HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Bab 2 : (Season 2)



Kegiatan itu berakhir dengan kepuasan Farhan yang menjadi mayoritas utama. Pria tersenyum lepas sambil mengancingi satu-persatu kancing kemejanya. Kemudian menjentikkan jarinya agar Lisa segera mendekat dan menghambur memeluk tubuhnya.


"Dasar suami, sangean!"


Ejekkan sarkasme Lisa membuat pria itu melotot tajam ke arahnya. "Beraninya kamu berkata seperti itu! Apa kamu ingin aku memakanmu sebanyak lima kali, hah?"


Lisa tertohok mendengar ucapan Farhan. "Apa-apaan, sih?"


Wajah wanitanya berubah menjadi seperti kepiting rebus. Lisa masih setengah berbaring sambil menstabilkan tenaganya yang belum pulih.


"Apalagi memang?" Farhan masih melotot penuh arti. Lisa membalas tatapan Farhan tak kalah melotot. Ia begitu kesal pada aksi semena-mena Farhan kali ini.


Iya sih, tiga menit itu sudah resmi hilang, Farhan juga telah berhasil menjadi pro player jika sudah menyangkut masalah ranjang. Namun, kini Lisa yang suka kuwalahan dengan semangat sang suami yang tak pernah ada habisnya. Kadang Lisa sampai telat bangun hanya karena kelelahan.


"Dasar suami nyebelin!" teriak Lisa bersungut-sungut.


"Kamu yang mengejekku duluan. Tandanya kamu sendiri yang seperti itu." Farhan membalas Lisa dengan ejekkan yang lebih menantang.


"Hei, teori dari mana, coba?" Wanita itu menatap Farhan murka. "Kalau aku sudah pulih, kugigit kamu ya, Mas!"


Satu bantal sofa Lisa ambil dari belakang punggungnya. Ia memasang wajah marah dan tampak semakin menggemaskan di mata Farhan.


"Gigitlah," ejek pria itu kembali.


"Ikh, sebel!" Lisa menggemeretakkan giginya, kesal. Kemudin meraih jari Farhan dan menggigitnya kuat-kuat. Wanita itu mengerucutkan bibirnya. Membuat Farhan tak tahan dan akhirnya meraih benda monyong itu layaknya sejumput nasi.


"Awh!" Lisa memekik keras. Di mana sikap itu tersusul oleh gelak tawa Farhan yang menggema nyaring.


"Ngomong-ngomong yang tadi adalah hadiah pernikahan yang aku minta khusus darimu. Jadi tariklah wajah manyunmu itu jika tidak ingin membuatku kesal karena hal itu."


"Aku tidak butuh barang apa pun. Jadilah istri yang penurut, itu sudak cukup untukku." Jawaban Farhan membuat Lisa berubah puas.


"Terima kasih Sayangku, kamu memang suami terbaik sepanjang masa." Lisa merapatkan duduknya kembali. Ia menutupi tubuh polosnya dengan membentangkan blazer pada bagian sensitifnya. Dan mulai menaruh kepalanya di dada Farhan. "Bagaimana dengan Cello? Apa kamu sudah memastikan gosip yang ada di sekolahnya itu bohong, Mas?" Lisa bertanya antusias.


"Entahlah, Alex sedang menyelidiki," balas Farhan yang mulai pusing jika sudah menyangkut bahasan tentang kenakalan bocah itu.


Mengenai si kembar. Kini dua bocah titisan Reyno dan Jennie itu sudah menginjak kelas 2 SD. Menurut kabar burung, Cello dikabarkan berpacaran dengan kakak kelasnya sendiri. Penuturan itu mereka dengar dari wali kelasnya langsung. Katanya anak itu sering diam-diam mengintip jendela anak kelas empat dan kepergok menaruh surat di tas kakak kelasnya.


"Coba nanti aku tanya sekali lagi, dia selalu berkata tidak setiap kali aku introgasi Mas. Cilla juga tidak pernah mau bantu jawab saat ditanya. Sepertinya kalau sudah menyangkut rahasia dua bocah itu sangat kompak deh."


Farhan mendesah lemah. Meraih punggung Lisa sambil membawa tubuh setengah polos itu lebih dalam ke dekapannya. "Bagaimana dengan nilai ulangan mereka, apa sudah ada perubahan pada Cilla?"


"Ck. Sama sekali tidak Mas. Cello selalu menduduki peringkat pertama jika soal nilai, tapi Cilla masih sama seperti biasa. Peringkat pertama dari bawah."


Farhan berdecak, "Huh, aku pusing jika sudah memikirkan dua perbedaan mereka. Cilla sangat susah disuruh belajar, ingin rasanya aku membakar squisy dan semua mainan LOL tidak penting itu," tukas Farhan setengah emosi.


"Ya, namanya juga anak-anak. Mereka mempunyai karakter masing-masing. Sama halnya seperti Cello yang pintar tapi sudah ada bibit playboy." Lisa tertawa geli. "Pokonya kita harus memberi edukasi sebanyak-banyak pada mereka, jangan sampai anak berharga titipan Tuhan itu sampai terjerumus ke dunia aneh-aneh. Nanti aku akan mencari sarana belajar yang pas untuk Cilla. Dia mudah bosan kalau melihat buku soalnya."


Layaknya orang tua kandung profesional, Farhan dan Lisa memang kompak dalam mendidik dua bocah kembar nakal itu. Sayangnya mereka belum diberi momongan sendiri oleh Yang Maha Kuasa. Namun kesabaran Farhan sebagai calon ayah tidak ada duanya. Ia akan berdiri di garda terdepan jika Lisa sudah mengeluh masalah kehamilan yang tak kunjung datang.


Sabar, sabar, sabar, begitulah Farhan menjawab tanpa ada pernah menuntut istrinya untuk segera memproduksi bayi.


***


Lagi gak, nih? Jgn lupa kasih hadian poin ya. hehe🥰🙏