
"Ya nggak bisa gitu dong, Mas!" Lisa sudah meninggikan nada suaranya. Ia begitu terkejut saat Farhan menyuruhnya kerja di rumah secara dadakan begini. Padahal dia sudah ada janji makan siang bareng mbak Vivi. Siapa yang tidak marah coba?
Pria itu berdiri kaku di hadapan Lisa yang sudah rapi mengenakan seragam kantor. Ceritanya mau ikut kerja seperti biasa karena Lisa tahunya dia masih aktif di kantor. "Lis, kamu harus tahu di mana posisi kamu sekarang. Semua ini aku lakukan demi kebaikanmu dan calon anak kita. Tolong mengertilah."
Lisa tetap membantah, "Tapi hamilku masih muda, Mas! Kenapa aku tidak bisa seperti karyawan lain yang bisa cuti setelah tujuh bulan? Toh badan aku sehat-sehat saja. Kecuali kalo aku penyakitan baru kamu suruh aku di rumah."
Ada geraman yang Farhan tahan saat mendengar ucapan Lisa barusan. Pria itu mengembuskan napasnya pelan, kemudian berjalan menuju pembaringan dan berlutut di pangkuan Lisa yang sedng duduk di bibir tempat tidur.
"Tolonglah." Bicara memang lembur, tapi tatapannya tetap mengintimidasi korban yang ada di hadapannya. "Kamu harus sadar siapa yang menjadi suamimu. Bahkan jika statusmu seorang pengangguran sekali pun, kamu masih bisa jalan-jalan ke luar negeri setiap Minggu. Tidak perlu bekerja seperti karyawan lain."
Tak lupa mengelus si jabang bayi yang bertakhta di perut Lisa seolah tidak peduli pada si istri yang kesal terhadapnya.
"Tapi Mas—" Wanita yang tengah hamil muda itu merengut masam. "Harusnya kamu bilang dulu sama aku. Lagian gak ada yang aneh dari badan aku, Mas," protes wanita itu untuk kedua kali. Lalu berdiri seraya berkacak pinggang.
"Aku bisa bosan kalau di rumah sampai anak kita lahir. Gak kasihan sama aku apa?" Kali ini wajah Lisa berubah memelas. Ingat. pria batu seperti Farhan harus di tetesi air dulu agar kerasnya terkikis. Batu ketemu batu malah akan membuat hancur lebur. "Kamu gak lupa kan, kalau tujuanmu menyekolahkanku ke Amerika untuk apa? Dan aku belum bisa mewujudkan itu, Mas. Aku mau jadi wanita karier yang sukses sesuai apa yang kamu minta saat kita berangkat ke Amerika dulu."
"Aku tidak pernah menyuruhmu berhentu total. Aku juga tidak lupa dengan hal itu. "Farhan ikut bangun dari posisi berlutut. "Dengarkan penjelasanku dulu makannya. Kamu masih bisa ke kantor, tapi tidak setiap hari seperti biasanya. Jam kerjamu juga akan dikurangi. Itu adalah batas toleransi dariku."
"Ah begitu." Lisa mencopot blazer yang melekat di tubuhnya sedari tadi. “Oke, aku terima permintaanmu untuk yang satu ini.” Kemudian meninggikan nada suaranya. “Tapi aku tidak suka caramu yang suka ambil keputusan tanpa memberitahu aku dulu. Seolah aku itu bukan istrimu saja!”
Farhan menarik napasnya pelan. Ia sudah tahu hal ini pasti akan masuk ke dalam pembahasan pagi ini. Maka pria itu berkata lagi, “Awalnya juga mau seperti itu, harusnya kemarin aku memberitahumu, tapi karena sibuk bermain dengan si kembar, aku jadi lupa masalah itu. Dan malamnya kamu tahu sendiri kalau aku sibuk bermain denganmu,” jawab Farhan sambil mengedikkan setengah bahunya sebagai isyarat.
"Pintar sekali alasanmu. Dasar si penyembah logika!" Lisa menukas dengan bahasa lugas.
"Itulah fakta yang sesungguhnya." Farhan berjalan dengan gaya arogan setelah semuanya beres. "Ayo kita turun dulu, anak-anak sudah menunggu kita sarapan di bawah."
Lisa mencegah. "Tapi aku bosan di rumah."
Wanita itu segera memeluk pinggang Farhan dari belakang. Tangannya turun perlahan merambat ke bagian bawah hingga membuat Farhan reflek menggenggamnya agar jangan menyentuh si gagang gayung. Pria itu sedikit gugup mendapat perlakuan manja ala-ala Lisa yang mulai merusak akal sehatnya.
“Kamu mau apa?” Dia bertanya dengan kerjapan mata gugup. Tidak mungkin kan si istri barbar yang satu ini minta lagi setelah semalam dipuaskan sampai loyo?
Anggap saja ini adalah balasan untuk suami yang menyebalkan, ck. Lisa membatin dengan mata sengit.
“Kamu mau apa?” Farhan memutar tubuhnya sambil memasang senyum cerah. Pria itu sangat girang mendengar Lisa menginginkan sesuatu. Pasalnya wanita itu memang tidak pernah minta apa-apa selama ini.
“Aku mau makan masakanmu sekarang juga. Bisa, ‘kan?”
"Oh gampang." Dia begitu antusias saat menjawab. "Aku akan menghubungi Alex agar mengundur jadwal rapatku sampai nanti siang. "Kamu mau dimasakin apa?" tanya Farhan. Masalah masak itu gampang, secara dia lebih jago masak daripada istrinya Lisa.
Betina belum jinak itu menyunggingkan bibir atasnya. "Cuma satu masakan saja sih," jawab Lisa.
"Oke, mau masak apa?"
"Aku pesan bahan makanannya dulu di pasar online." Dia melangkah pelan menuju nakas. Kemudian mengambil ponsel dan membuka layarnya dengan sensor wajah.
Kita lihat, apa kamu masih bisa senyum saat tahu masakan ekstrim apa yang kuinginkan?
Dua tanduk setan fatamorgana hadir di kepala Lisa seketika. Sebentar lagi Farhan akan kelimpungan pastinya. Mengerjai suami menyebalkan sesekali tidalk apa, 'kan?
***
Bantu kasih vote poin yg banyak dong. Biar novel ini masuk rank, dan aku jadi mangat nulisnya. wkkwwk.
Karena banyak yg request bonus chapter sampai lahiran. Aku akan tulis ya, tapi semampunya karena aku agak sibuk. Untuk part anak Farhan lahiran udah aku post di IG @anarita_be. Ada yang udah baca belum? Wkwkw. Jangan pada ngelus dada ya. Aku liat ko emosi semua. wkwkkw.
Cuss yuk kesana. Yang pada nanya visual jg boleh ke sana
IG: @anarita_be