HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Akta Pernikahan



Masuk ke dalam mobil, Farhan menyerahkan sebuah akta pernikahan yang baru sempat ia ambil di apartemen Rico. Lisa menerimanya, memperhatikan akta nikahnya dengan seksama. Rasanya sangat aneh, ia sendiri masih tidak percaya bahwa statusnya sudah menjadi istri sekarang.


Farhan melajukan mobilnya kembali, matahari sudah bertengger cantik di atas sana. Di mana cuaca semakin panas sekalipun AC mobil menyala full.


"Aku masih tidak percaya kalau kita sudah menikah," ucap Lisa cengo. Matanya masih belum mau beralih pada benda asing nan berharga itu. Ada foto Farhan dan Lisa di sana. Sungguh Lisa tidak menyangka kalau tidak melihat benda itu secara langsung.


Lisa pikir semua itu hanya mimpi. Lalu Lisa akan terbangun dengan kenyataan bahwa ia masih sendiri.


Menggelengkan kepala, Farhan menoleh pada Lisa sambil menjawab,


"Simpan baik-baik buku itu, agar kamu percaya bahwa kita sudah menikah," jawab Farhan logis. Lisa termenung sejenak lalu bertanya,


"Tuan, apakah Anda sudah memiliki keniatan mencintaiku suatu hari nanti?" Lisa menoleh pada Farhan. Pria itu mengerjap gugup. Mengatur napasnya seraya berkata,


"Mungkin."


"Hanya mungkin?" ulang Lisa sebal. "Padahal aku sudah bilang kalau aku menyukaimu."


"Ya, aku berencana," jawab Farhan meralat perkataannya. Masih dengan mimik kaku beserta aura dingin seperti biasanya. Tidak ada manis-manisnya sama sekali.


Farhan sendiri merasa takut setelah kejadian tempo lalu. Lisa telah mengungkapkan keluh kesahnya di ruang eksekusi kejujuran itu. Di mana semua yang ia ungkapkan menunjukkan fakta bahwa Lisa tidak bahagia menikah dengan Farhan.


"Kalau begitu terima kasih. Jujur, aku takut memberikan perasaanku padamu. Takut jika aku hanya cinta sendiri."


Hening. Farhan tidak tahu harus menjawab apa. Karena seperti apa jelasnya perasaan cinta saja ia belum tahu persis. Cinta tidak bisa ditebak menggunakan logika. Terlebih Farhan tak mengerti bagaimana caranya membuat istrinya bahagia.


Sungguh dunia Farhan serasa dibuat jungkir balik. Dari pria yang tidak pernah mengenal cinta, lalu dipaksa berubah oleh hati kecilnya demi istri dan dua anak adopsi kesayangannya. Menyesuaikan diri seperti itu sangat sulit bagi Farhan. Butuh waktu khusus untuk pria itu memantaskan diri menjadi suami yang baik dan benar di mata Lisa.


Meremas jari-jemari, Lisa melempar sebuah pertanyaan pada Farhan, "Bolehkan aku tahu pandangan Anda tentang pernikahan?" Terdengar berani, tapi ia sungguh ingin tahu isi kepala Farhan.


"Apakah aku harus menjawab dengan jujur?" Farhan menoleh sebentar, lalu memfokuskan pandangannya pada jalan raya kembali.


"Iya. Aku ingin tahu kejujuran Anda. Kali ini saja," tandas Lisa.


Farhan terlihat mengatur napasnya. Ada getar gugup saat mulut itu hendak terbuka.


"Menikah adalah hal yang belum pernah aku pikirkan sebelumnya. Menurutku pernikahan adalah sesuatu yang mengganggu pekerjaan. Apalagi jika melihat para istri kolega bisnisku yang ribet. Aku semakin tidak ingin menikah." Farhan berhenti sejenak, kembali mengatur napasnya yang terasa berat.


"Namun sepertinya Tuhan memiliki cara lain untuk melunakkan kerasnya perasaanku. Semenjak mengurus si kembar, aku mulai merubah pandanganku terhadap pernikahan. Sepertinya ... mereka akan lebih bahagia jika aku menghadirkan sosok ibu di hidup mereka."


"Lalu ... itukah alasan Anda menikahiku?" Lisa masih mendengarkan ungkapan hati Farhan dengan seksama.


"Tidak. Aku sama sekali tidak berniat menikahimu pada awalnya. Tapi Cello, dia yang membuatku langsung tergugah untuk segera mendapatkanmu." Farhan berkata jujur. Di titik ini mereka terlihat seperti teman yang saling mencurahkan perasaanya.


"Apa yang Cello katakan?"


"Jennie mendatangi anak itu lewat mimpi. Dia berkata bahwa kamu adalah calon ibu yang baik untuk si kembar. Cello langsung menyampaikan itu padaku sesaat ia terbangun."


Lisa mengangguk paham. "Mungkin karena kita sudah bersahabat sejak lama, dan tahu seperti apa watak kita masing-masing."


Lisa kembali menatap Farhan. "Bolehkan aku tahu apa yang Anda rasakan setelah menikah?"


"Bolehkan aku tahu apa yang Anda rasakan setelah menikah dengan saya?" Lisa mengulang sekali lagi pertanyaannya. Kali ini lebih jelas.


"Ehmm." Farhan tampak ragu ketika hendak menjawab.


"Kalau begitu tidak usah dijawab." Lisa menyimpulkan diamnya Farhan sebagai jawaban bahwa pria itu masih ragu untuk bicara.


"Maaf," lirih Farhan mengindahkan ucapan Lisa.


"Tidak apa-apa. Anda dapat menjawabnya kapanpun ketika siap." Lisa menaruh akta pernikahan itu di dalam tasnya. Lalu tersenyum hangat pada suami yang belum bisa ia miliki.


"Terima kasih," balas Farhan.


Keduanya sama-sama termenung dalam pikiran masing-masing. Laju mobil Farhan mulai diperlambat karena sebentar lagi akan segera sampai.


Meskipun pernikahan mereka terlihat main-main, tapi Lisa dan Farhan sama sekali tidak berniat mempermainkan sebuah pernikahan yang sudah diikat dengan perjanjian sakral. Tidak ada tanda tangan kontrak atau perjanjian aneh-aneh di antar mereka berdua. Keduanya sama-sama menikah dengan tujuan mulia. Yaitu membesarkan si kembar secara bersama-sama.


Semoga alam semesta mau mengerti, bahwa mereka butuh waktu untuk mengembangkan ikatan mereka agar lebih baik lagi. Karena waktu seminggu lebih belum bisa dikatakan cukup, Farhan dan Lisa masih saling menyesuaikan diri untuk menerima satu sama lain. Mengikuti arus perasaan mereka mau dibawa ke jenjang yang seperti apa.


Untuk sementara waktu, biarkan mereka memahami apa itu pernikahan.


"Tuan." Lisa mencegah Farhan saat ia hendak membuka pintu mobil. Lembut, telapak tangannya menggenggam kuat jari-jemari Farhan. Sambil menatap pria itu dengan wajah harap cemas. "Bersikap baiklah padaku di depan bunda, aku tidak mau bunda berpikiran negatif tentang hubungan kita."


Ya?


Setelah membeliakkan mata kaget, Farhan merespon ucapan Lisa dengan dehaman pelan tanda setuju. Rasanya aneh, Lisa jauh lebih paham tentang bunda dibandingkan Farhan yang anak kandungnya sendiri.


"Terima kasih," jawab Lisa.


"Kamu juga ...." Farhan membuka pintu mobil.


"Aku kenapa?" tanya Lisa.


"Kamu harus merubah panggilanmu. Aku bukan tuannmu lagi."


"Eh." Lisa terlonjak gugup. Merubah panggilan? Mau dipanggil apa?


Ia hendak menjawab ucapan Farhan, namun pria itu sudah berjalan terlebih dahulu. Mau tak mau Lisa ikut turun. Mempercepat langkahnya menuju sang suami yang sudah berjalan lima langkah di depan.


"Ayah ...." Terdengar teriakkan Cilla dari arah pintu. Ada Cello dan bunda di belakang gadis kecil itu. Lalu si kucing manis Milo yang juga digendong oleh Cilla.


Farhan berjalan cepat, ia membungkuk dan menghampiri dua ponakkan kembarnya di ambang pintu. Mereka langsung menghambur ke pelukkan Farhan, melepas Milo yang kemudian langsung berlari ke arah Lisa.


"Cilla sudah tidak takut kucing?" Farhan mengelus puncak kepala kedua bocah itu secara bergantian.


"Cilla syuka Milo," jawab gadis kecil itu. Matanya sedikit melirik ke arah Lisa, lalu kembali bergelayut manja pada Farhan. Sementara Cello sudah melepas pelukkannya. Pria kecil itu berlari ke arah Lisa. Minta digendong seperti biasa.


***


Jangan lupa like, komen dan vote sebanyak-banyaknya jika kalian menunggu kelanjutan cerita ini. Terima kasih.