HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 31 : (Season 2)



...INTRO SEBENTAR SEBELUM BACA....


...Berhubung grup chat aku sepi dan seperti kuburan. Jadi untuk sementara grupku aku kunci ya, biar ngga jadi sampah karena membernya sibuk-sibuk. Dan semua member aku kick, mungkin akan dibuka lagi suatu saat kalau ada yang mau mengisi kehadiran di sana. Jika ada kepentingan untuk ditanyakan atau mau kenalan. boleh banget DM di Ig @anarita_be. Terbuka untuk semua pembaca atau penulis. Di Balas sesuai urutan, dan semampunya....


...Untuk semua pembaca yang sudah dukung dan kasih hadiah poin. Aku bener-bener berterima kasih banget atas apresiasinya. Novelku yang gak ada apa-apa ini juga bisa bernilai berkat kehadiran kalian. Semoga kita bisa selalu rukun untuk kedepannya. Aku nulis, kalian baca. Hehehe....


...Next**---->...


***


Berbeda dengan hamil pertamanya, kali ini Lisa diberi kesempatan langsung merasakan seperti apa rasanya orang nyidam layaknya wanita hamil pada umumnya. Ternyata rasanya sungguh menyiksa.


Ia begitu menginginkan sesuatu sampai tak bisa ditahan-tahan lagi. Lisa mau sekarang, dan harus sekarang juga dituruti kehendaknya itu. Sehingga Farhan sedikit kerepotan saat Lisa sudah merajuk-rajuk dengan mata memerah hampir menangis. Ia terpaksa meninggalkan pekerjannya demi menuruti kemauan Lisa.


Sebenarnya kemauan anak itu sangat simpel, tapi bagi Farhan cukup aneh. Lisa yang notabene pemalas, mendadak mau belanja ke pasar tradisional sambil ditemani oleh Farhan.


"Kamu benar sedang tidak mengerjaiku, 'kan?" tanya pria itu sambil mengendarai mobilnya dan sesekali melirik GPS tempat di mana pasar tradisional itu berada.


Farhan sedikit kesal lantaran Lisa tak kenal waktu dalam meminta. Tengah hari bolong begini pergi ke pasar, siapa yang tidak gemas coba?


Kemudian wanita itu menjawab santai. "Aku bukan orang jahat yang mengerjaimu, untuk apa mengajakmu ketempat seperti ini kalau bukan karena nyidam?"


"Hmmm." Farhan menjawab dengan gumamman.


singkat waktu, mereka sudah berada di sebuah pasar. Tempat di mana Lisa pertama kali datang ke Indonesia dan dikerjai oleh Farhan untuk membeli ikan emas sampai terprleset di kubangan.


Karena hari sudah menjelang siang, suasana di pasar itu sudah tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung, dan sisanya para pedagang yang membereskan barang dagangannya—bersiap untuk pulang.


"Kamu mau belanja apa, si?" Farhan sudah mengembuskan napasnya kasar begitu memasuki area pasar yang sangat pengap dan bau. Pria itu menatap sekeliling dengan perasaan tidak nyaman lantaran beberapa pasang mata terus memperhatikan penampilannya yang mencolok. Padahal Farhan sudah mengenakan baju santai. "Jangan lama-lama ya," keluhnya lagi.


"Iya bawelnya aku!" Lisa menyempatkan diri menjumput bibir cemberut Farhan, lalu melangkah terlebih dahu sambil berjalan santai di depan Farhan.


Matanya berkeliling mencari ikan segar air tawar. Lalu berhenti di sebuah aquarium kaca yang menampilan ikan gurame montok sedang berjoged ria sambil ditemani musik dangdut milik si pedagang ikan.


"Guramenya, Neng!" tawar pedagang itu.


"Sekilo berapa, Bang?" tanya Lisa bagaikan emak berjiwa profesional yang siap membuat pedagang bangkrut dengan aksinya tawar-menawarnya.


"Yang super 60 ribu, kalau yang biasa 45," jawab si pedagang dengan jaring penyerok ikan di tangannya. Siap menangkap si ikan di dalam aquarium.


"Mau yang super 3 kilo deh, tapi jangan 60 ribu lah, korting jadi 50 ribu saja." Lisa tertawa geli ala emak yang sedang merayu tukang sayur di depan kompleks rumah. Entah kenapa menawar tidak pakai perasaan itu enak sekali. Kalau dapat ya syukur, tidak ya sudah.


Sementara di belakang ada si sadis ya sudah mengumpati istrinya.


Cih, untuk apa kamu menanyakan harga kalau ujung-ujungnya sudah menciptakan harga sendiri seenak jidatmu itu. Apa semua wanita kalau sedang pergi ke pasar seperti ini? Dasar aneh!


Tentunya Farhan yang ada di belakang tercengang heran dengan sikap Lisa. Sementara si pedagang langsung memasang wajah memelas seperti maling habis dianiaya warga.


"Mana bisa atuh Neng! Modalnya saja 55 ribu, kalau saya jual 50 ya rugi bandar, moal bisa uih ka lembur amangna," kekeh si pedagang yang kemungkinan asli orang Sunda itu.


(Mana bisa begitu Neng, Modalnya daja 55 ribu, kalau saya jual 5p ya rugi bandar, engga bisa pulang kampung abangnya)


"55 lah Bang, buat langganan!" tawar Lisa tak mau kalah. Kali ini harganya ia naikkan 5000 agar seimbang.


Farhan yang masih setia di belakang Lisa mulai kelimpungan tak jelas. Ia sudah menutupi hidungnya dengan lengan baju lantaran tak kuat menahan bau anyir.


"Tetep harus 60 Neng, memang harganya sudah segitu!" jawab si pedagang. Tetap tak mau menurunkan harganya juga.


Setelah kegiatan tawar menawar yang sangat lama, akhirnya ikan itu dilepas dengan harga tetap yaitu enam puluh ribu perkilo.


Lisa berjalan kembali dengan wajah kecewa.


Bagi Farhan ini semacam membuang waktu tidak penting. Andai Lisa langsung membayar, mungkin mereka tidak perlu berlama-lama di depan pedagang ikan tanpa kejelasan. Toh akhirnya harganya sama saja dari awal.


"Pulang aja yuk!" Bibir Lisa maju tiga senti. Ia mendadak kesal tanpa alasan.


"Kamu kenapa?" Tanya Farhan kaget. Lisa sedang hamil, tapi sensitifnya setara dengan perawan yang lagi PMS. galak. Farhan bisa merasakan bahwa wanita itu kini sedang marah.


Wanita itu menghentakkan kakinya hingga Farhan membelalak. "Aku kesel'lah Mas! Kenapa sih aku gak bisa kayak pembeli lainnya? Kalau yang beli orang lain pasti dapat diskonan, tapi kalau aku beli pedagangnya selalu saja kekeh sesuai harga awalnya. Aku kan jadi kesel. Sepayah ini kah aku?"


"Kamu kan nggak pernah ke pasar, bagaimana bisa tahu tetang harganya?" tanya pria itu dengan polosnya.


"Karena dari dulu aku emang gak bisa nawar kayak wanita-wanita lain. Selalu aja gak dapet diskon, malah pernah ditipu sampe kemahalan," gerutunya lagi. "Pulang ajalah, aku males!"


Namun Farhan tak langsung kehabisan akal begitu saja. Sebagai suami yang baik hati dan memiliki segudang akal, ia tahu persis apa yang harus ia lakukan demi menyenangkan hati isrinya.


"Mungkin yang tadi harganya memang sudah sesuai dengan harganya, Lis. Coba sekali lagi ya, kali ini kamu pasti berhasil nawar." Farhan menggiring Lisa dengan satu tangan. Sementara satu tangannya lagi sudah terisi oleh sekantong ikan seberat 3 kilo.


Lisa menurut, kali ini ia berhenti di depan pedagang ayam. "Ayam ekorannya berapa satunya, Bu?" tanya anak itu.


"45 Neng," jawab si ibu agak halus. Sepertinya dia orang Solo. Terdengar dari intonasi bicaranya yang khas dan sedikit medok Jawa.


"Tiga lima ya, Bu! Saya lagi hamil nih, diskon dong!" Lisa menawar dengan suara malas. Dia seperti sudah menyerah, pasti jawabannya sama saja dengan pedagang ikan tadi.


Tanpa ia tahu, di belakangnya sudah ada Farhan yang memberi kode sambil memamerkan uang 500 ribu pada si pedagang ayam. Uang itu menari-nari cantik, membuat mata si ibu lapar dan langsung tanggap.


Tentu saja pedang ayam itu girang bukan main. "Boleh Neng ... boleh. Karena eneng sedang hamil, kalau beli dua saya korting jadi jadi 60 ribu," ucap si ibu dengan senyum lebar merekah.


"Beneran boleh?" Wajah Lisa yang tadinya muram berubah sumringah. Setelah bingung melihat Lisa yang ngambek, ternyata jawabannya adalah diskon.


"Boleh banget Neng, ibu bungkus sekarang ya?"


"Iya Bu!"


Wanita itu segera mengeluarkan pecahan uang 50 ribu dan 10 ribu dari dalam dompetnya. Sementara si pedagang sudah mengulurkan dua bungkus ayam ekoran kepada Farhan.


"Terima kasih ya Bu! Semoga dagangannya laris." Lisa berjalan terlebih dahulu. "Ayo Mas, akhirnya aku savage juga!"


Farhan mengedipkan mata kepada si ibu sebagai kode terima kasih, lantas memberikan uang sebesar 500 ribu tanpa sepengetahuan Lisa tentunya.


Si pedagang ayam itu sontak menengadah ke atas langit sambil mengangkat dua tangannya penuh rasa syukur.


Ya Tuhan, perbanyaklah suami seperti dia agar kami para pedagang kecil ini cepat kaya. Amin.


Aku tidak bermaksud bohong, aku janji akan menceritakan kejadian ini lima tahun lagi. Farhan.


***


Gimana nih, kalo suami kalian yang kayak gini? Wwkkw. Ati ati ya, kalo kepasar jgn ngajak suami. Ini bisa terjadi loh.


BTW Selamat saur buat yang menunaikan. Sekali-kali yang pada baca jangan lupa kasih kopi dan bungan dong. seikhlasnya aja. Biar nambang semangat si penulis. Wkwkw.


untungnya cuma 5000