
Pernikahan berlangsung sangat sederhana, kedua mahluk aneh itu saling mengucapkan janji suci di depan pemimpin pernikahan mereka. Karena kegiatan itu dilaksanakan secepat kilat seperti membeli micin di warung, keduanya hanya mengucapkan janji suci sebagai bentuk sahnya hubungan suami istri. Sementara untuk akta pernikahan baru akan jadi satu minggu kemudian.
Satu hal lagi, pernikahan Lisa dan Farhan juga dilakukan tanpa sepengetahuan orang tua. Farhan masih tidak yakin pada Lisa. Takutnya gadis itu mendadak minta cerai saat pernikahan sudah digembor-gemborkan.
Jadi, anggap ini adalah percobaan menikah yang harus mereka jalani. Akan tetapi, meskipun dalilnya percobaan, mereka tetap menikah secara sah dan terdaftar sebagai pasangan suami istri yang diakui negara.
Begitulah jalan aneh yang mereka tempuh.
Beberapa orang yang mengatur jalannya pernikahan Lisa dan Farhan sampai berfikir kedua pasangan itu sudah terlanjur kebelet melakukan itu-itu. Ada juga yang berpikir bahwa Lisa hamil duluan. Nyatanya, Lisa sendiri juga tidak tahu kenapa Farhan ingin cepat-cepat menikah. Bahkan, pria itu tidak keburu menunggu sampai proses pengajuan data pernikahan mereka selesai.
Mobil berjalan dengan cepat, Farhan harus segera ke kantor karena desakan perkerjaan yang menumpuk di kantornya. Tidak ada yang spesial dari pernikahan mereka hari ini. Keduanya kompat tidak memberitahu siapapun perihal nikah kecuali si jomlo abadi Rico yang mengantar mereka mengucapkan janji suci.
"Tuan, Anda akan membiayai hidupku untuk kedepannya 'kan?" Lisa mendesah frustasi.
Tabungannya habis terkuras untuk membeli cincin pernikahan mereka. Farhan bilang, Lisa yang harus membeli sepasang cincin karena dia yang melamar duluan. Dasar si kikir licik.
Lisa menggoyang-goyangkan lengan Farhan saking kesalnya. "Aku sudah tidak punya uang lagi," decak gadisi itu sebal.
Farhan yang gemas segera mengeluarkan dompetnya. Mengambil uang pecahan seratus ribu, lantas menempelkannya di dahi Lisa. "Untuk seminggu," ucap pria itu dengan wajah yang dibuat serius.
Sengaja.
"Ya ampun. Apa kau sedang menghinaku, Tuan. Uang seratus ribu cukup apa?"
Lisa menggelengkan kepala, tak menyangka uang menjadi perdebatan pertama setelah mereka sah menjadi suami istri. Untuk apa kekayannya kalau menafkahi istri saja hanya seratus ribu. Cih! Lisa mendadak ingin muntah pelangi.
"Nona Lisa memang sudah menjadi istri tuan Farhan. Tapi Nona belum memberikan hak Tuan Farhan sebagai seorang suami, yang artinya Tuan Farhan juga tidak perlu memberi apapun pada Nona! Dan juga, pernikahan Nona dan Tuan Farhan masih dalam tahap percobaan. Kami tidak tahu ada niat terselubung apa yang Nona pikirkan."
"Hei Rico!" Kali ini Lisa menendang jok kemudi yang di duduki Rico. "Kami baru menikah beberapa menit lalu, bagaimana mungkin aku melakukan kewajibanku secepat kilat?" Lisa melengos kesal. Tak diambilnya uang yang tajuh ke pangkuannya itu. "Terselubung kamu bilang? Apanya yang terselubung, aku serius ingin merawat si kembar. Tapi kalau harus merawat ayahnya yang pelit, ogaaaah!" cibir Lisa kesal.
Sepertinya Farhan memiliki rencana yang tidak dapat ditebak. Entahlah. Mungkin ia pikir Lisa mau menikah dengannya karena uang, atau apalah ... Lisa sendiri juga tidak tahu.
"Saya hanya menjalankan perintah untuk menjawab," balas Rico tak mau kalah.
"Kalian tuh!" Lisa berdecak emosi. "Aku tidak menyangka ada CEO sepelit kamu, Tuan!"
Emosi Lisa meluap bersama dengan bayangan kemewahan yang sempat ia hayalkan. Bahkan, gadis itu berpikir Farhan akan memberikan kartu kredit tanpa batas limit seperti para CEO kaya di dalam novel yang ia baca.
"Kenapa Tuan Farhan tidak bisa sedikit pun mencontoh sikap CEO yang ada di novel? Bahkan berbanding terbalik," sungut Lisa kesal.
Rico ikut menimpali.
"Nona meminta untuk bekerja 'kan? Jadi pakailah gaji Anda untuk tambahan jatah bulanan Anda."
"Diam kau Pak Rico! Jangan panggil aku dengan sebutan nona. Menggelikan," tukas gadis itu.
"Tuan Farhan menyuruhku untuk memanggil Anda nona mulai dari sekarang. Karena Anda adalah istri Tuan Farhan," jawab Rico logis.
***
Sore harinya, Lisa dan Farhan mengunjungi makam ayah Farhan untuk memberi tahu perihal pernikahan mereka. Meskipun sudah tiada, pusaran terakhir orang tua tetap wajib dikunjungi setiap saat. Apalagi keduanya habis mengucapkan janji suci tadi pagi.
Selesai memanjatkan doa-doa sederhana, perjalanan mereka dilanjut ke tempat lain. Yaitu TPU di mana kedua orang tua Lisa beristirahat untuk terakhir kalinya.
Bunga krisan sebagai lambang kematian ada di tangan Lisa. Cuitan burung beserta angin semilih mengiri langkah kaki Lisa dan Farhan. Mereka berjalan, menyusuri semak-semak menuju pemakanan kedua orang tua Lisa.
Tepat di sebuah makan tua yang tidak pernah diurus, Lisa berdiri diikuti dengan Farhan yang bergemimg di belakangnya. Ia meletakkan bunga krisan di tengah-tengah pemakanan. Membelai ilalang liar yang menghiasi makan ayah dan ibunya.
"Ayah, Ibu, Lisa datang." Senyum mengembang di pipinya. Bersama sesak yang tiba-tiba menyeruak di dada. Menikah tanpa dihadiri orang tua, rasanya sungguh nikmat sekali. Hingga Lisa berharap dapat melihat anak-anaknya menikah sebelum diambil Tuhan.
"Lisa datang tidak sendiri, ada suami Lisa juga. Kita baru saja mengucapkan janji suci tadi pagi. " Gadis itu menggenggam tangan Farhan. Menarik tubuh pria itu agar posisinya sejajar dengan berdiri Lisa.
"Ayah, Ibu, kalian tidak perlu khawatir lagi. Lisa sudah memiliki pendamping yang baik dan sempurna. Namanya Farhan, kakak kandung dari sahabatku Jennie. Ayah ibu tahu kan? Dulu aku sering cerita tentang Jennie setiap kali datang ke sini."
Air mata jatuh menetes. Lisa tersenyum miris dalam balutan kerinduannya, baik atau tidaknya hubungan mereka nantinya, Lisa tetap harus mengatakan yang baik-baik tentang Farhan di hadapan orang tuanya.
Hening. Lisa dan Farhan tertunduk secara bersamaan. Mereka memanjatkan doa-doa sederhana dalam hati. Untuk kebahagiaan orang tua dan kebahagiaannya sendiri.
Berdoa selesai. Farhan meraih tubuh gemetar Lisa. Membawanya ke dalam pelukkannya sendiri mengikuti naluri hati.
"Kau boleh memelukku jika tidak kuat."
Dekapan semakin erat. Farhan membenamkan wajah sembab Lisa ke dalam pelukkannya. Membiarkan gadis itu menangis dan membasahi kemeja putih yang ia kenakan.
***