HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Scandal Suami-Istri



"Apa!" Lisa nyaris tidak percaya mendengar penuturan Farhan. "Pantas saja aku tidak melihat aura kariyawan di wajah pria itu."


Masih menggeleng tidak percaya, Lisa syok bukan main saat mengetahui Rico adalah anak orang kaya. Apalagi anak musuh bebuyutan Revical Grup. Herannya, tuan Haris masih mau menerima Rico bekerja bekerja di perusahannya empat belas tahun yang lalu. "Jadi, sikap Rico yang kadang arogan dan berani itu karena ia merasa bukan orang rendahan juga, kan?"


"Sikap Rico yang berani memang atas permintaanku. Ada saat di mana dia gemetar ketakutan di saat aku marah, ada saat sebaliknya, aku yang tidak enak saat mendapati pria itu marah."


Lembaran dokumen dibuka perlahan. Tangan Farhan cekatan memeriksa semua file, memindahkan yang sempurna dan menumpuk beberapa yang harus direvisi ulang. Begitulah pekerjaan Farhan setiap hari jika berada di kantor.


Lisa kembali membahas Rico, rela meninggalkan pekerjaannya sejenak demi sebuah pembahasan yang sebenarnya tidak ingin dibicarakan sang suami. "Kaya, tampan, pintar, lengkap sekali hidupnya pak Rico itu. Sayang dia jomlo."


Farhan mendongak dengan wajah sebal. "Sepertinya dari semalam kamu sangat antusias setiap kali membahas tentang Rico. Apa kamu ingin jadi istrinya?" tanya Farhan dengan nada bicara menggerutu, protes. Pria itu selalu teringat kata-kata Lisa yang hendak bertanggung jawab menikahi Rico kalau gagang paculnya tidak berfungsi.


"Tentu saja tidak mau, aku kan sudah punya kamu," jawab Lisa setengah menyengir. Buru-buru tangannya meraih dokumen di atas nakas. Pura-pura memeriksa. Farhan juga kembali memeriksa dokumen di tangannya.


"Cih!" Pria itu menyempatkan berdecih sinis. Dasar mulut plinplan, begitulah isi otak Farhan.


Lisa tidak mau pusing dengan reaksi Farhan. Ia memutuskan untuk santai sejenak agar otaknya mau diajak kerja kembali. Wanita itu menatap Farhan penuh harap. "Tugasku pagi ini hampir selesai. Bolehkan aku main hape sebentar, Tuan? Aku janji akan menyelesaikan sisanya sebelum jam makan siang." Lisa berbicara dengan bahasa formal ala kariyawan ngelunjak.


"Hmmm." Farhan berdeham tanpa menoleh sedikitpun. Melekatkan gaya boss arogan dan angkuh ciri khasnya—meskipun Lisa adalah istrinya sendiri.


Mata bulat Lisa menyipit. Dahinya mengkerut tidak senang. Dasar suami angkuh, begitulah arti ekspresi wajah Lisa barusan. "Terima kasih, Tuan Farhan yang budiman," jawab Lisa seolah mengejek batasan derajat di antara mereka.


Kegiatan beralih pada layar yang minta segera disentuh. Lisa menyambar ponsel di atas nakas secepat kilat. Kekesalannya bagai gula yang larutkan dalam air panas saat melihat ponsel. Mood terbaiknya kembali secepat kilat. Wanita itu tertawa riang melihat aneka unggahan yang lucu-lucu di grup pribadinya.


"Astaga!" Lisa menoleh pada Farhan. Giginya gatal jika ada teman satu ruangan tapi tidak bisa diajak mengobrol. "Coba lihat unggahanan status terbaru pak Rico, Sayang. Apakah dia ada bakat menjadi pelawak?" Lisa tergelak kencang, kembali menggunakan bahasa suami istri dengan Farhan.


"Dia bilang: mencari informasi KUA yang menyediakan calon wanitanya langsung. Hahaha. Aneh 'kan?" Lisa tergelak semakin kencang. "Apa dia sudah kebelet nikah? Jangan-jangan dia penasaran dengan burung ciciutnya. Masih berfungsi atau tidak ya, kira-kira?"


Di saat Lisa tergelak, Farhan nampak termenung dengan sejuta pikirannya. "Itu bukan kata-kata yang dia ungkapkan sesungguhnya," ucap Farhan membenarkan.


Lisa menyerngit bingung seraya berkata, "Terus maksud statusnya apa?"


"Kemungkinan dia sedang dalam masalah. Rico selalu membuat guyonan lucu saat keadaannya tidak baik. Mengklaim dirinya sendiri, bahwa ia baik-baik saja."


"Kok aneh ya, coba kamu tanya dia kenapa." Hati Lisa mulai ketar-ketir. Ia menyambar air putih di depannya. Meminumnya sekaligus hingga tandas. "Jangan-jangan burungnya mati. Ah, tidak! Kamu harus siap-siap diduakan, Sayang. Aku sudah berjanji akan menikahinya kalau sampai terjadi apa-apa." Mulut plinplan Lisa unjuk suara lagi.


"Jangan banyak mimpi! Sekali pun Rico impoten, aku tidak mau berbagi istri dengannya. Biar saja dia jadi jomlo seumur hidup. Itu sudah takdirnya."


Untuk pertama kali, Farhan bicara nyinyir dengan gaya kejam alas boss angkuh. Membuat Lisa menggeleng keheranan sendiri.


"Hahaha, jahat sekali kamu, Sayang. Itu 'kan kesalahanku. Aku harus tanggung jawab padanya, tahu."


"Tapi tidak dengan menikahinya. Aku akan mengobati sampai pulih!" seru Farhan kesal.


Pancingan Lisa berhasil. Sekarang Lisa agak sedikit percaya diri, bahwa Farhan sudah memiliki rasa pada wanita itu. Cemburu, adalah bukti nyata bahwa cinta sudah merambat di antara jantung dan hati Farhan.


***


Makasih buat yang sudah vote. Hari ini up dua bab sekaligus sebagai ucapan terima kasihku pada kalian.