
Aroma angin laut yang begitu pekat menyeruak hingga masuk ke dada. Bau-bau duka atas kematian menyelimuti setiap anggota keluarga yang datang memperingatinya. Riuh tangis dan tawa riang anak kecil bercampur jadi satu. Menghadirkan rasa rindu pada keluarga yang abadi di dalam perairan laut lepas sana.
Kini ... bentala yang kita pijak sedang berduka cita. Pedihnya kehilangan membanjiri setiap sanak keluarga yang ditinggalkan oleh korban.
Tiga tahun sudah berlalu, dan hari ini merupakan hari peringatan jatuhnya pesawat yang Reyno dan Jennie tumpangi bersama korban-korban lainnya. Dan beberapa anggota keluarga korban lainnya pun ikut memperingati peristiwa mengerikan tiga tahun lalu yang rasanya masih seperti mimpi bagi para keluarga korban yang ditinggalkan.
Ombak pagi mengalun tenang mewakili acara duka kali ini, diawali doa bersama, kemudian disusul acara tabur bunga di dekat dermaga untuk mengenang jasad-jasad korban yang tidak dapat ditemukan hingga kini. Termasuk Reyno dan Jennie.
Mereka abadi, baik di dalam hati maupun di dasar laut sana.
Bunga-bunga mulai ditaburkan secara bersamaaan dari tepian dermaga. Lalu hanyut dan terbawa oleh ombak. Setelah menaburkan bunga, Lisa dan Farhan menuntun si kembar agar kembali ke tempat duduk.
"Sayangnya Bunda yang kuat ya!" Lisa menenangkan dua anak kembar itu secara bergantian. Keduanya menangis tersendat-sendat meski sudah diapit oleh Farhan dan Lisa. Mereka semua duduk rapih di atas kursi yang sudah disediakan di tepian dermaga. Semua yang datang kompak mengenakan baju putih senada sebagai bentuk dukanya.
Di belakang mereka ada seluruh keluarga Haris dan keluarga Hermawan yang juga ikut memperingati. Sementara di belakangnya lagi ada pak Farik dan anaknya Malika. Selain itu juga ada perwakilan karyawan dan keluarga-keluarga korban yang ikut menghadiri acara duka yang disponsori oleh Revical Grup.
"Kita kuat, tapi kita tetep kangen mamah dan papah," ujar Cello sembari terisak. Farhan segera merapatkan duduknya. Ia memangku Cello, sementara Lisa memangku Cilla yang terus menangis di pelukannya.
Sebisa mungkin Lisa dan Farhan menahan air matanya agar tidak tumpah. Meskipun sudah berusaha mati-matian menghadirkan keceriaan untuk anak kembar itu selama bertahun-tahun, nyatanya hati mereka tetap diselimuti rasa rindu mendalam pada kedua orang tuanya.
Satu-persatu anggota keluarga pergi lantaran acara sudah usai. Hanya ada Farhan sekeluarga dan sebagian orang yang masih betah berlama-lama di sana.
Saat sedang mengedarkan pandangannya, mata Lisa menangkap sosok wanita yang sedang menggendong anak tiga tahun. Dia sedang berdiri dengan jarak sekitar lima meter dari tempat duduk Lisa sekarang.
Dari gelagatnya, wanita itu pasti juga keluarga dari korban jatuhnya pesawat tiga tahun lalu.
"Mas, aku datang! Ternyata sudah lama ya, kita nggak ketemu. Tiga tahun loh ini, katanya kamu udah nyiapin nama yang bagus buat anak kita. Mana buktinya? Dasar pembohong! Nyebelin! Bukannya nepatin janji, tapi malah menetap di laut ngga mau pulang." Wanita itu berdecak manja sambil mengelus anaknya yang tertidur di dalam gendongan. Dia tersenyum getir sesaat setelah mengatakannya. Namun tampak jelas air muka kesedihan menggenangi wajah wanita tersebut.
Lisa masih diam memperhatikan tingkah wanita itu. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat Lisa dapat mendengar keluhannya. Sepertinya wanita itu adalah korban yang ditinggalkan oleh suaminya dalam keadaan mengandung.
"Anak kita udah tiga tahun. Dia sudah mulai nanyain kamu nih, Mas. Dasar suami nakal, masa kamu ninggalin kita pasca anak kita lahir. Akhirnya aku kasih nama anak kita pakai nama kamu. Biar kamu punya saingan baru, terus balik lagi dan marahin aku."
Wanita itu menendang pasir sebagai bentuk kekesalannya.
"Sampai sekarang aku masih nggak bisa percaya kalau kamu udah pergi." Ia mengusap kristal bening sebagai bentuk jatuhnya pertahanan diri. Wanita itu mulai terisak seraya memeluk anak di dalam gendongannya semakin erat.
"Kalau memang kamu udah beneran pergi. Mana buktinya ... aku ngga bisa lihat jasad terakhir kamu. Aku nggak bisa lihat dan datang ke pemakaman kamu. Memangnya enak tiap kangen selalu datang ke pantai seperti ini? Orang lain rekreasi, aku malah nangis. Aku jadi benci pantai tau gara-gara kamu."
Sontak Lisa membola kaget. Ia menyibak rambut yang menutupi telinga agar pendengarannya semakin jelas. "Kasihan sekali wanita itu," gumam Lisa pelan. Ia melirik Cilla, ternyata gadis kecil itu sudah tertidur di pangkuan Lisa. Farhan juga sedang bersandar di bahu Lisa, sementara Cello diajak pergi oleh kakeknya entah ke mana.
Wanita itu menjatuhkan lutunya di atas pasir. Dia mulai meraung-raung frustrasi. Lisa ingin sekali menolong, namun ada Cilla yang cukup berat sedang tertidur di pangkuannya. Sementara Farhan tak mungkin mau menyentuh wanita lain selain dirinya.
Tak beberapa lama, sepasang suami istri paruh baya datang membujuk wanita itu. Mereka menangis sambil memeluk ibu tunggal tersebut. Kemudian membawa pergi ibu dan anak itu dari tepian dermaga.
Lisa masih termangu dalam keterdiaman. Air matanya mulai jatuh perlahan akibat terlalu syok melihat kejadian sepintas tadi.
Selama ini Lisa selalu berpikir bahwa hidupnya di masa kecil sangatlah malang. Ia ditinggilakan oleh ayah ibunya karena kecelakaan tunggal. Kemudian harus hidup menderita sampai bisa bertemu dengan Farhan si malaikat penolongnya.
Sangat menyedihkan, tapi bukan itu yang membuat pikiran Lisa berkelana.
Seberat-beratnya Lisa ditinggalkan kedua orang tuanya, ia masih bisa mengunjungi makan orang tuanya jika rindu. Ia juga bisa melihat jasad dan ikut mengantarkan kedua orang tuanya ke peristirahatan terakhir.
Namun, nasib si kembar dan para korban lainnya sungguh berbeda. Jangankan berkunjung ke pemakamannya setiap waktu, melihat jasad terakhirnya saja tidak bisa lantaran tubuh para korban tidak dapat terangkat ke permukaan.
Ah, kejadian ini sungguh menyayat hati kalau dipikir-pikir. Betapa kasihannya para keluarga korban yang ditinggalkan. Mereka: para korban dinyatakan meninggal, tetapi tidak ada bukti mata yang dapat dilihat keluarga kecuali kabar pesawat yang jatuh.
Apalagi saat mendengar rekaman black box. Bukannya tambah lega, keluarga malah dibuat menjerit ngilu akibat teriakan panik para korban.
Ini adalah mimpi terburuk para penumpang pesawat. Mereka begitu frustrasi saat terjebak dalam badan burung besi raksasa tanpa tahu harus berbuat apa. Belum lagi harus mendapat atmosfer horor di mana pesawat terguncang hebat, teriakan histeris para penumpang yang memekakkan telinga, dan melihat saat-saat terakhir pesawat sebelum jatuh menjadi hal sangat yang mengerikan.
Akhirnya satu-persatu penumpang meregang nyawa akibat kekurangan pasokkan oksigen. Di dalam keadaan yang panik luar biasa, mereka saling berpelukan dan menyaksikan kematian demi kematian yang merenggut nyawa masing-masing.
Semua orang tahu bahwa mati memang sangat menakutkan, namun seorang ahli medis pernah berkata bahwa mati karena kehabisan oksigen adalah proses meregang nyawa yang paling mengerikan sekaligus menyakitkan.
Dan terakhir, pesawat meledak hingga menghasilan potongan-potongan organ tubuh manusia yang saling bertabrakan dengan bahan materi pesawat. Kemudian jatuh di dalam perairan yang cukup dalam hingga tubuh korbannya tak bisa dievakuasi.
Menetap di sana. Selama-lamanya.
...***...
...Hadirnya berita duka adalah sebuah kekuatan yang Tuhan berikan untuk kita setiap insan manusia. Terima tidak terima duka itu pasti akan datang....
...Menangis adalah bukti bahwa kita masih memiliki hati. Mari sematkan doa-doa kecil dan harapan kita untuk Indonesia....
...SEMOGA SAMUDRA YANG MENJADI TEMPAT TERAKHIR MEREKA MENJADI JALAN MENUJU SURGA...
...🙏🙏🙏😥🥰...