyangan.


"Eh, suamiku ngambek. Hehehe. Makasih ya, Mas. Ternyata kamu peduli sekali padaku," goda wanita itu sambil bergelayut manja layaknya anak monyet. Tubuh anak itu sudah berpindah tempat, menaiki perut Farhan secepat kilat.


"Kalau begitu kita pakai gaya biasa aja, Mas."


"Gaya menyiram bunga matahari yang sudah layu?" Farhan mengingat kata-kata Lisa. Sebuah gaya pamungkas Lisa jika Farhan sedang tidak berselara atau ngambek. "Kalau begitu lakukanlah, aku sudah siap!"


Pria itu berkata dengan semangat level 3000.


***


Jangan lupa kasih vote bunga ya gengs 🤣