
Hari ini adalah hari terindah untuk seorang Lisa. Tanpa diminta, Farhan mengajak Lisa ke suatu tempat yang paling ingin ia datangi selama ini. Yaitu perusahaan ayahnya sendiri. Perusahaan yang dibangun oleh ayahnya sejak muda, lalu direbut oleh paman dan bibinya karena sebuah keserakahan.
Ajakan Farhan untuk berkunjung ke perusahaan ayah Lisa membuat wanita itu terkagum-kagum tanpa henti. Ia nyaris tidak percaya perusahaan itu bisa berubah megah nan indah di tangan Farhan. Sungguh, sentuhan suaminya memang ajaib. Apapun akan menjadi sempurna di tangan Farhan Budiman. Sama seperti Lisa yang dulunya bukan apa-apa berhasil disulap jadi Cinderella.
Seletah tanda tangan tadi, perusahaan bekas almarhum ayah Lisa resmi menjadi milik wanita itu. Farhan memberikannya secara cuma-cuma tanpa pikir lima kali. Katanya hadiah untuk kerja keras dan kebaikan Lisa selama bersamanya. Bukan main senangnya hati Lisa saat ini. Meskipun jalan yang Lisa dapatkan tidak sama dengan niat dan cita-citanya dulu. Namun, ia sadar bahwa Tuhan selalu memiliki banyak cara untuk menolong hambanya.
Dua pasang kaki terus melangkah pelan menyusuri area gedung. Rico menjelaskan beberapa struktur dan strategi yang digunakan Farhan untuk memulihkan perusahaan.
Beberapa kariawan tersenyum ke arah Lisa setelah mengetahui bahwa wanita adalah pemillik sah perusahaan. Perusahaan ayah Lisa sudah resmi bergabung dengan Revical grup. Meskipun hak milik perusahaan itu milik Lisa. Namun Farhan masih berkuasa penuh dalam operasional perusahaan yang baru pulih tersebut.
"Semua perubahan di gedung ini memakan biaya sekitar 30 persen dari kekayaan tuan Farhan, Nona. Perusahaan ini sudah benar-benar hancur saat dibeli oleh tuan Farhan. Demi Nona, tuan Farhan rela berusaha mati-matian untuk menstabilkan perusahaan ini." Rico menjelaskan layaknya profesional. Sambil berkeliling menunggu Farhan yang sedang melakukan pertemuan di ruang direksi.
"Aku nyaris gila, bagaimana mungkin dia melakukan semua itu. Saat itu kita belum menikah ataupun memiliki hubungan khusus. Kenapa dia sudah baik banget?" Dahi Lisa mengkerut-kerut. Ia berbicara pada Rico. Namun, suara lirihnya terdengar seperti sedang bergumam dengan pikirannya sendiri.
Rico menanggapin gumaman Lisa sambil tersenyum bangga. "Tuan Farhan memang baik, Nona. Adapun yang bilang jahat, itu artinya dia belum mengenal tuan Farhan."
"Ya, aku tahu! Itu sebabnya aku selalu tahan berada di sampingnya. Karana penerapan dan cara baik dia yang unik tiada dua." Pandangan Lisa menerawang seolah yang dipuji ada di depan matanya. "Walaupun kadang aku suka tidak tahan dengan sikap dingin dan gaya batu bernapasnya, tapi aku sayang dia."
"Tidak ada manusia yang sempurna, Nona. Kau tidak akan mendapat yang terbaik jika terus mencari-cari yang sempurna di matamu." Rico berkata bijak dengan bahasa tubuh tenang. Mirip sekali dengan penasihat kebenaran.
"Aku juga bersyukur tuan Farhan memilikimu, Nona. Hampir dua bulan ini hidupku sedikit tenang. Tuan Farhan lebih mudah diatur semenjak menikah dengan Nona."
Lisa sedikit ternganga heran. "Hah? Benarkah begitu? Apa menikah membuat dia sedikit berubah? Sepertinya aku tidak menemukan perbedaan apapun." Lisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Surai hitamnya sampai acak-acakkan karena terlalu kasar menggaruk.
"Benarlah, untuk apa juga aku membohongimu, Lisa." Kekesalan Rico kumat. Dia berbicara dengn bahasa non formal pada Lisa.
"Ah, begitu."
Obrolan berhenti sejenak. Mereka terus berjalan mengelilingi area kantor hingga sampai ke depan ruang direksi. Risih, mungkin satu kata itu tersematkan di dalam diri Lisa saat berada di samping Rico. Sepanjang mereka berjalan, para wanita terus menatap Rico tidak biasa.
Mata-mata mereka nyaris copot. Pandangan tergila-gila itu menyatakan seolah lelaki tampan di dunia ini hanya ada satu biji.
Cih! Herannya Rico seperti tidak peduli dengan tatapan-tatapan itu. Gayanya sok dan menganggap mereka tak kasat mata.
***
Coba like dong, mau liat berapa yang baca cerita ini.