
Terlalu khawatir memikirkan Farhan, membuat Rico kesulitan tidur sepanjang malam. Matanya menghitam saat terbangun di pagi hari. Ia bergegas mandi dan sarapan. Lalu melihat keadaan Farhan di rumahnya.
Tak lupa, Rico juga membawa obat penghilang mabuk dan sup untuk pria itu. Naas, bukannya bertemu Farhan, Rico malah menjumpai anakan piranha yang menangis mencari ayah dan bundanya. Kata sang nenek, si kembar ngambek dan tidak mau sekolah kalau tidak menjumpai Farhan dan Lisa terlebih dahulu. Alhasil, Rico terpaksa membawa dua anak-anak itu pergi ke rumah Bryan. Semoga saja si kembar tidak melihat kejadian mengerikan di rumah itu.
***
Shea dan Lisa terlalu sibuk menyiapkan sarapan pagi sampai tidak ingat pada tiga manusia yang masih tepar di halaman belakang. Shea pikir … Bryan pasti membawa mereka tidur di paviliun karena tidak kembali ke rumah sampai pagi. Baby El juga masih tidur karena semalam agak rewel. Mungkin karena Daddynya tidak ikut di tidur bersamanya seperti biasa.
Asisten rumah tangga yang sedang menyapu di ruang tamu datang ke dapur agak buru-buru. "Bu, di depan ada tamu …."
"Siapa?" tanya Shea sambil meletakan ayam goreng ke meja hidang.
"Saya kurang tahu, Bu. Wajahnya mirip oppa Korea tercemar orang Bule. Dia membawa anak kembar."
"Kembar?" Lisa menyerngitkan dahinya, terkejut. "Itu pasti anakku," lanjutnya.
"Tolong suruh masuk saja, Bi." Shea langsung berlari begitu mendengar suara tangis El dari dalam kamarnya. Sementara Lisa langsung melepas apron, lalu ke depan untuk memastikan siapa yang datang.
"Bundaa!" teriak dua bocah itu. Benar dugaan Lisa, Rico datang bersama dua anak piranha. Mereka berdua langsung berlari ke arah Lisa.
"Pak Rico ngapain ke sini?" tanya Lisa dengan tatapan menghardik. Sedikit kesal juga melihat kedatangan Rico. "Kau merindukan suamiku, ya?" lanjutnya kesal.
"Jangan sembarangan bicara, aku di sini ada perlu dengan penghuni rumah ini."
Tak lama kemudian, Shea datang sambil menggendong baby El. Si kembar langsung bersembunyi di balik tubuh Lisa saat melihat kehadiran orang baru yang nampak asing.
Setelah itu, Shea mengajak tiga tamu tak diundang itu untuk duduk. Shea juga memberikan mainan milik El agar si kembar anteng bermain tanpa mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
Pria asing itu tersenyum ke arah baby El. Lalu kembali menatap Shea dengan bahasa tubuh sopan. "Perkenalkan, nama saya Rico, asisten tuan Farhan. Saya datang kesini untuk memberikan hadiah kepada anak kalian dari tuan Farhan."
Shea melirik map coklat yang baru saja Rico sodorkan ke arahnya. Ia menyerngit bingung. "Hadiah apa ya?"
Wanita itu semakin bingung. Karena biasanya, hadiah untuk bayi yang baru lahir lebih ke bentuk barang. Bukan map colkat yang tidak tahu isinya apa.
"Itu hanya saham Revical group senilai 0,2 persen, Nona."
"0,2 persen?" Lisa yang duduk di samping Shea melongo tidak percaya. Karana Shea merasa tidak enak, ia langsung berbisik di telinga Lisa, lalu bertanya berapa nilai saham tersebut.
Lisa ikut berbisik juga untuk memberi tahu jumlah saham 0,2 persen yang Shea tanyakan.
"200 Milyar?" Shea melongo takjub. Matanya membola mendengar nominal yang dibisikkan Rico. Buru-buru ia menyodorkan map coklat itu kembali. "Maaf, saya tidak bisa menerimanya, Pak Rico. Hadiah ini terlalu banyak untuk El."
Shea tidak tahu sedekat apa Bryan dan Farhan di masa lalu. Namun, menerima uang sebanyak itu dari teman, saranya tidak masuk akal.
***
Jangan lupa mampir ke novel My Perfect Daddy untuk melihat keseruan Daddy idaman, Bryan