HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 41 : (Season 2)



Cello dan Malika langsung dilarikan ke rumah sakit dengan dugaan trauma mekanik akibat terperangkap dalam ruang gelap minim udara.


Untuk keadaan Malika sendiri cukup baik, namun beda halnya dengan Cello yang umurnya jauh lebih muda dan tubuhnya masih rentan dibandingkan Malika.


Pria kecil itu nyaris saja meregang nyawanya andai satpam sampai telat sedikit lagi membukakan pintu untuk mereka berdua. Setelah dibawa ke rumah sakit, ternyata Cello nyaris mengalami asfiksia, atau yang mudah disebut dengan kegagalan saluran pernapasan.


Lebih lengkapnya lagi, asfiksia adalah keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan, mengakibatkan oksigen dalam darah berkurang (hipoksia) disertai dengan peningkatan karbondioksida (hiperkapnea). Organ tubuh mengalami kekurangan oksigen (hipoksia hipoksik) dan dapat menyebabkan kematian jika tidak segera diselamatkan.


Di balik semua ini, Farhan benar-benar depresi dan merasa tidak becus dalam mengurus harta titipan milik sang adik yang Tuhan berikan kepadanya. Ini adalah kegagalan pertama dan terparah sepanjang sejarah Farhan dalam menjaga mereka berdua.


Farhan sampai menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpa Cello dan Malika. Andai ia lebih ketat lagi dalam meningkatkan penjagaan, nyawa Cello tidak mungkin terancam bahaya seperti ini.


"Cabut perizinan gedung sekolah itu. Untuk apa mendirikan sekolah jika tidak becus menjaga murid-muridnya!" Ucapan kemarahan sudah Farhan lontarkan untuk kesekian kalinya.


Semua yang ada di dalam ruang tunggu tersebut gemetar ketakutan. Pak kepala sekolah dan beberapa guru yang ikut mengantar mulai panik lantaran ancaman Farhan tidak bisa dijadikan main-main. Pria itu memang dikenal sangat baik, tapi kalau sudah dikecewakan marahnya akan lebih garang dari ibu macan yang mengamuk.


"Al!" Menoleh pada Alex sekretarisnya yang sedari tadi berdiri memantau. "Pastikan dua bocah itu dihukum seberat-beratnya. Jangan lupa juga hancurkan seluruh keluarganya!"


Alex hanya tertunduk diam. Ia tidak mau menjawab ocehan Farhan saat pikiran pria itu tengah dilanda kekalutan. Kecuali Lisa seorang. Tak ada satu pun yang berani duduk di deretan bangku yang mereka dudukki.


"Tahan emosimu. Ell pasti baik-baik saja." Lisa mencoba menenangkan Farhan sebisa mungkin. Dia adalah satu-satunya spesies yang bisa menenangkan Farhan disaat pria itu tengah dilanda kekalutan.


Sedari tadi Farhan terus membentak dan memarahi siapa pun. Pak Farik yang anaknya ikut menjadi korban pun sampai takut melihat kemurkaan Farhan.


Sementara Cilla yang terus menangis tak henti-henti ditenangkan oleh sang neneknya di ruangan lain. Ia terus mengamuk dan memaksa masuk menemani kakaknya di ruang perawatan.


Malika sudah sadar meski keadaan tubuhnya sangat lemah, dan Cello masih terbaring di ranjang dalam penanganan para dokter spesialis.


*


*


*


Dua bocah yang mengurung Cello dan Malika digudang gelap juga sudah diamankan di kantor kepolisian. Besok Farhan akan bertemu langsung dengan orang tua dan dua bocah nakal tersebut. Ia akan membawa kasus ini ke rana hukum yang lebih serius lagi agar jangan sampai kejadian kasus berbahaya lagi seperti ini.


"Adek mana, Bun?" tanya anak itu seraya mengedar ke sekeliling. Hal pertama yang ia cari saat membuka mata adalah Cilla. Seolah hati mereka sedang terhubung dan saling mengkhawatirkan satu sama lain.


"Adek di rumah nenek. Besok pagi dia ke sini. Kamu istirahat dulu aja ya," ujar Lisa.


"Ell pengin ketemu adek," lirihnya seraya memohon.


Mungkin Cello dapat merasakan bahwa di rumah sana Cilla sedang menangis lantaran tidak boleh ikut menemani kakaknya di rumah sakit. Bukannya apa, jujur saja Farhan paling tidak suka membawa anak kecil ke tempat seperti ini. Bahkan sedari tadi ia sudah menyuruh Lisa pulang. Farhan tidak mau Lisa kelelahan dan berujung sakit pada akhirnya.


"Besok ya, besok ayah jemput Cilla ke sini. Sekarang kamu sama ayah dulu," ucap Farhan menerangkan dengan bahasa selembut mungkin agar Cello mengerti.


Pandangan Cello beralih pada Lisa.


"Bunda ikut nginep di sini, 'kan? Ello takut rumah sakit. Ello nggak mau jauh-jauh dari bunda." Mata anak itu berbinar sedih. Ia nampak begitu takut dirawat di rumah sakit karena ini merupakan pengalaman pertama kalinya bagi Cello.


"Iya, bunda di sini. Gak akan kemana-mana, Sayang." Lisa mengusap-usap kening anak itu sekilas, kemudian melirik Farhan di sampingnya. Matanya mengatakan bahwa ia tidak masalah jika harus menginap di rumah sakit.


Dengan berat hati Farhan mengizinkan.


***


Dikit dulu ya. Hari ini aku lagi agak sibuk. Semoga dapat mengobati. Mua begadang buat bab selanjutnya. Jangan lupa kirim hadiah kopi. Kwkww