HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 47 : (Season 2)



Aduh, aku ketiduran kemaren malam. Jadi lupa 'kan mau update bab. Terus siangnya sibuk banget sama dunia nyata. Maaf ya telat.


***


Suasana di kamar utama sedikit panas malam ini. Pendingin udara yang biasa membelai setiap inci kulit mereka mendadak tak terasa lantaran ada dua manusia yang sedang duduk di ranjang dengan posisi saling bersitegang.


"Ini aplikasi apa?"


Lisa menoleh ke samping. Suami yang kakunya sejagat raya itu sedang membuka ponsel miliknya sambil menggerutu-gerutu kesal sedari tadi.


"Virtual private netrwork, masa iya kamu nggak tau? Padahal CEO, pendidikannya tinggi," ketus Lisa kesal karena beberapa aplikasi media sosial di ponselnya sudah dihapus secara permanen oleh Farhan. Dengan alasan aplikasi itu tidak penting untuk dimainkan oleh orang seperti Lisa.


"Iya, maksudku kenapa aplikasi seperti ini ada di ponsel pribadi kamu?" sembur Farhan curiga. Lantas merangkul pundak Lisa yang sedari tadi ngambek karena ulah dirinya.


"Kalo aplikasi itu ada di hape aku, berarti aku pakai, Mas!" Wajahnya mulai tak bersahabat. Instagram tempat ia mencuci mata telah dilenyapkan lantaran Lisa kerajinan pencet-pencet love di postingan cowok-cowok tampan muda seksi yang menyebalkan di mata Farhan.


Lisa sudah menjelaskan bahwa tangannya suka iseng-iseng tak sadar diri, tapi Farhan terlanjur marah dan mengancam akan memotong tangan sialan itu jika sembarangan pencet love di postingan orang lain. Karena tak cukup puas dengan jawaban Lisa, pada akhirnya aplikasi itu dilenyapkan tanpa perasaan oleh Farhan atas dasar kecemburuannya.


"Buat apa?" Pertanyaan Farhan membuat Lisa mendelik kesal.


"Ya buat dipakai lah Mas! Tadi udah aku jelasin , 'kan!"


"Tapi ini ponsel pribadi, untuk apa mengaktifkan jaringan seperti itu di ponsel pribadimu? Lagi pula tidak ada data yang harus diamankan, bukan?" tandasnya, masih dengan mimik wajah curiga. "Datamu bisa saja diretas hacker jika sembarangan menggunakan hal-hal begini."


Aplikasi itu pun tak luput dari perhatian Farhan. Segera dihapus tanpa harus minta izin pada pemiliknya terlebih dahulu.


Lisa yang sudah tidak tahan reflek memukul bahu pria itu, geram."Kenapa dihapus, itu 'kan bukan MEDSOS?"


"Gak penting!" jawab Farhan jutek.


"Itu penting buat aku. Aku biasa nonton film panas yang bagus-bagus lewat situ!" Lisa memukul bahu Farhan murka. "Aku bisa muasin kamu juga karena nonton yang begitu!"


Eh, ya ampun!


Farhan terdiam malu. Istrinya memang sepintar itu, bahkan ia sampai berfikir bahwa tidak ada wanita lain yang lebih hebat di atas ranjang selain Lisa.


"Sebaiknya tidak usah melihat hal-hal yang seperti itu," ujar Farhan menasihati. Nada bicaranya mulai merendah, ponsel Lisa yang ia pegang segera dicampahkan lantaran sikap wanita di sampingnya sudah mulai memanas. "Kita bisa belajar sama-sama, tidak usah nonton yang seperti itu, kamu 'kan perempuan. Tidak pantas menonton hal-hal yang seperti itu."


Jadi kalau kaum cowok boleh? Keadilan macam apa yang sedang kalian tegakkan?


Sambil memutar bola mata, ia bersungut-sungut dalam hati.


Diciumnya ceruk leher Lisa. Namun, hal itu tidak serta merta membua hati istrinya mudah luluh begitu saja. Lisa masih setia merengut dengan tangan terkibas-kibas agar Farhan peka dan menjauh darinya.


"Marah sama aku?"


Kalimat itu hanya terucap di dalam hati. Selebihnya ia memilih diam meresapi kemarahannya.


"Mau diinstal lagi aplikasinya?" tanya pria itu dengan nada lembut dan tangan yang mulai bermanja-manja di sekitar area favorit istrinya.


"Gak usah," jawab Lisa makin jutek. "Percuma diinatal lagi kalau ada yang gak rela. Nanti aku dicap istri berdosa!" imbuhnya.


"Ya sudah, tidur yuk! Besok lagi ngambeknya. Kasian anak kita, istirahatnya kurang gara-gara bundanya marah-marah terus," rayu Farhan. Lisa yang mendengarnya semakin muak dan mulai memamerkan gigi taringnya.


"Nggak usah sok baik lah Mas! Males aku sama kamu! Apa-apa selalu dilarang. Memangnya semua MEDSOS-ku yang kamu hapus masih belum cukup, samlai VPN yang gak ada hubungan apa-apanya ikut dihapus juga? Jangan-jangan nanti kamu suruh aku pake alat bantu pernapasan, biar gak berbagi udara sama orang lain."


"Astaga! Memangnya aku seberlebihan itu?"


"Au ah! Kalau kamu punya pikiran, pasti kamu sadar kalau kamu suka ngatur-ngatur." Lisa mendorong wajah Farhan. Hidungnya kembang kempis seperti adonan dadar gulung yang baru saja dituang ke atas teflon.


"Ya udah, ayuk kita nonton di laptop aku. Sudah lama juga ngga pernah nonton yang seperti itu. Aku punya banyak koleksi kalau kamu memang suka."


"Nonton aja sendiri, sekalian tidur di kamar mandi!" ketus Lisa. Yang kemudian berbaring menarik selimut dan menutupi seluruh wajahnya dengan kesal.


Farhan tersenyum siput melihat tingkah wanita itu. "Benar kamu ngga mau nonton? Padahal ada banyak koleksi loh! Kata Bryan adegannya ngga pasaran, banyak tutorial dan edukasi yang mungkin bisa kamu pelajari."


"Nggak Mas! Brisik aja kamu!"


Farhan tak mau menyerah dan terus merayu.


"Beneran nggak mau nih? Aduh, rugi loh kamu. Aku jarang-jarang menawarkan hal yang seperti itu.


Mata Lisa mulai mengerjap-ngerjap di balik selimut. Antara penasaran dan pingin bercampur jadi satu adonan.


"Wah, padahal itu koleksi pribadi yang sengaja dikumpulkan oleh Felix dan Bryan bertahun-tahun. Pemainnya juga bukan sembarangan. Sudah pasti kamu belum pernah lihat yang seperti itu karena aksesnya tidak mudah didapatkan," pamer Farhan agar Lisa tertarik dan memaafkan kesalahannya.


"Aku ngga ngelarang kamu nonton yang seperti itu, asal dalam pengawasanku," imbuh Farhan lagi.


Tak dinyanya, Lisa yang tak tahan membuka selimut dan menoleh ke arah pria itu.


"Ya udah mana? Ayok kita nonton, tapi jangan macem-macem sama aku."


Kalimat Lisa terdengar seperti angin lewat yang mungkin sedang Farhan abaikan. Urusan macam-macam, anggap saja ajang negosiasi.


***


Kupotong buat malem lagi karena ini macih siang. Semoga gak ketiduran lagi ya. Wkkw.


Kasih hadiahnya dong mentemen.