
Warning: Cerita ini hanya fiktif. Mohon tidak mengaitkan dengan kehidupan asli di dunia nyata🙏🙏
***
Benar yang Rico tebak, setelah ditelusuri lebih dalam. Para warga berpikir bahwa Rico dan kawan-kawan adalah artis karena penampilan dan mobil mewah yang menjemput mereka sangat mencolok di mata warga Jogja.
Rico pun meminta maaf pada pihak warga setempat karena kedatangan mereka menimbulkan kerumunan dan perhatian orang sekitar tanpa disengaja. Setelah meladeni beberapa wanita yang memaksa minta foto bareng Rico, pria itu memberikan sekoper uang untuk dibagi-bagikan pada warga setempat.
Itu adalah permintaan Farhan, karena ia merasa disayangi oleh warga yang menyambut mereka dengan suka cita. Padahal, Rico sudah menjelaskan bahwa kedatangan mereka ke Jogja untuk melakukan perjalanan bisnis. Meskipun tidak kenal, mereka memberikan berbagai oleh-oleh dengan alasan untuk kenang-kenangan. Karena sudah bersedia mampir di kota Indah yang bersahaja.
Betapa baiknya mereka, hingga akhirnya Farhan berniat tulus memberikan royalty kecil sebagai bentuk rasa syukurnya.
***
Sesuai jadwal yang sudah di tentukan. Rico dan Farhan melakukan pertemuan penting bersama calon klien yang akan bergabung menjadi investor Revical Group. Mereka mengadakan rapat di salah satu hotel yang tidak jauh dari penginapan. Lisa tidak ikut, hanya Farhan dan Rico saja demi mempersingkat waktu.
Setelah deal dan berhasil meyakinkan Klien, Farhan dan Rico bergegas pergi menuju bandara. Farhan bermaksud mengantar Rico kembali ke bandara sekalian pulang ke penginapan.
"Selamat bersenang-senang, Tuan."
Rico melambaikan tangan sesaat pria itu baru saja turun dari mobil. Ia berjalan dengan gagah. Lengkap dengan rambut yang selalu basah dan kacamata hitam yang menutupi mata indahnya.
"Ah, lelahnya." Rico menghempaskam tubuhnya di kursi tunggu sambil menyesap espreso kesukaannya. Pria itu sedikit menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Sibuk bermonolog dengan diri sendiri.
Waktu semakin dekat, apa Anda sudah siap, Tuan? Batin Rico sambil mendesah berat.
Ada banyak hal yang Rico pikirkan saat ini. Sebagai pria dewasa, ia terlalu pengecut untuk bercerita atau sekedar berbagi setitik kisahnya pada dunia. Rico lebih suka menghadapi masalah dan memecahkan solusinya sendiri tanpa merepotkan siapa pun. Sekali pun itu adalah Farhan.
Dan, sebuah tepukkan membangunkan Rico dari lamunannya. Pria itu mengerjap-ngerjap sampai kopinya nyaris tumpah.
"Ehemm." Seorang gadis yang berdeham di sampingnya membuat Rico menoleh. Ia nampak menyembunyikan binar bahagia dalam sikap dinginnya dan kacamata hitam yang menutupi netra.
"Kau sudah datang?" tanya Rico basa-basi.
"Baguslah. Kupastikan juga kau mendapatkan penghargaan yang setimpal atas usahamu kali ini. Terima kasih banyak." Rico kembali menatap lurus ke depan agar orang sekitar tidak curiga bahwa ia sedang melakukan transaksi dengan orang asing. "Berikan semua data-datanya padaku. Aku akan bertemu langsung dengannya saat tiba di Jakarta nanti."
"Aku sudah mengirim datanya via e-mail," jawab wanita itu.
"Baiklah, kau boleh pergi."
Gadis itu nampak terkejut dengan sikap cuek Rico. "Woah. Semudah itukah kamu mengusirku?" Ia itu tersenyum miring. Lalu menyipitkan mata tanda tidak terima. "Aku membuang waktu ke salon hanya untuk bertemu denganmu, tidakkah kau ingin bersenang-senang sedikit? Aku yakin kamu sangat lelah."
"Bersenang-senang?" Rico menoleh kembali. Kali ini ia menyempatkan diri untuk menatap wajah gadis itu lebih rinci. "Apa yang kau maksud semacam tidur bersama di sebuah kamar nyaman ... berdua saja?" tanya Rico. Nada suaranya terdengar mengejek penuh penekanan.
"Tentu saja, Honey. Kita manusia dewasa, bukan? Hal seperti itu sudah tidak aneh lagi."
"Baiklah. Hanya tidur bersama, bukan? Hal yang sangat mudah untuk melakukannya. Tapi jangan pernah menyesal, dengan resiko yang akan terjadi selanjutnya—"
Binar bahagia muncul bersama senyum manis gadis itu. "Tidak masalah, aku bisa memuaskan kapan pun kau mau," balas wanita itu penuh percaya diri.
"No! Bukan itu yang kumau."
"Kau mau yang seperti apa? Apa kau ingin memiliki status sah dulu? Aku tidak masalah." Gadis itu bertanya dengan senyum lepas yang menggoda.
"Tidur bersama ya." Rico nampak menimbang ucapan gadis itu kembali. "Sepertinya menyenangkan, aku bisa membunuhmu setelah kupastikan kau tertidur pulas," ucap Rico dengan wajah datar mengerikan.
Gadis itu berdecak sebal setengah kecewa. "Cih! Kau tidak pernah berubah, Rico. Sepertinya dugaanku benar, kau memang pecinta sesama jenis." Gadis itu beranjak marah. Pergi meninggalkan Rico yang masih duduk santai sambil memegang gelas minumnya.
Rico menatap gadis itu sebelum tubuhnya benar-benar hilang dimakan kerumuman banyak orang. Ia tersenyum kecut dengan jutaan kenangan buruk yang berputar di kepala. Kenangan itu tak sengaja menguap akibat ucapan gadis tadi.
"Kau tidak bisa menilai seseorang tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya pada orang itu, Nona." Lalu beranjak pergi meninggalkan kursi yang ia duduki.
***
Jangan lupa kirim bunga-bunga yang banyak ya, biar aku makin semangat nulis. 🤣🙏