HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 40 : (Season 2)



Sementara di kelas, Cilla mulai panik lantaran kakaknya tak kunjung kembali ke kelas juga. Padahal bell tanda masuk kelas sudah dibunyikan dari sepuluh menit yang lalu. Dan semua murid sudah duduk rapi mengerjakan lembaran tugas yang diberikan oleh bu guru sebelum istirahat tadi.


Gadis kecil kembaran Cello itu mulai merasakan firasat-firasat tidak entak di dalam hatinya. Seolah memiliki satu hati yang sama, Cilla merasa kakaknya dalam keadaan mara bahaya sekarang.


Di temani oleh Vinda teman satu kelasnya, Cilla berjalan ke kantor guru mencari wali kelasnya yang masih sibuk di ruangannya memeriksa nilai laporan mingguan anak-anak.


"Bu!" Vinda teman Cilla mendesak masuk ke ruangan bu Dian sambil menggandeng lengan Cilla. Bibir Cilla sudah bergetar bersamaan dengan air mata yang mulai jatuh perlahan membasahi pipi. "Marcello belum pulang, Bu. Dia ilang!" serunya. Cilla tambah terisak-isak tak kuasa saat mendengar temannya berkata bahwa Cello menghilang.


Wanita bernama lengkap Diana Miraloka itu terperanjat, lantas segera memeluk tubuh bergetar Cilla sambil menenangkan gadis kecil itu. "Kok bisa? Tadi terakhir kakak kamu bilang mau ke mana pas istirahat?"


Cilla menggeleng tak tahu. Gadis kecil mudah lupa itu sudah berusaha mengingat-ingat apa yang kakaknya ucapkan tadi. Kalau tidak salah, Cello akan makan siang di suatu tempat. Namun Cilla tidak terlalu mendengar ocehan kakaknya lantaran sibuk memikirkan siomay.


Bersamaan dengan itu, wali kelas Malika masuk ke kantor dengan panik. Ia mengabari kepala sekolah bahwa Malika juga tidak kembali lagi ke kelas semenjak istirahat tadi.


Sontak semua yang mendengarnya langsung berpikir bahwa dua anak itu kabur bersama-sama.


"Bu, Macell anak didikku juga hilang!" seru bu Dian pada wali kelas empat.


"Ya Tuhan bagaimana ini? Apa mereka berdua kabur? Atau jangan-jangan diculik?"


Makin kejerlah Cilla mendengar kata 'culik' yang diucapkan wali kelas Malika.


"Tenang! Tenang dulu semuanya. Mari kita periksa ke ruang CCTV. Barang kali kita bisa menemukan titik terang," ucap pak kepala sekolah mencoba menenangkan. Padahal ia sendiri sudah panik luar biasa lantaran anak yang hilang adalah anak emas kesayangan Farhan. Donatur terbesar yang setiap tahunnya menyumbang di sekolah itu.


*


*


*


Semuanya sedang berdiri di CCTV sekarang. Orang tua Malika dan si kembar sudah dikabari dan sedang dalam perjalanan ke sekolah. Jangan tanya ekspresi Farhan di sana. Ia sudah panik luar biasa saat mendengar kabar Cello menghilang.


Satu persatu CCTV di periksa untuk mempermudah proses pencarian. Diawali penayangan dari sudut kelas dua, di situ Cello tampak berlari riang membawa bekal makanannya. Ia pergi menuju kantin dan mengantri di sebuah kedai siomay.


Cilla makin terisak saat melihat kakaknya yang begitu peduli dan rela mengantri di antara banyaknya pembeli hanya untuk satu porsi siomay yang diinginkannya. Cilla tidak tahu seperti apa ramainya kantin karena hampir tidak pernah menginjakkan kaki di sana. Andai tadi Cilla ikut, mungkin kakaknya tidak akan hilang bersama Malika.


Apa kakak diculik kecap?


Begitulah isi pikiran Cilla saat mengetahui bahwa Cello dan Malika menghilang bersama-sama.


Sudut-sudut CCTV terus dicek satu-persatu. Di layar itu Cello mulai berjalan menuju tempat sepi ke arah belakang sekolah yang sudah tak terjangkau oleh kamera CCTV. Ada Malika yang juga diam-diam berjalan mengikuti Cello dari belakang.


"Cepat suruh satpam periksa ke area belakang sekolah!" seru pak kepala sekolah. Semuanya langsung bergegas pergi menghambur untuk mencari Cello dan Malika!"


Perlahan Cello mulai berangsur-angsur sadar.


"Lika," lirihnya.


"Tahan El, bu guru pasti akan menyelamatkan kita! Terus kayak gini biar kita bisa napas."


Sebuah keajaiban terjadi saat anak-anak itu tengah dilanda keputusasaan. Suara-suara orang berteriak memanggil nama mereka mulai terdengar samar-samar.


"Ada yang datang El!"


Malika bangun dengan sisa tenaganya. Ia memukul-mukul pintu dan berteriak sekuat tenaga untuk mendapatkan perhatian.


Salah seorang satpam yang melihat pintu gudang penyimpanan barang itu bergerak-gerak langsung berseru,


"Apa ada orang di dalam?"


"Tolong ...tolong!" Terdengar suara teroakam sangat kecil.


Satpam itu langsung berlari sambil merogoh kunci cadangan. Beruntung setiap satpam memiliki kunci ruangan masing-masing. Jadi tidak perlu pusing mencari kunci yang dibawa oleh anak SMA tadi.


"Ketemu!" Pak satpam berseru memanggil semuanya. "Anaknya ada di sini," teriaknya lagi.


Semua segera berlari. Cilla menjadi orang terdepan yang menggunakan seluruh tenaganya untuk segera sampai ke tempat kakanya berada.


Begitu ia sampai, Cilla langsung berlutut memeluk kakaknya yang sedang berbaring lemah seerat mungkin.


"Kakak ngapain di sini? Aku takut banget, aku nggak mau kakak sampai pergi ninggalin aku kayak mamah dan papah," isaknya. Malika menyingkir sedikit untuk memberikan ruang pada dua kakak beradik yang sedang ketakutan tersebut.


Pemandangan yang sangat menyedihkan termpampang nyata di depan semuanya yang melihat mereka. Dua anak kembar yang selalu bergantung satu sama lain itu saling berpelukkan dan menangis seolah takut sekali dipisahkan.


Dengan adanya kejadian ini. Semua yang ada di sana bisa memerasakan betapa besarnya getar takut akan rasa kehilangan yang tersematkan di hati mereka berdua. Sekuat apa pun keceriaan mereka menutupi, nyatanya hati si kecil itu menyimpan kerapuhan teramat dalam.


Cello terlelap kembali di pelukan sang Adik. Membuat gadis itu panik dan menjerit histeris sekuat tenaga.


"Kakakkkkkkk!"


***


Up kedua. Jangan lupa dukungan hadiah-hadiahnya.