
"Eh ... kedele hitam!"
Cello berteriak seraya memasukkan tangan ke dalam saku celananya. Dengan gaya songong dan arogannya ia mengejar kakak kelas yang tengah berjalan menuju kantin.
Gadis berambut panjang yang setiap hari dikuncir dua itu menoleh, menyipit sebal sambil menyunggingkan bibirnya pada Cello.
"Namaku Malika!" seru gadis kecil itu, kemudian memutar kepalanya kembali dan fokus berjalan. Buru-buru ia mempercepat langkahnya agar tidak terkejar oleh Cello karena anak itu kini telah berlari mengejarnya.
Dalam sekejap Cello sudah mensejajarkan langkahnya di samping kakak kelasnya itu. "Ya udah Malika cantik, calon istrinya Ello di masa depan."
Sontak gadis itu melotot tajam seraya memukul kepala Cello murka. "Hei ... jangan sembarangan ngomong ya! Kamu tuh masih anak kelas dua, beraninya engga sopan gitu sama kakak kelas. Nanti aku bilangin bu gurumu, biar kamu disuruh nulis permintaan maaf 100 kali di papan tulis sebelum pulang," ancam Malika marah.
Cello meringis ngilu seraya mengusap bekas pukulan Malika di kepalanya. "Dasar kedele hitam, yang ngomong kayak gitu duluan bukan aku, tapi ayah kamu tahu!"
"Ayahku suka bercanda, ngapain didengerin?" Malika mengerucutkan bibirnya. Tangan mungil itu meremas rok merahnya hingga sedikit naik.
"Ya aku kan anak baik. Jadi selalu dengerin kata orang tua. Gak kayak kamu." Cello melirik gadis kecil jutek di sampingnya. Ia ikut duduk saat Malika mendudukkan tubuhnya di bangku kantin.
"Ngapain kamu duduk sama aku? Pergi sana!" Malika pura-pura membolak-balik gambar menu setelah mengusir adik kelas biang rusuh tersebut. "Aku nggak nafsu makan kalau ada kamu di sini. Bisa-bisa muntah nanti," ujarnya lagi dengan bahasa sarkasme ala anak jaman sekarang.
"Kamu galak banget, Lika! Lagian sebenernya aku juga ngga suka sama kamu," ejek Cello ikutan kesal. Ia hanya bocah kecil biasa, wajar jika belum paham dan belum mengerti cara menangani perempuan galak. Yang Cello katakan juga jujur, ia tidak suka dengan gadis kecil itu. Sudah jelek, galak pula. Menurut Cello tidak menarik sekali untuk dijadikan teman. Namun Cello terus berusaha mendekati Malika demi pencapaian misinya.
"Terus ngapain kamu sering bilang mau nikahin aku kalau gak suka?" Malika menggeplak kepala Cello untuk yang kedua kalinya. Kali ini matanya mendelik semakin garang.
"Kamu tuh ya, nyebelin banget jadi bocah! Sakit tau!"
Cello hendak kabur, namun urung karena ingat perkataan pak Farik sahabat ayahnya sekaligus pengelola usaha bengkel Reyno. "Yang pengin nikahin kita berdua itu orang tua kita. Kata ayah kamu, papahku pengin aku nikah sama salah satu anaknya kalau udah besar nanti. Makannya aku mau nikahin kamu. Biar bisa bahagiain orang tua yang udah pergi ke Surga."
Cello menatap Malika dalam- dalam. Layaknya bocah polos lainnya, ia hanya ingin berbakti pada ayahnya yang telah tiada. Cello pikir mendiang Reyno akan senang jika ia mau melakukan itu suatu hari nanti.
"Kenapa harus aku? Aku 'kan lebih gede dari kamu. Kalau pun mau cari pacar, aku mau cari yang kelas enam aja, gak mau sama kamu yang masih suka keluar ingusnya," ejek Malika.
Cello menjawab logis. "Karena kamu yang paling kecil, dan semua anak pak Mandor kan cowok-cowok. Masa aku nikahnya sama cowok," protes anak itu mengikuti gaya papah Teddy yang selalu memanggil pak Farik dengan sebutan pak Mandor. "Lagian aku gak mau pacaran sama kamu, mau langsung menikah aja kayak ayah Farhan dan Bunda Lisa. Papah Teddy dan Mamah Panda. Mereka semua ngga pacaran dan langsung nikah kalau udah gede."
Cello semakin berceloteh, mengucapkan apa pun yang ada di dalam hatinya pada Malika. Malika melongo keheranan mendengar gaya bahasa anak itu yang terlalu berat dan kurang ia mengerti. Memang kalimat yang Cello ucapkan terdengar tidak pantas, namun semua itu murni naluri seorang anak yang tanpa sadar selalu mencontoh sikap yang di tularkan orang dewasa.
Tanpa mengerti rasa tertarik apalagi cinta, Cello berniat menikahi gadis berusia sepuluh tahun itu jika sudah besar nanti. Meskipun sudah berada di Surga, Cello ingin membahagiakan papahnya sebisa mungkin.
***
Sahur ... Sahur ...
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. 🙏🙏🙏🙏
Makasih yang udah nebak, ada yang tebakkannya bener gak? Hehehe