
Seharian ini, Rico benar-benar dibuat repot oleh kelakuan Farhan yang kekanakan. Rasanya seperti naik turun gunung, lewati lembah, menyeberangi sungai dengan isi buaya lapar, dan parahnya lagi, pria itu tidak tahu di mana letak salahnya. Ia sibuk mengerjakan perintah anak-anak dari Farhan.
Ada kala di mana Rico berani melawan Farhan atau memaki balik, tapi untuk kali ini Rico tidak berani. Ia masih perlu mencerna baik-baik sikap Farhan kepadanya.
Rico akui, Farhan banyak menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak penting. Mengecek anggaran tahun lalu, memfoto kopi file di lantai baseman, membuat kopi dengan 200 butir gula. Ah! Coba bayangkan, Rico harus menyendok setiap butir gula sampai 200 biji. Sekecil itu sampai ia harus menggunakan kaca pembesar sambil menghitung. Rico tahu Farhan sedang menghukumnya, akan tetapi ia tak memiliki waktu untuk bertanya pada pria horor itu.
Masih belum cukup, Farhan juga menyuruh Rico memberi makan kucing liar di sekitar gedung. Harus ada dua puluh jenis kucing yang diberi makan dengan bukti dokumen foto. Gila, Rico sudah seperti orang bodoh yang mondar-mandir di sekitar gedung. Mencari kucing di semak-semak. Bahkan, sampai bertanya pada orang sekitar, apakah melihat kucing liar lewat?
Yang terakhir, leher Rico hampir putus karena harus mendongak ke langit. Di mana matahari sedang jahat-jahatnya menyengat kulit. Farhan menyuruh Rico menembak burung yg lewat dan menabur kotoran di roftoop pribadinya. Sungguh suatu perintah konyol. Entah Rico setia atau bodoh, yang jelas tak ada perintah Farhan yang tidak ia lakukan.
"Apa burungnya sudah dapat?" Farhan muncul dari balik pintu. Memasukan kedua tangannya ke saku celana, lantas menyeringai puas melihat Rico kelojotan menahan panas. Menurut Farhan, itu belum seberapa jika dibandingkan dengan malu yang harus ditanggung Farhan.
"Tuan, anda kejam sekali. Sebenarnya apa salah saya?" tanya Rico dengan wajah polos tak berdosa. Akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya. Menandakan pria itu sudah lelah. Saatnya melambaikan tangan ke arah kamera.
Farhan melipat dahinya dalam-dalam. Memicingkan mata tidak senang karena pertanyaan Rico.
"Pikir sendiri!" ketus pria itu.
Bagaikan anak perawan, Farhan melengos. Meninggalkan Rico yang sedang berdiri kaku, lantas berjalan ke arah rak minuman, lalu duduk di depan bar mini miliknya itu.
"Tuan, tolonglah, aku tidak sepeka itu jika harus memikirkan letak kesalahanku di mana. Sepertinya masalah pekerjaan baik-baik saja."
Rico sudah mengenal Farhan belasan tahun, tentunya ia tahu seperti apa bossnya kalau sedang ngambek. Ah, tiba-tiba Rico teringat sesuatu. Apa jangan-jangan lamarannya tidak berhasil? Lalu Farhan kesal dan melimpahkannya pada Rico.
"Oh ya, Tuan!" Dia berlari ke arah bosnya yang sedang duduk memainkan gadget. "Bagaimana acara lamaran semalam? Apa berjalan lancar? Kalian sudah resmi —" Farhan memotong ucapan Rico cepat.
"Lancar?" Farhan berdecih sinis. "Maksudmu lelucon badut yang kau buat?"
Pria itu kembali menunduk. Memeriksa laporan Kate dari Amerika dengan gaya batu bernapas.
"Tuan, apakah ada yang salah? Kenapa saya merasa disudutkan begini?" Rico memelas iba. Jujur saja, pria itu tidah tahu sama sekali tentang isi dari tutorial melamar wanita yang ia kirim ke Farhan. Keadaan juga sangat buru-buru. Rico asal menyalin tanpa membaca isinya terlebih dahulu.
"Karena aku iri dengan selimut tentangga. Aku juga ingin memiliki selimut hangat yang membalut tubuhku setiap malam. Yaitu kamu, Lisa." Farhan mengulang lagi ucapannya tadi malam.
Sengaja, agar Rico paham betapa memalukannya seorang Farhan saat itu.
"Harta, tahta, maukah kau menjadi istriku, Lisa?"
"Ya Tuhan." Rico terpuruk lemas. Lututnya langsung jatuh sambil membayangkan betapa malunya seorang Farhan dipermalukan oleh kata-katanya sendiri.
"Bunuh aku Tuan, aku siap mati untukmu," ucap Rico memasrahkan diri.
"Jadi ini, jawaban dari Anda yang memberiku hukuman aneh-aneh. Maafkan saya Tuan, meski saya tahu kata itu tidak akan mengembalikan harga diri Anda."
Otak Rico masih di penuhi rasa yang berkecamuk. Bayangan-bayangan pria dingin mengucapkan gombalan terus berputar. Di otaknya seperti ada rekaman fatamorgana di mana Farhan mengucapkan kata-kata itu di depan Lisa.
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Terima kasih, berkat kata-kata mutiara sialan yang sisipkan, aku di tolak mentah-mentah oleh bocah itu. Dihina, juga jadi bahan tertawaan."
Farhan menuangkan sebotol coktail rendah alkohol ke dalam gelas. Meminumnya hingga tandas sebagai wujud frustasinya.
***
Lisa meniup-niup poninya bosan. Dua hari bekerja di Revical Grup belum memiliki teman. Selain Rico, ia masih belum mengenal siapapun di sini. Semua orang seperti segan berteman dengan Lisa, apalagi jika melihat anak itu masuk melalui orang dalam. Pasti banyak yang tidak suka dengan Lisa. Gadis berumur dua puluh tiga tahun itu mendapat jabatan sekertaris muda. Anak di bawah bimbingan Katy dan Rico. Akan tetapi Katy masih di LN. Menggantikan Farhan yang terpaksa harus pulang mengurus si kembar.
Melamun lagi, Lisa memikirkan sahabat SMA-nya, Jennie. Yang tidak lain adalah ibu dari si kembar. Sayangnya Lisa sudah lama kehilangan kontak. Bahkan ia tidak tahu bahwa sahabatnya itu telah tiada.
Bagaimana jika Lisa sampai tahu yang sebenarnya? Biarlah waktu yang kan menjawab semua.
"Aku rindu Jennie. Hari minggu kenapa lama sekali, sih?. Aku ingin kerumah bunda, sekalian tanya di mana alamat Jennie sekarang. Semoga kamu masih di Jakarta ya Je," desah gadis itu seraya memangku dagunya dengan kedua tangan.
Setelah selesai mengerjakan proposal untuk pengajuan mendirikan bangunan, Lisa berdiri perlahan. Melangkah anggun menuju ruang kerja Farhan.
"Astaga!" Lisa menutup mulutnya tidak percaya. Dilihatnya Rico tengah berlutut. Wajahnya mengenaskan, mengundang iba dan rasa kasihan.
"Apa Anda sedang menghukum pak Rico, Tuan?" gertak Lisa. Naluri wanitanya tidak suka melihat kekerasaan seperti itu.
"Dia sedang menghukum dirinya sendiri. Berlutut dan menampar wajahnya seratus kali." Farhan menjelaskan, menatap Rico sekilas sebelum kembali pada kehadiran Lisa di depannya. "Bukan aku yang menghukumnya," lanjutnya lagi.
"Apa Pak Rico bodoh? Untuk apa menghukum diri sendiri?"
"Itu semua karenamu Lisa!" gertak Rico sebal.
"Kau berani membentak calon istriku?"
Oh, astaga! Sungguh tidak tahu malu seorang Farhan. Baru semalam ditolak, sekarang berani menyebut Lisa sebagai istrinya.
"Eh ... eh, Tuan." Lisa mendekat ke arah Farhan. "Saya sudah menolak Anda semalam. Jangan sembarangan bicara."
"Suka-sukaku," ujar Farhan sambil melirik Rico.
"Terserah Anda, Tuan! Saya hanya mau mengantar berkas ini." Menaruhnya di atas meja Farhan. "Seperti perintah Anda! Sudah ku cek ulang sebanyak tiga kali," imbunya.
"Pak Rico, jaga diri baik-baik. Semoga saja tuan Farhan tidak menyentuhmu," sindir Lisa karena Rico tak keluar dari ruangan Farhan sedari tadi.
"Tenang saja, aku menyiksa diri karena inisiatif," balas Rico konyol.
"Ck. Anda sungguh kreatif ya, Pak! Inisiatif menyiksa diri sendiri."
Lisa mendadak lelah, ia tidak tahan berada di ruanganan yang sama dengan duo jomlo abadi. Selalu saja ada tingkah aneh-aneh yang membuat perut mual.
Yang satu seperti sultan gila, dan yang satu seperti masokis yang menyiksa diri sendiri.
Cocok sekali, sayangnya mereka sesama jenis. Sesuatu yang ditakdirkan tidak bisa bersama.
***
Jangan lupa bagi-bagi poin yes... 😘😘😘