HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Sempit



Malam ini, kamar utama terasa sempit karena ada kehadiran ondol-ondol di dalamnya. Hangat-hangat suasana menyelimuti keluarga kecil Lisa dan Farhan. Suara berisik Cilla dan Cello menggema di mana-mana, bercampur ruah bersama suara televisi yang menayangkan kartun Spongebob kesukaan suami Lisa.


Sementara itu, Farhan tengah asik dan hikmat menonton televisi. Menayangkan si Patrick dan Spongebob bermain imajinasi di dalam kardus teve. Sesekali ia tersenyum geli, melihat tingkah tokoh kartun yang bodohnya tiada dua. Membeli teve agar dapat memiliki kardusnya. Apakah mereka bodoh? Lalu, teve itu dibuang di depan rumah Squidword.


Begitulah aktifitas Farhan di sela-sela istirahatnya saat di rumah. Agak aneh si, tapi itu nyata adanya. Lisa tidak pernah mempermasalahkan hobi Farhan. Selama suaminya tidak melirik janda herang sebelah, bagi Lisa tidak jadi masalah.


"Ayah, kenyaapa syuka syekali nonton Sponbob, cih?" tanya Cilla yang sengaja menghentikan aktifitas lari-lariannya. Ia amat penasaran, melihat Farhan yang senyum-senyum sendiri sejak tadi. Kadang malah marah dan kesal seolah ada hal greget yang di lakukan si tokoh utama kartun itu.


"Karena dia bodoh. Jadi ayah suka," jawab Farhan apa adanya. Bahkan matanya tak mau teralihkan ketika menjawab.


"Bunda juga bodoh ya? Makannya Ayah suka." Cello yang tak sengaja mendengarnya ikut berceletuk. Membuat Farhan gelagepan dengan pertanyaan anak jenius itu.


Jika aku menjawab iya, maka tidak ada malam Selasa dan Kamis. Farhan bermonolog dengan diri sendiri.


Jangan tanya bagaimana ekspresi Lisa saat ini. Wanita itu manyun seketika saat mendengar pertanyaan Cello. Target yang ia tatap adalah Farhan. Kira-kira apa yang mau diucapkan si batu bernapas itu?


"Emmm. Bagaimana ya?" Farhan nampak menimbang kembali ucapannya. Membuat boneka mampang aktif bereaksi, wanita itu menggigit jari telunjuk Farhan sampai mengaduh.


"Sakit," pekik Farhan. Sambil menghitung jarinya masih utuh lima atau tidak.


"Mau bilang aku bodoh?" tanya Lisa yang sudah kesal duluan.


Cello dan Cilla terkekeh. Lalu bergabung dan naik ke atas ranjang. "Bunda pasti pinter kok, kalau bodoh kayak Spongebob gak mungkin bisa jadi bundanya kita. Ya kan, Cil?" Pria kecil berusia empat tahun itu mulai menggombal. Terkesan lebih mahir daripada Farhan yang umurnya lebih tua berkali-kali lipat.


"Iya benel," jawab Cilla mengiyakan sekedarnya.


"Gak ada yang ngajarin, Ello kan calon supermen. Di sekulah juga banyak anak perempuan yang suka Ello, loh," pamernya bangga.


"Ah ... masa?" Lisa pura-pura tekejut. Anak itu mengangguk-angguh agar Lisa mau percaya kepadanya.


"Ya bundaa! Katta men-temen, Kak Ello itu pintal, baik, dan ganteung uga," sela Cilla ikut membenarkan. Bibirnya maju-mundur natural saat berkata, nampak imut dan lucu dipandang mata.


Satu pujian Lisa melayang kembali. "Wah ... wah ... wah. Ternyata Ello keren juga ya, gak kayak ayah Hanhan yang pendiam dan dingin." Lagi-lagi menyebut nama sang suami sebagai perbandingan agar hatinya semakin panas. Pria itu bergeming, pura-pura asik menonton Spongebob di teve.


"Sebentar lagi Ello besar, ayah Hanhan akan kalah tampan pastinya. Oh ya, nanti tamat TK Ello mau di sunat, kan?" tawar Lisa iseng-iseng.


"Boleh. Tapi jangan lupa ngundang Blackpink ya, Bund, soalnya kata papa Teddy, kalau Ello sunatan mau ngundang Blackpink."


"Waduh. coba tanya ayah Hanhan." Melirik sang suami sekali lagi.


"Boleh 'kan, yah?" tanya Cello penuh harap. Ada Cilla yang juga ikut menatap sang ayah. "Cilla uga mawu temu kembalanna mama Panda, Yah," imbuh anak itu.


Lisa tersenyum geli melihat suaminya pusing dengan rajukkan sang anak. Masalahnya, mengundang BLACPINK bukanlah perkara mudah. Pepatah mengatakan, di atas langit masih ada Rafatar—anak sultan artis ternama.


***


Updatean gabut ....😭


Ini up ke 3, jangan lupa kasih vote dan bunga ya. Eh.🤭