HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 92: (Season 2)



Bohong jika Farhan tidak bersedih mendengar kabar istrinya seperti itu. Beberapa kali ia bahkan merasa seperti diajak ke alam mimpi untuk kemudian di bangunkan lagi pada kenyataan pahit ini.


Rahim Lisa diangkat?


Pria itu tak dapat membayangkan betapa sedih dan hancurnya perasaan Lisa di dalam sana.


Di saat usianya yang masih terbilang cukup muda, perempuan itu harus kehilangan bagian paling penting dalam tubuhnya. Setelah pengangkatan ini Lisa jelas tidak akan bisa hamil lagi untuk selama-lamanya. Impian dan bualan mereka yang katanya ingin memiliki banyak anak harus terkubur bersamaan dengan fakta yang baru saja mereka terima.


Ya, Tuhan! Farhan merasa dunia ini tidak adil. Kenapa hal itu harus menimpa keluarganya? Apa dosa keluarga Farhan sampai harus mendapat cobaan semenyedihkan ini?


Pria itu sempat terpuruk beberapa detik. Namun, berdiam diri tanpa menyelesaikan masalah bukan karakter Farhan yang sesungguhnya. Ada yang sedang membutuhkan dukungan dan perhatiannya di dalam sana. Farhan harus menjadi orang pertama yang bangkit agar keadaan menyedihkan berbanding terbalik menjadi kebahagiaan.


Kemudian Farhan menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan sebelum berbicara.


Setelah mantap dengan keputusan terbaiknya, barulah pria itu mendongak untuk bicara kepada dokter yang sejak tadi berdiri menunggu jawaban.


"Bolehkah saya masuk ke dalam untuk menemui istri saya dulu?"


"Boleh, waktu Anda berdiskusi dan memutuskan hanya lima menit! Kita tidak bisa lama-lama karena harus segera melakukan operasi penutupan bekas sayatan."


"Baik!" Farhan mengangguk yakin. Ia menyerahkan si kembar pada kakek-kakeknya sebelum masuk ke dalam menemui Lisa.


Setelah disterilkan dan memakai baju khusus yang disiapkan perawat, Farhan memasuki ruangan itu dengan penuh keyakinan. Tak ada rasa takut atau sedih yang tergambar di wajahnya saat ini.


Deg.


Suara tangisan bayi yang masih dibersihkan oleh beberapa perawat menyambut Farhan begitu ia masuk. Farhan ingin memeluk dan menghampirinya, namun keadaan memaksa pria itu harus mengabaikan bayinya untuk sementara waktu sampai keadaan lebih tenang.


Tujuan Farhan hanya kepada Lisa seorang. Perempuan itu sedang menangis diambang kehancuran saat Farhan mendekat ke arahnya. Bunda dan Nyonya Dina juga ikut menangis, saling memeluk dan berusaha menenangkan Lisa di samping wanita itu.


"Masss!" isak wanita itu saat melihat Farhan mendekat ke arahnya.


Harusnya mereka bahagia. Harusnya semua menangis haru menyambut kedatangan bayi kecil mereka ke dunia. Bukan malah menangisi kabar buruk yang terjadi.


Satu kata itu terbit bersamaan dengan kecupan lembut yang mendarat pelan di dahi Lisa. Farhan harus segera membujuk wanita itu untuk melakukan pengangkatan rahim demi keselamatannya.


"Ini cobaan kita. Kita harus bisa melewati semuanya."


"Tapi aku nggak mau melakukan itu, Mas! Tolong bilang sama dokternya, aku mau berjuang sekali lagi, aku yakin aku pasti bisa melalui semua ini tanpa harus melakukan pengangkatan rahim!"


Benar 'kan yang Farhan pikirkan? Lisa pasti menolak mentah-mentah hal itu terjadi. Bunda dan nyonya Dina tak mengucapkan sepatah kata pun.


Dokter mendekat seraya membawa dokumen untuk di tanda tangani.


"Jangan tanda tangani surat itu, Mas!" Digenggamnya tangan Farhan oleh Lisa seolah ia sedang memohon sebuah belas kasih.


Perempuan itu makin terisak, membuat pertahanan Farhan melemah dan akhirnya ikut menitikan air mata.


Sekali lagi Farhan menarik napasnya dalam-dalam. Pria itu berusaha tersenyum sambil menyeka air mata yang berjatuhan membasahi pipi.


"Kamu sudah berjuang sampai titik ini, Lisa. Tidakkah kamu mendengar suara tangisan anak kita di sebelah sana? Dia sedang menunggumu! Menunggu ibunya dengan tubuh yang lebih sehat."


"Masss!" Tangan Lisa bergetar. Ucapan Farhan cukup jelas menggambarkan bahwa pria itu menyetujui pengangkatan rahim yang dianjurkan olek dokter spesialis bedah.


"Tolong jangan lalukan itu, Mas! Aku masih pengin punya banyak anak. Please ... kabulkan permintaanku kali ini saja." Lisa terus memohon-mohon seperti orang gila walau harapannya terasa sia-sia. Farhan jelas tak akan mampu membiarkan ia hidup dalam bahaya.


"Maafkan aku Lisa. Untuk kali ini aku tidak bisa menuruti permintaanmu. Ini adalah keputusan terbaik untuk kita semua," lirih Farhan seraya melayangkan satu kecupan lagi di pipi istrinya.


Saat itu Lisa merasa hancur berkeping-keping. Ia tak menyangka Farhan tega membiarkan dirinya menjadi wanita tidak sempurna dalam waktu semuda ini.


Demi apa pun Lisa tak yakin Farhan masih tetap setia jika rahimnya sudah diangkat. Mungkin sekarang pria itu bisa memutuskan dengan mudah, tapi belum tentu nanti setelah keadaannya dijalani. Bisa saja Farhan tak tahan dan meninggalkan Lisa seorang diri.


'"Kamu tega, Mas! Bagaimana aku bisa melalui hari-hariku dengan keadaan seperti ini?" Perempuan itu memukul-mukul dada Farhan. Berharap pria itu luluh dan mengurungkan semua niatnya.