HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Kamu Itu Kemusuhan



Mengerjap-ngerjap, Farhan membuka kelopak matanya dengan gaya apik. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat desain kamar yang tidak biasa dijumpainya setiap pagi hari. Namun, Farhan tidak asing dan langsung tahu kalau ia sedang berada di apartemen Rico.


"Ah, hari apa ini?" Bertanya pada diri sendiri. Lalu duduk sambil memijit pelipisnya yang terasa pusing. Ia melirik jam di dinding dengan mata sedikit kunang-kunang—menunjuk pada angka enam. walau sebenarnya Farhan tak paham itu jam enam pagi atau sore. Farhan sendiri juga masih bingung sudah berapa lama tak sadar diri. Ingatannya berhenti pada saat Felix terus memaksa minum dengan aneka ejekkan yang membuat hatinya panas. Entah mengapa, Farhan selalu terpancing dengan rayuan maut seorang Felix. Sampai ia mabuk dan tak ingat apa-apa lagi.


Dari kemarin siang, Farhan terus tidur layaknya tikus mati makan roti yang sudah diracun. Bahkan, pria itu tak sadar saat Rico menggendongnya masuk ke kamar tengah malam.


Aku haus. Farhan menjuntaikan kakinya ke lantai. Keluar kamar untuk mencari si pemilik rumah yang telah membawanya ke apartemen. Pria itu berjalan ke arah dapur, menjumpai Rico, ternyata dia sedang membuat makanan.


"Apa kau sedang memasak untuk makan malam?" tebak Farhan asal-asalan.


Sontak Rico menengok ke belakang, lalu kembali pada kegiatan utamanya tanpa menyambut Farhan. "Apa Anda sudah tidak bisa membedakan matahari terbit dan matahari terbenam, Tuan?" Dengan sinis Rico bertanya.


"Aku bingung."


"Tentu saja bingung! Mungkin Anda sudah amnesia permanen karena terlalu banyak minum alkohol." Rico mematikan kompor gas, lalu berbalik sambil menatap nyalang pada Farhan. Seolah ingin memakan pria itu mentah-mentah.


"Aku hanya bertanya. Kenapa kamu marah-mara?" Ikutan marah, Farhan membuka kulkas tanpa peduli, ia mengambil air putih untuk meredakan kerongkongannya yang kering seperti ladang di musim kemarau.


"Saya kesal dengan Anda Tuan, sudah kuperingatkan berkali-kali, jangan pergi ke acara laknat itu! Tapi Anda tidak mau mendengarkan permintaan saya sama sekali." Rico mendengkus, lalu mengambil dua piring untuk makan mereka berdua.


Farhan berjalan pelan sambil membawa segelas air putih dingin. "Apa aku merepotkanmu?" Pria itu sudah duduk di meja makan seperti tuan putri. Matanya melirik Rico yang sedang menyiapkan menu sarapan. Pertanda jam enam itu adalah waktu pagi.


"Lebih dari merepotkan. Rasanya aku ingin membunuh dan menggeser jabatanmu kemarin," ketus Rico. Ia benci sekali dengan orang mabuk, apalagi sekelas Bryan dan Felix yang hobi raba-meraba.


"Kalau begitu lakukanlah." Farhan menghabiskan segelas air putih di tangannya. Lalu berkata lagi dengan nada mengejek. "Jika kau kau mampu ...."


"Cih! Dasar arogan!" Dihidangkannya aneka makanan yang baru saja jadi. Rico memiliki sandwich dan steak ala rumahan yang ia buat sendiri. Sedangkan Farhan mengernyitkan dahinya, kaget saat melihat hanya ada sup bening dan dua butir telur rebus untuk jatah sarapan paginya.


"Silahkan dimakan sarapannya, Tuan." Rico menarik kursi. Lalu duduk dengan gaya malas.


"Kenapa makanan kita tidak seimbang? Apa ini bentuk balas dendammu padaku?" Farhan kesal. Merasa tidak terima dengan jatah yang tidak sepadan.


"Itu adalah menu untuk orang sehabis mabuk. Aku mengatur takaran gizi yang pas untuk memulihkan kesadaran Anda," balas Rico tanpa melirik sedikit pun. Asik memakan sandwich di tangannya.


"Aku tidak mau makan ini, berikan steak milikmu," tolak Farhan. Ia menyingkirkan menu makanan yang kurang berselera di matanya. Lantas mencoba merebut makanan Rico seperti anak bocah.


Buru-buru Rico menjauhkan makanannya dari jangkauan Farhan. Pria itu menatap Farhan dengan pandangan setengah jijik. "Jangan menggodaku! Kali ini aku sedang marah padamu, Tuan. Jangan terlalu sering bicara padaku. Apalagi bertingkah sok menggemaskan seperti itu. Makan saja apa yang sudah kubuat untukmu. Kalau tidak suka, segera angkat kaki dari rumah ini."


"Siapa yang salah duluan?" Rico membalikkan ucapan Farhan. Iris cokelatnya memancarkan sejejak emosi yang terkesan tumpah ruah.


Mengambil sendok, Farhan terpaksa diam dan memakan sup jatahnya demi mengisi perut lapar. Agak perih dan melilit karena tidak terisi makanan sama sekali sejak kemarin.


"Bagaimana keadaan Lisa dan anak-anak? Apa mereka tahu aku mabuk? Apa Lisa marah?" Farhan meninggalkan segala bentuk gengsi, lalu bertanya demi rasa penasaran yang berkelebatan di kepala.


"Aku tidak tahu," jawab Rico bohong—ditambah merubah bahasa dengan gaya non formal. Dari apa yang Rico lihat, Lisa nampak biasa saja dan tidak marah sama sekali saat mengetahui Farhan mabuk. Namun, Rico sengaja tidak mau memberi tahu agar Farhan resah dan semakin merasa bersalah.


Farhan menelan sup sedikit-demi sedikit. Sambil sesekali melirik muka jutek Rico yang menyerupai koran lecek."Baiklah, aku minta maaf. Apa kau ingin pindah ke apartemen baru?"


"Tidak butuh," jawab Rico ketus.


"Ah, bagaimana dengan senapan model terbaru yang sangat kau dambakan waktu itu. Aku akan membelikannya untukmu."


"Tidak perlu, Tuan." Rico masih tetap jutek. Pura-pura marah walau hatinya nyaris goyah dengan tawaran Farhan.


"Mobil baru?" Farha terus berusaha mengambil hati Rico. "Kau juga ingin mobil sport terbaru keluran negara A, kan?"


"Pajaknya mahal. Aku tidak butuh!"


"Lalu apa yang kau butuhkan? Aku akan membelikannya untukmu" tanya Farhan lebih dalam. Rico makin geram, ia menggebrak meja makan agak kasar.


"Aku hanya ingin Anda berhenti melakukan pesta setiap satu tahun sekali dengan teman-teman Anda yang mesum." Rico beranjak dari duduknya. "Satu lagi ... jangan merayuku dengan barang-barang. Aku bukan wanita simpananmu!" Lalu, Rico pergi dengan raut marah yang terbendung lagi.


Farhan menautkan alisnya, lantas mengambil steak milik Rico yang belum dimakan sama sekali.


"Siapa yang menganggapmu sebagai wanita simpanan? Aku hanya ingin memberi hadiah sebagai ucapan maaf." Tersenyum geli, Farhan memotong steak yang ia inginkan sedari tadi. Kebetulan sekali pemiliknya ngambek. Tidak perlu berebut makanan seperti bocah kelaparan.


***


NOTE: Jangan vote novel pake aplikas versi lama ya akak-akak. Karena aplikasi sudah di upgrade ... kalau mau vote, jangan lupa udapet versi terbarunya, buka aplikasi playstore atau tempat kalian download aplikasi ini. Akan ada tempat buat upgrade.