
"Apa yang kalian lakukan tengah hari bolong begini sampai tidak bisa dihubungi?" Suara tuan Haris dibuat melirin agar tidak didengar oleh Malika. Namun mata mendelik dan wajah emosinya tidak dapat ditutupi sama sekali. Ia kesal lantatan Farhan dan Lisa kompak tak mau mengangkat panggilan daruratnya. Benar-benar dua anak kurang ngajar mereka itu!
"Maaf, kami sedang melakukan program hamil, jadi butuh waktu ekstra untuk berdua." Farhan menjawab santai apa adanya. Tanpa sedikit pun tambahan ataupun pembelaan karena seperti itulah kenyataannya.
Tuan haris tertohok. Sudut alisnya meninggi sebelah dengan kernyitan di sekitar dahi. "Apa harus banget siang-siang begini, Han?" kesalnya.
Farhan mendudukkan tubuhnya di atas sofa sambil menyilangkan kaki. "Tidak juga! Kami hanya memanfaatkan momen dan kesempatan yang ada," jawab Farhan logis.
Tuan Haris menggelengkan kepala. Bapak paruh baya itu tampak terkejut mendengar kalimat yang cukup menohok baginya. Ada geraman tertahan hingga bibirnya sedikit berkedut.
Sepertinya aku salah bertanya. Bisa-bisanya anak ini pamer pada tua bangka sepertiku dengan bahasa senatural itu. Tanpa rasa dosa pula!
Tuan Haris mendengkus sambil membuang mukanya, geram. Karena tuan Haris sudah dimakan usia. Jujur ia iri mendengar gairah semangat Farhan dan Lisa yang tak mengenal waktu dan kondisi.
"Ngomong-ngomong bagaimana keadaan pak Farik? Sepertinya dia belum sadar juga dari tadi." Farhan berbicara sambil melirik Malika yang sedari tadi menangis di samping tubuh lemah ayahnya. "Lalu keluarganya juga, kenapa belum ada yang datang?"
"Dia masih dalam pengaruh obat bius. Kau ini tidak sabaran sekali Han, istri dan anaknya yang lain sedang di Bandung saat aku mengabarinya. Jadi mereka akan tiba di sini sekitar 2 jam lagi karena perjalanan menggunakan mobil."
"Begitu ya?"
Farhan kembali melirik Malika. Ia yang tidak tega melihat gadis kecil itu terus menangis langsung bangkit dari sofa dan bergerak mendekatinya. "Ayo ikut, Om."
Malika mendongak. Sedikit terkejut mendengar suara Farhan yang dibuat lirih. Pria itu menyentuh pipi Malika yang terluka akibat ulah Cilla tadi.
"Pipimu terluka, apa kalian sempat bertengkar?" tanya Farhan yang sudah tahu bahwa anak-anaknya sempat bertengkar lewat aduan salah satu karyawan.
Malika tertunduk seraya meremas jari-jemarinya. Anak itu merasa bersalah luar biasa karena telah berpikir Farhan adalah orang jahat yang tega mencelakai ayahnya. Meski Malika sempat melihat gaya marah Farhan pada pak Farik tadi, tapi sikapnya pada Malika jauh berbeda. Ia berubah lembut seperti bukan Farhan yang Malika lihat tadi siang.
"Ayo kita cari suster yang berjaga. Obati dulu lukamu." Farhan menyentuh puncak kepala bocah kecil yang sedari tadi hanya diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lantas mengajak anak itu keluar untuk mencari bantuan suster.
Setelah mengobati luka cakar di pipi Malika. Farhan segera menghubungi Lisa untuk menyuruh Malika bergabung bersama mereka. Namun Farhan sedikit terkejut saat yang mengangkat panggilannya adalah Cilla.
"Loh kok yang angkat Adek, bunda mana?" tanya Farhan.
Kita semua lagi pulang ke rumah pakai taksi Yah. Bunda lagi tidur di kursi depan, katanya bunda pusing nyium bau rumah sakit.
Cilla si jutek berdecak dari balik sana. Udah Cilla bilang kalau bunda gak suka nyium bau rumah sakit. Ayah ngerti dikit dong, kalo ayah mau obatin bunda dokternya aja yang suruh pulang.
Pria itu tertegun mendengar bicara Cilla. Titisan Reyno yang satu ini memang mirip sekali dengan ayahnya. Mereka bagaikan amoeba yang membelah diri kalau urusan jutek dan ngambek. Membuat otak Farhan suka berkelana, memikirkan apa hasilnya jika batu bernapas dan gadis barbar dikarunia es batu junior.
"Ya sudah, ayah langsung pulang ya ... tolong jagain bunda. Nanti sampai rumah Cilla minta bibi buat bikinin teh hangat untuk bunda," ucap pria itu, dan kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Farhan menaruh ponselnya di saku celana, kembali melirik Malika yang terus menunduk di sampingnya. "Om harus pulang karena istri Om lagi sakit. Bagaimana kalau kamu ikut om ke rumah saja?"
Tentunya Malika langsung menggeleng tidak setuju. Apaan sekali si? Malika mana bisa bertamu di rumah si kembar yang statusnya sekarang sudah menjadi musuhnya.
Farhan berkata lagi. "Rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak kecil. Kalau kamu sampai sakit, orang tua kamu yang akan repot."
Malika semakin tertunduk resah. Tangannya terus meremas dress putihnya hingga tampak sedikit lusuh. "Aku mau jagain ayah di sini," ujarnya.
"Mana bisa begitu. Sebentar lagi kamu pasti akan diusir oleh suster. Besok kita ke sini lagi. Malam ini menginaplah di rumah om. Biarkan kakak dan ibumu menjaga ayahmu di sini, nanti om akan kabari ibumu biar tidak khawatir."
"Tapi—"
"Ngga ada tapi!" potong Farhan cepat.
Malas berlama-lama. Farhan menggendong paksa Malika. Gadis itu terkejut dengan sikap gagah Farhan.
Om ini kenapa keren sekali? Mirip pangeran yang ada di dongeng Cinderella, batin anak itu terheran-heran.
Kalau udah gede aku mau nikah sama cowok yang kaya gini. Malika sontak menutup mulutnya tidak percaya. Bisa-bisanya ia memikirkan hal seperti itu? Uh, jadi malau kan!
Karena Malika sudah besar dan cukup paham perasaan orang dewasa, jadi ia memutuskan untuk menuruti keinginan Farhan. Hanya saja Malika harus siap-siap dimakan anak piranha yang sudah menantinya di rumah. Cilla pasti tidak akan membiarkan Malika lolos, tapi anak itu tidak memiliki pilihan lain selain ikut dengan Farhan.
Di rumah sendirian juga tidak mungkin.
***
Kasih hadiah dong.... biar aku semangat nulisnya. gak mood gini😝.