HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Pelukan Di Dalam Lift Rusak



Kesibukan memadati hari-hari Rico, Farhan, dan Lisa. Setelah berkunjung dari perusahaan ayah Lisa, mereka kembali ke kantor untuk melakukan rutinitas seperti biasa. Mengecek beberapa laporan operasional perusahaan dari berbagai divisi.


Rico menekan tombol lift yang disediakan khusus untuk atasan dengan cekatan, lalu mempersilahkan Farhan dan Lisa masuk terlebih dahulu. Mereka bertiga mengarah ke lantai dua belas. Tempat di mana ketiganya menghabiskan waktu seharian.


"Sayang." Lisa merapatkan tubuhnya pada Farhan dengan gaya tempel-tempel cicak. Tak peduli ada si jomlo yang sedang bernapas nyata di sampingnya. "Kalau boleh tahu, semua keuntungan di perusaan ayahku akan jadi milikku, kan?" tanya Lisa penasaran.


"Tentu saja milik Nona. Memang mau dikasih ke siapa lagi?" Rico yang menjawab dengan nada sinis. Kesal melihat dua manusia yang membuat Dipsy jadi iri.


"Ikh Pak Rico! Yang aku tanya itu tuan Farhan. Bukan kamu tahu! Dasar tukang ikut campur aja." Lisa mencebikkan bibirnya sebal, memukul dada Rico pelan dengan muka gemas terlipat-lipat.


"Setengah suara tuan Farhan sudah digadaikan kepada saya, Nona. Saya memiliki hak istimewa untuk menggantikan boss berbicara," balas Rico tidak mau kalah.


Lisa menarik lengan Farhan agar ikut merangkulnya, lalu bersembunyi di balik jas hitam milik pria itu. "Mas! Apa tidak sebaiknya kamu ganti asisten saja? Dia sangat menyebalkan. Lebih baik kirim dia ke tempat terpencil yang penghuninya sedikit," usul Lisa.


"Jangan aneh-aneh. Semua perusahaan Revical Grup berada di kota-kota besar. Tidak ada yang berdiri di kota tempat terpencil."


"Tapi dia nyebelin." Lisa kembali bermanja-manja. Membuat orang di samping kedua pasangan itu merinding geli dengan tingkah mereka.


"Dasar bapak dan anak!" Gumam-gumam lirih keluar dari mulut Rico. Memang sampai detik ini, Rico tidak melihat aura suami istri di wajah mereka berdua. Kecuali adegan sedap-sedap yang tak sengaja ia lihat sekilas dari CCTV waktu itu.


Grug .... Grug .... Deerrr!


Suara benturan cukup keras terjadi. Rico terhoyong-hoyong hingga tubuhnya membentur punggung Lisa. Lift mengalami kerusakan tiba-tiba. Lampu berkedip layaknya adegan film suster ngesot yang biasa muncul tiba-tiba.


"Huaaaaa!" Rico berteriak begitu lampu mati total. Ia reflek memeluk tubuh Lisa sekuat tenaga. Kepalanya terbenam di punggung Lisa sampai wanita itu meronta kesakitan.


"Pak Rico ... Pak Rico ... ini aku! Sakit! Lepaskan!" Lisa menjerit-jerit. Farhan langsung melepaskan tubuh Lisa dari tangan Rico.


"Jangan peluk istriku bodoh! Peluk aku saja."


Lisa yang mendengar itu ternganga tidak percaya. Tubuh Lisa sudah terhempas ke pojokan lift karena Farhan melepaskan mereka agak kasar. Samar-samar, ia merasakan Farhan dan Rico yang tengah berpelukan seolah sedang mencuri kesempatan di tengah kegelapan.


Lisa mengrjap-ngerjap gugup. "I-iya ..." Wanita itu langsung merogoh-rogoh ponselnya di dalam tas. Ia menyalakan senter, lalu mengarahkannya pada Farhan dan Rico.


"Oh my eyes .... Shit!" Mata Lisa mendadak terkena noda membandel yang tak cukup dibersihkan dengan detergen sekalipun.


Adegan setan macam apa ini? Demi kerang ajaib, amit-amit jabang bayi tujuh turunan sembilan tanjakan. Jangan sampai anak-anakku seperti mereka, banti Lisa merinding geli. Dag dig dug jantungnya, merasakan api cemburu yang menyerang secara tiba-tiba.


"Apa yang kamu lakukan, bodoh! Harusnya aku yang kamu peluk, aku istrimu! Ikh ... ikhk ... ikhk ...!" Lisa memukul pungggung Farhan berkali-kali. Lalu menarik baju pria itu sekuat tenaga. Mencoba menyingkirkan dua teletabis yang asik berpelukan di tengah kegelapan.


Mata wanita itu menyalang seperti macan tutul yang hendak menerkam mangsa di depannya. Murka, Lisa benar-benar tidak terima melihat pemandangan menijijikan antar asisten dan suaminya sendiri.


"Jangan salah paham. Rico memiliki riwayat nyctophobia. Ini hanya kejadian darurat, kami masih normal."


"Apa itu nyctophobia?"


"Dia sangat takut jika berada di ruangan tanpa cahaya sedikit pun. Tolong mengertilah." Farhan menepuk-nepuk bahu Rico. Menenangkan pria setengah matang yang membenamkan kepalanya dalam-dalam di dada pria itu.


"Tenang ... aku sudah menekan tombol darurat. Teknisi akan segera menolong kita," ucap Farhan pada Rico. Pria itu memeluk Rico lebih erat layaknya pangeran yang sedang menjaga tuan putrinya.


"What the hell? Aku tidak liat ... aku tidak liat!"


Lisa segera berbalik badan setelah memberikan senter ponselnya pada Farhan. Wanita itu menjambak rambutnya frustasi, lalu membenturkan kepalanya ke tembok lift.


"Perutku mual melihat kalian berdua. Sumpah, ada saja hal nyeleneh yang membuatku merinding." Andai tidak sakit, Lisa ingin mencolok matanya sekarang juga.


***


Note: Aku baru aja up visual Rico di ig @anarita_be. kalo gak cocok jgn marah ya, soalnya aku sesuaikan sama umurnya 34 tahun.