HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Ungkapan Hati Di Hari Jadi



Hujan deras mengiringi suasana manis di dalam kamar pengantin Lisa dan Farhan. Keduanya sedang berada di atas ranjang kebanggaan yang sudah diselesaikan para staff sejak tadi sore. Tatapan cinta yang amat menggelora hadir tanpa mereka sadari. Menyelimuti dinginnya udara malam ini.


"Happy Aniv yang ke dua bulan ya, Mas." Lisa mengalungkan kedua tangannya di leher Farhan. Wanita itu tersenyum hangat sebelum akhirnya melayakangkan satu kecupan manis di bibir Farhan.


Farhan menyambutnya dengan suka cita. Diraihnya pinggang ramping itu dengan kedua tangan. Mereka mulai bercengkrama di atas tumpukan bunga-bunga indah. Tak hanya di atas kasur. Langit-langit kamarnya pun tak luput dari hiasan mawar merah.


Cuaca dan dekorasi kamar sangat mendukung. Layaknya orang kehausan, mereka saling menyapa dan melampiaskan hawa nafsu yang berkecamuk.


"Tunggu dulu, Mas." Lisa menahan tangan Farhan saat pria itu baru saja mulai meremas benda favoritnya.


"Apa lagi?" tanya Farhan dengan napas memburu. Pria itu tampak cemberut kesal. Ia sudah menunggu momen ini sejak tadi. Di saat Farhan mengambil inisiatif, Lisa malah mematahkan semangatnya dengan hal-hal lain. Jelas itu membuat Farhan menggemeretakkan giginya jengkel. Mungkin juga, kecebong yang sudah siap-siap di garis start menjerit karena kecewa.


Ah, menyebalkan!


Lisa tersenyum geli melihat sang suami yang sepertinya sudah tidak sabaran untuk memulai pergulatan. "Ada satu hal yang ingin aku tanyakan padamu. Sebenarnya ini sudah mengganjal di hatiku sejak lama, tapi aku baru mendapat momen yang pas untuk bertanya."


Helaan napas kasar tertarik dari hidung Farhan. Ada jejak emosi di matanya walau tidak terlalu kentara. "Kalau begitu cepat katakan!" Farhan menjatuhkan dagunya di pundak Lisa dengan gerakan malas. Keduanya masih dalam posisi duduk dan menyender pada sandaran tempat tidur.


"Tapi jangan marah ya, Mas." Satu kecupan mendarat di kening pria berwajah masam itu. "Jadi aku pernah dengar dari rumor yang beredar, bahwa kamu adalah tipe pria yang kurang suka berkomitmen dengan pernikahan. Katanya, kamu berpikir bahwa cinta dan komitmen dapat mempengaruhi kesuksesanmu dalam berkarir. Benarkah seperti itu, Mas?"


"Siapa yang bilang?" tanya Farhan dengan mimik mengintrogasi. Dahinya membentuk tiga kerutan lurus. Penasaran siapa pemilik mulut sok tahu itu.


"Ya benar," jawab pria itu. Farhan tidak mengelak apalagi beralasan. "Dulu aku memang sangat membenci komitmen. Terutama setiap kali melihat koleganku yang tidak bisa membedakan mana urusan pribadi dan pekerjaan. Sering kali, mereka mengesampingkan pekerjaan hanya demi menuruti keinginan wanita. Yang kadang menurutku tidak masuk akal untuk diutamakan." Dan mungkin itu akan terjadi padaku suatu saat nanti, lanjut Farhan dalam hati. Mengingat hatinya sudah berubah dan goyah. Tak sekeras yang dulu lagi.


"Ah begitu ... bagaimana kejadiannya sampai kamu memutuskan untuk berkomitmen dan mematahkan opini itu?"


"Kamu benar ingin tahu?" ditariknya kepala si bawel itu. Farhan membenamkan wajah Lisa ke dadanya dalam-dalam.


Lisa menyembul dari cela ketiak Farhan. "Ya, aku sangat penasaran. Walau aku tahu kamu mau menikah denganku karena si kembar, tapi aku ingin tahu cerita lebih jelasnya."


Ada jeda sejenak. Farhan tampak enggan menceritakan apa yang terjadi padanya kala itu. Namun, binar polos dan antusias Lisa mengalahkan semuanya. Mungkin ini adalah waktunya memberi tahu keburukan yang ia alami di masa itu.


"Apa kamu masih ingat kepulanganku saat kamu sedang ujian skripsi waktu itu?" Farhan memulai.


"Ya, aku ingat. Kamu mengabariku bahwa ingin kembali ke Indonesia beberapa waktu, tapi kamu tidak kembali lagi sampai aku lulus kuliah. Dan akhirnya nona Katy mengabari, bahwa kamu menyuruhku pulang ke tanah air."


Farhan menatap Lisa dengan pandangan mata teduh. Ada binar sedih yang sulit diungkapkan menggunakan Lisan. Dan ia pun mulai bercerita sepenggal kisahnya di masa lalu, "Masa itu adalah masa-masa tersulit untukku. Duniaku seakan hancur, hingga aku menderita gangguan mental karena tidak menerima garis takdir yang direncanakan Tuhan."


***


Tahan, masih sore guys, ngobrol dulu ya... 🤣