
Mengandung pembahasan 21+
***
"Aku benar-benar puas!"
Skala tertawa bangga setelah berhasil membuat Farhan Kesal. Ingatan-ingatan tentang raut wajah Farhan yang tampak malu dan marah terasa membekas hingga masuk ke hati dan empedu.
"Hei, kenapa dengan wajahmu?" Kepuasan Skala teralihkan saat melihat Bianca menatapnya dengan wajah masam.
"Jatahmu hilang Ska! Lenyap sudah!" tegas wanita itu tidak main-main.
"Kok bisa? Bukannya aku tidak memancing keributan apa pun? Apa yang aku katakan barusan memang benar, 'kan? Siapa suruh dia menggabungkan acara pribadi dengan acara umum!"
Bianca menghela napas untuk mengambil tiket kesabaran yang nyaris habis terkuras. Suaminya ini! Ingin sekali ia mencubit ginjalnya sampai gemetar.
"Ska ...." Nada suaranya melirih. Tak mempan berbicara dengan Skala menggunakan urat, wanita itu lekas memasang wajah kecewa. "Aku tidak suka suamiku yang nyinyir seperti tadi. Tuan Farhan tidak berhutang budi apa pun pada kakek moyangmu. Tapi kelakuanmu terlalu menghakimi seolah hidupmu sudah yang paling benar saja!"
"Ya ampun Cha! Kamu berani bicara seperti itu pada suamimu?" Skala menggelengkan kepalanya tidak percaya. Padahal mulut Bianca jauh lebih fantastis kalau sudah menyemburkan lahar nyinyir. Skala bahkan sudah pernah melihatnya secara langsung.
"Aku bicara seperti itu karena tidak suka Ska! Aku mau dateng ke sini karena kamu bilang kangen si Twint, tapi kamu malah gangguin ayahnya." Dia semakain melemahkan nada. Mengayun-ayun penuh irama agar bicaranya terkesan mendaramatisir. Membuat Skala salah tingkah sampai bingung harus berbuat apa.
"Maaf ... maaf! Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti tadi, yang jelas aku sangat suka melihat ekspresi manusia itu saat marah. Semakin dia marah hatiku semakin puas. Bahkan masih pengin melakukannya lagi!"
"Ska!" pekik Bianca semakin kesal. Kalau tidak malu dengan banyaknya orang di area luar ini, mungkin Bianca sudah menjambak-jambak suaminya saat ini juga.
"Iya ... iya maaf! Mungkin ini bawaan bayi kita. Aku juga tidak tahu kenapa, kamu bilang perasaan aneh tidak biasa yang sangat mendesak ingin segera kita lakukan itu bagian dari nyidam, 'kan? Dan itulah yang aku rasakan saat melihat si tuan Farhan itu. Aku ingin menggodanya sampai marah!"
Sorot mata tidak suka Bianca terpancar semakin dalam. "Menyebalkan sekali si, kamu!" Disertai jeweran yang membuat pria itu mengaduh minta ampun.
"Bodo amat! Uhukk!" Biancar tiba-tiba terbatuk.
"Tuh 'kan, galak jadi kuwalat!" Skala terkekeh, kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari stand minuman. "Tunggu di sini dulu, aku mau cari minum."
Skala membawa langkah kakinya menuju stand minum yang tengah ditinggalkan oleh penjaganya. Saat matanya tengah mencari-cari air mineral, ia tidak sengaja bertubrukan dengan seorang wanita yang tengah memegang segelas koktail hingga berguncang membasahi dressnya.
"Auwkwkk!" pekik wanita itu nyaris marah. Namun, sedetik kemudian sorot matanya berubah saat melihat ketampanan Skala yang terpancar paripurna di bawah pencahayaan rembulan palsu berbentuk lampu.
"Maaf ... maaf!" Skala menyodorkan selembar tisu. Matanya sedikit melirik perempuan yang diam-dia mengawasinya tak berkedip. Siapa lagi kalau bukan Bianca.
"Tidak apa." Wanita seksi bohay itu menerima tisu pemberian Skala. "Terima kasih!"
"Sama-sama! Sekali lagi maaf untuk yang tadi." Skala mengambil botol air mineral berukuran sedang dari atas meja stand untuk diberikan kepada Bianca yang sedang menunggu dengan wajah cemberut.
Ia sedikit memberikan senyum ramah, sebelum akhirnya berlalu pergi.
"Emmm ... Tuan!" Tiba-tiba wanita tadi menarik lengan Skala hingga pria itu menoleh ke belakang.
"Ya?" Skala sedikit mengernyit.
"Bolehkan saya minta nomor yang bisa dihubungi?" ucap wanita itu cari mati.
***
Kalau Bab setelahnya belum keluar berarti ditunggu aja.