
Farhan bangun dari singgasananya—seperti mumi yang baru saja bangkit dari dari dalam peti. Pria itu berjalan ke arah William dan Lisa sambil mengepalkan kedua tangan. Wajahnya nampak angker dengan rahang tegas yang mulai mengeras. Guratatan otot-otot di sekitar lengannya menyiratkan bahwa pria itu siap menyerang lawan main yang ada di depannya.
Rico yang sudah paham situasi, langsung lari dan berdiri siaga di belakang Farhan. Dua api dan air itu paling tidak bisa disatukan. Selalu ada saja pertikaian yang disebabkan oleh pancingan si adik jahanam Farhan.
"Apa kau sedang menguji batas kesabaranku, Bocah!" Satu pukulan mendarat sempurna ke pintu besi yang ada di belakang William. Menghasilkan bunyi gebrakan keras sampai suaranya terdengar keluar. Beruntung Lisa langsung menyingkir ke samping secepat mungkin. Sementara William menghalang dada keras Farhan agar jangan terbawa emosi terlebih dahulu.
"Tahan, Bro! Santai dulu. Aku tidak akan mengambil gadis beracun itu dari tanganmu. Dasar kakak menyebalkan," decak William.
Pria itu memasang seringai tawa. Lalu berkata kembali dengan nada bicara mengejek. "Hehe ... ternyata kau mengerikan sekali jika sedang cemburu ya. Lebih parah daripada Hello Kitty bernyawa," cibir William. Tanpa sadar ucapannya semakin membuat hati Farhan memanas. Layaknya popcorn yang meletup-letup di atas pemanggang.
"Siapa yang cemburu ... siapa? Kau pikir aku sebodoh dirimu, hah? Aku bukan pecemburu, jangan membual ocehan tidak jelas seperti itu!" Mata Farhan memerah. Ia nyaris membanting tubuh William ke lantai andai tidak ditahan oleh Rico sekuat tenaga. "Kau pikir aku akan cemburu melihatmu melakukan adegan menjijikan seperti itu? Aku hanya merasa terhina bodoh, memangnya aku tidak mampu memberikan dia kalung sampai harus dibelikan olehmu?"
"Bukan begitu, aku hanya—"
"Hanya apa!" potong Farhan cepat. Ia bahkan tak memberikan kesempatan untuk William bicara. Si batu bernapas itu bagikan gunung merapi yang erupsi beberapa waktu lalu.
"Tolong hentikan, Tuan Muda, Tuan Farhan!" Rico langsung memasang tubuhnya di tengah-tengah mereka sambil merentangan kedua tangan. Membelah dua mahluk gila yang sama-sama tidak ada otaknya.
William si gila yang hobinya cari mati, sementara Farhan si bodoh memalukan yang tidak mau mengakui bahwa dia sedang cemburu. Lisa sampai ternganga-nganga melihat tingkah suaminya yang garang bin menggemaskan.
"Aku tidak bermaksud menghinamu Kakak pertama," kilah William mulai ketakutan. Bagaimana pun juga kemampuan bela diri Farhan di atas rata-rata. Secara dia pernah menjadi anak asuhan dididik Zian—seorang mafia bawah tanah yang terkenal dengan kemampuan hebatnya dalam menaklukkan dunia. Apalagi ada Rico si asisten yang merangkap jadi bodyguar. Lengkap sudah jika William sampai melawan. Dipastikan pulang ke rumah langsung jadi agar-agar.
Lisa menggeleng tidak mau. Malah semakin menggenggam kalung itu erat sekali. "Tidak mau! Jangan dibuang," tolak Lisa yang menambah kegilaan Farhan semakin jadi.
Farhan mencengkeram kerah baju William emosi. "Apa yang kau bisikkan padanya tadi, hah? Apa kau mengancamnya sampai tidak mau melepas kalung itu?"
"Aku tidak berbisik yang aneh-aneh. Aku hanya iseng, ingin tahu kau cemburuan atau tidak!"
"Apa kau pikir aku terlihat seperti seorang pecemburu, hah?" bantah Farhan murka.
"Tidak ... sama sekali tidak. Kau pria tangguh berhati baja. Mana mungkin kakak berhargaku cemburu pada adik jelek sepertiku. Lagipula, aku sudah punya Tere dan anak satu."
Rico yang paling waras langsung mendorong tubuh William agar menjauh dari Farhan. "Tolong urus duru suamimu, Nona!" Priai itu menarik William sampai tubuhnya terhempas ke sofa.
"Tuan Muda, umur Anda sudah bukan anak-anak lagi. Tolong jangan memancing kakak Anda. Apa saya harus laporan pada Tuan Haris, bahwa dua anak-anaknya bertengkar di dalam kantor," ujar Rico frustasi.
Mereka berdua sama sekali tidak bisa meihat situasi. Yang satu kelewat usil, dan satunya lagi terlalu serius menanggapi sesuatu.
***
Jangan lupa like, komen dan vote, aku crazy up nih.