
Beberapa Bulan Kemudian.
Derap langkah kaki menggema di lorong rumah sakit di mana jarum jam tepat menunjuk pukul tiga pagi. Farhan melangkah secepat mungkin menuju ruang rawat inap di mana Lisa sudah berada di sana selama tiga hari. Pria itu sangat khawatir lantaran Lisa melahirkan secara tidak normal, alias baru memasuki bulan ke delapan atau kurang dari 37 minggu.
Dan gilanya, Farhan baru dikabari berita ini dua hari yang lalu setelah Lisa selesai bersalin karena takut membuat Farhan khawatir. Bisa dibayangkan betapa khawatirnya Farhan selama dalam perjalanan ke Indonesia dari Amerika.
Brak!
Farhan membuka pintu secara kasar, ia segera berlari memeluk Lisa yang tengah diperiksa oleh dokter jaga malam. "Apa kamu baik-baik saja?"
Air mata Farhan jatuh bersamaan dengan tubuh ringkih yang ditariknya semakin dalam dan erat. Badan Lisa terasa lebih kecil dari tiga bulan sebelum mereka berpisah, membuat Farhan yakin bahwa dalil 'baik-baik saja' yang Lisa bicarakan di telepon semuanya bohong.
Pasti Lisa menyembunyikan perasaannya. Mungkin rindu atau khawatir, secara wanita hamil 'kan sangat membutuhkan peran suami di sampingnya, tapi Lisa bersikeras megatakan kuat dan tidak mau menunda keberangkatan Farhan ke Amerika waktu itu demi kesembuhan Farhan.
"Aku kangen banget sama kamu, Mas!" Lisa semakin meringsek ke dalam pelukkan Farhan. "Anak kita sudah lahir, dia tampan dan sangat mirip seperti kamu," lanjut wanita itu.
Seolah tidak peduli pada kehadiran anaknya ke dunia, Farhan menanyakan keadaan Lisa sekali lagi.
"Kau baik-baik saja, 'kan? Jawab aku!"
Suara Farhan menggema dengan frekuensi getaran yang kentara di ruangan tersebut. Membuat Lisa terperanjat sambil mengerjap-ngerjap setengah bingung.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, Mas." Lisa menjawab selagi dokter melangkah pergi meninggalkan mereka berdua karena merasa tidak enak menyaksikan adegan yang menusuk mata. "Apa kamu tidak penasaran dengan anak kita, kenapa malah mengkhawatirkan keadaanku?" Pelukkan terlepas, Lisa menatap mata merah Farhan yang mengandung kilatan-kilatan cemas di dalamnya.
"Jangan berpikir macam-macam dulu. Kamu adalah wanita hebat yang rela terluka demi aku dan calon keturunanku. Bagaimana bisa aku tidak mengkhawatirkan keadaanmu di saat kamu baru saja berjuang melawan hidup dan mati?"
Kali ini Lisa menarik Farhan ke dalam pelukannya. Air mata mereka jatuh bersama-sama karena terharu. "Makasih banyak Mas."
"Aku yang seharusnya berterima kasih. Kamu sudah berjuang untukku." Farhan merangkum wajah Lisa penuh penghayatan. Kemudian mengusap air tangis yang melintasi setiap permukaan pipi gembil yang mulai memudar cabinya.
"Tapi anak kita masih berada di dalam inkubator, dia juga sedang berjuang melawan sakit. Apa kamu tidak mencemaskannya dia sama sekali?" tanya Lisa agak heran.
Kalimat yang Farhan ucapkan membuat Lisa terisak dan kembali meringsek ke dalam pelukkan pria itu. Perasaan sedih dan terkejut campur menjadi adonan haru biru. Lisa tidak menyangka bahwa kepulangan Farhan dari Amerika sedikit merubah sikapnya yang dingin jadi manis. Em, nyamannya kalau bisa seperti ini setiap saat.
Lisa mendongak sambil mengusap air matanya. "Mas!"
"Hmmm."
Satu kecupan mendarat lembut di atas bibir wanita itu tanpa permisi. Farhan membalas panggilan Lisa dengan ciuman singkat tanda kasih sayang. Kemudian melepas tauan itu dan berkata lagi,
"Dokter sudah bilang padaku bahwa anak kita baik-baik saja. Kami sempat berkomunikasi beberapa kali saat aku transit di bandara. Jangan terlalu khawatir, pikirkan kesehatanmu dulu agar bisa merawat dia saat sudah sehat."
Seolah paham, ia segera menghalau segala ungkapan rasa khawatir yang akan Lisa ucapkan. Tidak jadi bicara karena jawabannya sudah dibombardir oleh si suami sempurna yang ada depannya.
"Iya." Akhirnya Lisa hanya bisa mengangguk dalam sambil menggigit bibir bawahnya.
"Maafkan aku karena tidak bisa menemani persalinanmu. Padahal aku sudah pernah berjanji akan menemanimu waktu itu." Lagi-lagi Farhan berulah, mengecup puncak kepala gadis itu sampai hati yang ada di balik dada Lisa mau meledak.
"Mas, kamu kenapa berubah banget, sih?"Alih-alih merasa marah karena tidak ditemani oleh suaminya saat melahirkan, Lisa justru lebih tertarik pada sikap Farhan yang yang manis seperti permen gula-gula.
"Tidak ada yang berubah, aku hanya merasa gila karena berada di dalam posisi tidak berdaya seperti kemarin." Wajahnya berubah sedih kembali melihat keadaan Lisa yang tampak rapuh. Jauh di dasar hatinya, ia masih tak rela karena tidak diberikan kesempatan berada di samping Lisa saat wanita itu butuh. Namun ini adalah takdirnya. Farhan tidak seistimewa ayah di luar sana yang dapat melihat proses kehadiran buah hati secara langsung.
"Ehmm," lirih Lisa disertai senyum merekah yang muncul tiba-tiba. "Aku tidak masalah, asal bisa bertemu denganmu lagi, itu sudah menjadi anugrah besar."
Mengingat betapa mengerikannya persalinan normal, saat itu Lisa nyaris berpikir bahwa ia akan segera mati. Namun, ia bisa melalui semua ketakutan itu berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa.
...***...
...Cerita ini kutuliskan khusus untuk ibu melahirkan yang tidak bisa di temani oleh suaminya karena halangan tertentu. Terima kasih. Jangan merasa iri, kalian wanita hebat kuat yang istimewa....
...Terima kasih untuk yang sudah berkenan memberi vote demi kelangsungan cerita ini....