
Kembali lagi berjibaku dengan dunia tipu-tipu.
Suasana kantor sangat berbeda sejak semua orang tahu bahwa Lisa merupakan istri yang dirahasiakan Farhan selama ini. Para penjilat yang dulu meremehkan Lisa mulai berdatangan untuk menyapa istri sah CEO Revical Grup itu. Nampak aneh dan membuat Lisa muak sendiri.
Kenapa di saat statusnya diaku oleh Farhan sebagai istri, mereka baru mau mengakui kemampuan Lisa? Dulu saja ia selalu diremehkan karena menjadi asisten di usianya yang masih junior. Jangankan kemampuannya, usahanya untuk menjadi kariyawan baik saja tidak pernah diakui.
"Pagi, Nona." Meri si wanita yang katanya simpanan pejabat, menyapa Lisa untuk pertama kali. Bibirnya merekah, tersenyum indah sebelum akhirnya duduk di singgasananya.
Lisa memasang muka datar sebagai pilihan terbaik.
"Pagi Nona, Lisa. Selamat atas pernikahannya ya, semoga bahagia." Dewi yang merupakan karyawati sok pintar juga ikut menyapa, tumben. Dulu ia adalah sosok yang paling iri dengan jabatan Lisa. Selalu protes meski apa yang Lisa kerjakan sudah baik dan benar.
Tak hanya mereka, semua penjilat berdatangan ke meja Lisa. Memberi selamat atas pernikahannya dengan maksud ingin mengambil hati wanita itu.
Pujian-pujian mulai bertaburan seperti salju di musim dingin. Kemampuan Lisa yang selalu diremehkan mulai diagung-agunggkan. Yang biasanya selalu dicela, kini apapun yang wanita itu lakukan terlihat mulia.
Hari pertama kali kerja dengan status yang berbeba membuat Lisa merasa risih. Ternyata kemampuan saja tidak cukup untuk melawan kekejaman dunia, buktinya ia bisa terlihat semenjak orang tahu bahwa Lisa adalah istri Farhan. Dulu ke mana saja? Cih!
Lisa kembali menghadap meja kerjanya yang sudah beberapa hari tak disentuh. Nampak bersih dan rapi karena diurus setiap hari. Ya, inilah yang Lisa suka dengan Revical Grup. Perusahaaan ini sangat menjunjung tinggi kerapian dan kebersihan. Bukan hanya sekedar bersaing dan menaklukkan pasar dunia seperti perusahanan pada umunya.
Melirik ke sisi kanan, Lisa menemukan setumpuk laporan yang harus ia periksa sebelum diserahkan pada Farhan pagi ini. Banyak dan mencolok, terkesan teriak-teriak ingin segera disentuh oleh Lisa.
Merasa jam kerja masih belum di mulai. Lisa sedikit menggeser kursi, lalu menoleh pada bilik samping milik mbak Vivi.
"Mbak Vi." Lisa berbisik di telinga Vivi. Kariyawati yang paling dekat dari segi tempat.
"Iya Lis, kenapa?" tanya wanita itu. Tiba-tiba ia berceletuk. "Kamu pasti risih ya dengan tingkah anak-anak yang mendadak sok ramah? Abaikan saja, itu adalah bentuk maaf mereka karena telah meragukan kemampuan wanita yang telah dipilih langsung oleh tuan Farhan. Bahkan sudah dinikahinya." Mbak Vivi bagaikan cenayang yang langsung bisa menjawab sebelum Lisa bertanya.
"Meragukan gimana, Mba?" tanya Lisa sedikit tak mengerti. Ia nyalakan layar lebar di mejanya, tapi tak dilirik karena sibuk menunggu jawaban mbak Vivi.
"Tuan Farhan dan tuan Rico pasti tidak bodoh. Tidak mungkin menempatkan kariyawan junior di posisi tinggi jika tidak mengetahui kemampuannya. Itulah yang aku lihat darimu. Tapi mereka semua tidak! Dari awal kamu masuk, mereka selalu membuat perbandingan antara kamu dan nona Katy. Mereka bilang, kamu sama sekali tidak pantas menggantikan posisi nona Katy yang sedang ditugaskan ke Amerika." Satu tangan mbak Vivi terulur sempurna, lalu sedikit meremas jemari Lisa untuk menguatkan wanita itu.
Lisa tersenyun geli, membalas dengan respon biasa saja. "Andai mereka tahu banyak hal yang aku lewati agar bisa sampai pada titik ini, pasti mereka tidak akan berani berkata seperti itu, Mbak. Menjadi istri tuan Farhan memanglah sebuah keberuntungan, tapi posisi dan pekerjaaanku tidak ada hubungannya dengan status istri," jelas Lisa penuh penekanan.
"Makasih ya, Mbak. Kamu memang yang terbaik." Senyum Lisa mengulas ringan. Menandakan hatinya sudah lebih baik setelah mengobrol dengan mbak Vivi.
"Ya sudah! Kerja gih, buktikan pada mereka bahwa kamu bukan istri CEO yang menye-menye."
Tawa kecil keluar dari bibi Lisa dan mbak Vivi. Hingga pada akhirnya mereka mulai fokus terhadap pekerjaaanya masing-masing.
Duaaaar!
Tiba-tiba, terdengar suara tembakkan yang memekakkan telinga dari ruangan Rico dan Farhan. Semuanya berteriak sambil memegangi dadanya, panik. Lisa sudah berdiri dengan tubuh gemetar-gemetar takut.
"Suara apa itu, Mbak?" tanya Lisa, tidak berani menafsirkan apapun yang melintas di pikirannya.
"Jangan masuk dulu, Lis," cegah mbak Vivi tak mau gegabah.
"Aku mau lihat, Mbak." Bohong jika tidak khawatir. Air mata Lisa menjawab semua rasa yang berkecamuk. Jatuh ke bawah dan menyatu dengan lantai.
"Cepat panggil beberapa satpam dan bodyguard di luar!" Mbak Vivi berteriak pada kariyawan yang masih mematung kebingungan layaknya ikan bodoh. Tangannya terus memegangi lengan Lisa sekuat tenaga. Wanita itu sudah meronta, hendak berlari ke ruangan suaminya.
"Tahan dulu Lis, biarkan laki-laki dulu yang memeriksa ruangan itu," ucap mbak Vivi. Tak dipungkiri, pikirannya juga ketar-ketir sejak mendengar suara horor itu.
Lisa nyaris menjatuhkan tubuhnya jika tidak segera ditopang oleh rangkulan Vivi.
"Di ruangan itu hanya ada dua orang! Apa yang sebenarnya terjadi?" Suara Lisa terdengar lemah dan mulai terisak. Tapi mbak Vivi terus menahan Lisa masuk sebelum memastikan keadaan diruangan itu aman.
"Ada apa sih, Mbak?" terus bertanya-tanya selagi bodyguar dan satpam berdatangan dari luar. Pikiran negatif berkeliaran di otak Lisa. Menari-nari jahat tanpa bisa teralihkan.
***
Positif thingking dulu ya🤭.
Jangan lupa kacih bunga yang banyak ya. Biar upnya cepet.🙏🙏