
Ruang eksekusi adalah tempat di mana Farhan meletakkan berbagai koleksi senjatanya. Di tempat itu juga, para karyawan yang melakukan kesalahan selalu di adili oleh Rico. Kebanyakan mereka adalah para karyawan yang korupsi, menghianati perusahan seperti membocorkan data, menghukum penyusup, dan masih ada beberapa kejahatan lain yang membuat mereka harus diseret ke tempat itu.
Suasana Ruangan itu sangat mencekam. Tempatnya cukup lembab dan dingin. Semua karyawan yang diadili di sana sudah dipastikan akan mengalami babak belur. Namun belum pernah ada nyawa yang melayang. Hanya tempat mengeksekusi mereka agar mau mengakui kejahatannya.
Dan di sinilah Farhan sekarang, menatap Lisa dengan pandangan yang sulit diartikan. Di mana tubuh Lisa terus gemetar takut membayangkan maut di depan matanya.
"Ah, kalau begitu .... Izinkan aku mengeluarkan semua unek-unekku selama ini. Setidaknya, Anda harus mendengar jerit hatiku sebelum mati."
"Silakan," ucap Farhan.
Rico yang ada di belakang Farhan mulai ketakutan. Firasat buruk bahwa gadis itu akan bicara macam-macam mulai merasuki pikirannya.
"Sepertinya Akan ada pembicaraan penting. Biarkan saya keluar dulu, Tuan." Rico sudah di ambang pintu hendak keluar, namun Lisa mencegahnya dengan sebuah teriakkan.
"Jangan keluar kau asisten homo! Kau harus menyaksikanku mati dulu agar aku dapat menghantuimu nanti!" serunya murka.
"Tetaplah di sini." Farhan menimpali bersamaan dengan isyarat tangan.
Rico mendesah pasrah, lalu berdoa semoga Lisa tidak mengucapkan hal-hal yang membuat Farhan emosi. Semoga juga wanita itu paham bahwa Farhan tak sekejam yang ia kira.
"Apa yang mau kau ucapkan?" Farhan bertanya dengan tenang.
Rico langsung mengambil kursi kayu di pojok ruangan. Lalu menaruhnya di belakang bossnya. Kini Farhan duduk dan saling berhadapan dengan Lisa dengan jarak dua meter.
"Pertama, bolehkah aku memilih mati dengan cara lain? Misalkan meminum racun sianida yang dicampur dengan kopi. Sebenarnya aku takut digantung," ucap Lisa, wanita itu mulai menangis sesenggukkan. Membuat Farhan kasihan, tapi ia harus tetap melanjutkan misi ini.
"Rico!"
"Ya Tuan?" jawab Rico sigap.
"Apakah kita masih memiliki persedian sianida?" tanya Farhan, menoleh ke belakang dengan mimik wajah serius. Siapa yang akan menyangka bahwa itu hanyalah sandiwara belaka.
"Kita masih memiliki sepuluh mili. Apa Anda ingin aku membuat kopinya sekarangan?" tanya Rico. Ia tak kalah jago masalah bersandiwara.
"Jangan!" cegah Lisa cepat. "Aku tidak suka kopi, jika memang ingin mencampurkan sianida, tolong belikan teh boba saja. Sianida lebih enak jika dicampur boba," lanjut Lisa.
Rico langsung melipat bibirnya dalam-dalam. Menyembunyikan tawanya sebisa mungkin.
"Baiklah, saya akan membelikan boba untukmu Nona," ucap Rico.
"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?" Farhan menatap lekat tubuh Lisa yang gemetar ketakutan. Netra cokelatnya menyipit saat mengingat cara mati yang Lisa inginkan.
Minun boba pakai sianida. Mungkin hanya Lisa yang masih sempat memikirkan boba saat kematian sudah di depan mata.
"Bolehkan aku tahu, kemana mayatku akan dibuang? Tidak mungkin kan, Anda mengebumikanku secara terang-terangan?" tanya Lisa. Ia memberanikan diri menatap Farhan. Memperhatikan pria itu dari ujung kaki ke ujung kepala.
Setidaknya aku sudah merasakan kemampuannya sebelum mati. Enam menit sepuluh detik. Akan kuingat kenangan itu sampai mati, batin Lisa.
Farhan membalas tatapan Lisa dengan seringat menyeramkan. "Apa kau ingat gedung yang sedang dibangun di daerah Depok? Kamu akan dikubur di bawah pondasi agar gedung itu cepat jadi."
"Astaga!" Lisa melotot emosi. Berani sekali pria itu menjadikannya tumbah. Dibuang ke laut saja sudah kejam, sekarang malah dijadikan tumbal pondasi bangunan.
"Anda sangat jahat, Tuan. Padahal kesalahanku tidak seberapa," kilah Lisa.
"Aku hanya bercerita tentang suamiku. Tidak menyebutkan namamu. Apakah itu salah? Ah, tentu saja itu bukan salahku, siapa suruh durasi Anda seperti teh celup? Wajar jika aku menggosipimu diam-diam."
Wajah Farhan merah padam. Rico yang berdiri di belakangnya gemetar takut ... takut Farhan hilang kendali dan melukai istrnya sendiri.
Jangan sampai Anda menjad duda secepat ini, Tuan. Rico berdoa dalam hati.
Peduli setan, biarkan saja Farhan marah. Toh Lisa akan segera mati sebentar lagi. Maka ia akan mengungkapkan semua isi hatinya.
"Di saku blazerku ada kartu nama. Pergilah ke klinik Mister Tong Jay. Aku tidak mau istri keduamu memiliki nasib yang sama denganku. Mati karena menggosipi suaminya sendiri."
Lisa kembali menatap Farhan. Ekspresi pria itu terlihat tenang saat mendengarkan.
"Apa Anda tidak marah, Tuan?"
"Sebenarnya aku juga menyukaimu, kau baik dan selalu membimbingku. Meski dengan cara yang aneh-aneh." Wajah Lisa sudah berlumuran air mata; air mata darah lebih tepatnya.
"Apa yang membuatmu menyukaiku."
Lisa mendongak penuh percaya diri. "Sejak kau sering pulang ke apartemen dulu, lalu olahraga di hari minggu. Aku suka saat kau melempar kaos basahmu sehabis olah raga. Lalu pergi ke kamar mandi dengan dada telanjang."
"Kau mesum," telak Farhan saat itu.
"Memang aku mesum. Aku adalah pengagum rahasia para lelaki yang hobi bertelanjang dada. Menikmati setiap lekuk kotak-kotak yang sangat menggoda. Berhubung hanya Anda yang pernah kulihat secara langsung, jadi aku menyukai Anda."
Puft. Rico menutup mulutnya dengan tangan. Kali ini ia tak dapat menahan laju tawanya. Dasar Lisa. Unik seperti barang antik.
"Aku sudah selesai. Silahkan bunuh aku."
"Tidak ada bobo, kami terlalu sibuk untuk membelikannya. Tembak mati saja Rico."
Lisa menggerutu dalam tangisnya. "Dasar kikir, bilang saja kau sayang uang."
"Ya sudah, cepat bunuh aku! Biar kau kembali hidup sendiri dengan status duda abadi," lanjutny sebal.
Lisa memejamkan matanya perlahan. Mengihklaskan dunia yang sebentar lagi ia tinggalkan. Lantas berkata,
"Terima kasih atas total durasi 6 menit 10 detiknya. Semoga gedung yang Anda bangun cepat roboh karena menjadikan istri sendiri sebagai tumbal di bawah pondasi."
"Sama-sama. Bersiaplaplah. Rico akan segera menembakmu," goda Farhan.
"Tunggu dulu!" Lisa membuka matanya cepat. "Berikan aku ciuman sebelum mati. Aku butuh kenang-kenangana."
"Baiklah!"
Farhan bangkit dari kursi kayunya. Lantas berlutut di hadapan Lisa. Di mana Rico langsung memutar posisi tubuhnya ke belakang.
Sialan! Lagi-lagi tragedi uwu yang terjadi, batin Rico sambil gigit jari.
Farhan merangkum wajah Lisa dengan kedua tangannya. Mengusap air mata itu dengan kedua ibu jari. Mendekatkah wajahnya perlahan, sebuah kecupan manis mendarat perlahan. Kedua tangan Farhan meraih borgol Lisa. Membuka dengan kunci yang ada di tangannya selagi lidah mereka saling beradu. Tangan Lisa mulai bergerak dan membalas pelukkan Farhan.
Keren. Satu kata yang Lisa pikirkan saat mendapatkan ciuman terakhir dari Farhan. Sangat lembut dan menghayati. Di mana Lisa dapat merasakan ribuan kasih sayang dari perlakuan pria itu.
Mengakhiri ciumannya dengan pelan. Farhan menatap Lisa dengan jarak 20 sentimeter. Lalu tersenyum manis pada wanita itu.
"Woah!" Apa Anda sedang menghadiahkan senyum itu untukku. Ngeri sekali!"
Lisa sampai merinding. Pasalnya ia belum pernah melihat Farhan tersenyum kepadanya sekalipun. Ajaib, dia sungguh akan segera mati.
Pria itu mendekatkan wajahnya kembali. Menaruh bibirnya tepat di telinga Lisa. Gadis itu menggeliat karena merasa geli.
"Selama aku masih hidup, kau tidak akan pernah mati," bisiknya pelan. Menusuk hingga ke ulu hati Lisa.
Farhan berdiri sambil menepuk-nepuk celananya. Meninggalkan Lisa dan Rico di ruang kejujuran yang didesain mirip tempat kematian
"Ya! apa maksud dari semua ini?" Lisa berteriak. Farhan sudah pergi meninggalkan ruangan itu.
"Ruangan ini adalah tempat eksekusi kejujuran. Mereka yang masuk ke ruang ini, tidak akan keluar dari tempat ini tanpa kejujuran. Selamat, Anda telah berhasil melewati hukuman Nona Lisa. Kejujuran adalah kunci utama."
Seketika bibir Lisa mendadak kelu. Otaknya kembali travelling mengingat hinaan yang baru saja keluar dari mulutnya sendiri.
Sepertinya aku harus segera loncat dari atas gedung. Bagaimana aku masih punya muka setelah mengatakan semua itu tadi?
"Aishkk!" Lisa menggeram frustasi.
***
Terima kasih buat yang udah kasih koin dan poin ya. Buat yang gak kasih juga makasih karena udah mau baca. Oh ya, aku ada spoiler konflik untuk kedepannya di ig story @anarita_be. Silahkan dibaca.