
"Jangan ikut masuk!" Farhan menahan Lisa saat Cilla berlari ke kamarnya. "Anak itu sedang sensitif, biarkan dia sendirian dulu di kamar."
Entah apa yang dilakukan kakaknya Cello, yang jelas Cilla menangis sesenggukkan. Ia berlari dari ruang bermain menuju kamar secara membabi buta. Mengabaikan Lisa dan Farhan yang kebingungan melihat tingkahnya.
"Tidak boleh seperti itu, kasihan Cilla." Lisa tak peduli. Naluri keibuannya menuntun wanita itu agar segera masuk ke dalam kamar si kecil Cilla meski mereka belum dekat satu sama lain.
"Ayah ...." Cello datang dari ruang bermain. Farhan langsung menggendong anak itu sambil bertanya,
"Adik kenapa nangis? Ello nakal ya?" tanya Farhan sambil menekan hidung anak itu. Cello mengaduh, menangkis tangan Farhan agar segera melepas cubitannya.
"Gak Ayah! Ello cuma bilang kalau kakak Lisa akan jadi mama buat kita, terus dia nangis," ujar anak itu mengadu.
"Tuhkan!" Lisa menimpali. "Semua masalah berasal dari aku, biarkan aku masuk ke dalam. Jangan ada yang masuk, ini adalah urusan wanita." Lisa menarik handle pintu. Menutup pintu itu dan menguncinya rapat-rapat.
Entah apa yang akan terjadi di sana. Farhan sedikit takut kala-kala Lisa disakiti oleh ucapan Cilla. Tapi wanita itu sendiri yang memaksa, seharusnya Lisa sudah tahu resikonya akan seperti apa.
"Hai!" Lisa menyapa, mendekat pada gadis kecil yang sedang memeluk boneka panda bernama Erina.
"Kakak ngapa cini?" telak anak itu jutek. Diusapnya air mata yang mengalir di kedua pipi. Cilla tidak suka dilihat lemah oleh Lisa.
"Mau lihat keadaan kamu, kenapa kamu menangis?"
"Akak ja'at, Cilla gak mau temu cama kak Lisa agi! Kaka syudah ambil ayah Cilla, kak Ello juga lebih syuka kak Lisa dalipada Cilla. Semua olang syuka kak Lisa. Gak ada yang syuka sama Cilla." Gadis kecil itu mencurahkan isi hatinya. Derai air mata kembali berjatuhan membasahi pipi gembil merahnya.
Sekarang Lisa sudah paham letak titik permasalahannya di mana. Cilla cemburu pada Lisa, ia tidak suka melihat orang-orang yang ada disekitarnya menyukai Lisa. Wanita yang dianggap baru oleh si kecil Cilla.
"Siapa yang bilang gak ada yang suka sama Cilla. Kak Lisa suka kok, sama Cilla. Jauh sebelum Cilla lahir," ucap wanita itu. "Kotak yang kak Lisa berikan, adalah jawaban dari semuanya. Harusnya kamu buka."
"Emang isinya apa?" tanya Cilla. Gadis kecil itu menatap Lisa yang berlutut di lantai dekat tempat tidurnya.
Lisa menyerngit heran. "Coba saja kamu lihat, anak kecil biasanya selalu penasaran dengan hal-hal baru. Kenapa kamu tidak ingin tahu?"
"Gak pengin tau!" tukas Cilla. Benar-benar seperti mama kandungnya yang cuek akan lingkungan sekitar.
Lisa menghela sabar. Merangkum wajah anak itu dengan kedua tangan. "Di mana kotaknya? Kak Lisa mau kasih tahu."
Cilla hanya diam, lalu menunjuk laci di dekat tempat tidur.
Lisa mengangguk, mengambil kotak yang disembunyikan Cilla di bawah buku-buku belajar anak itu.
"Penasaran gak?" goda Lisa jenaka. Cilla menggeleng, membuat Lisa cemberut dengan ekspresi cuek gadis kecil itu. Dasar kopian Jennie!
Pelan-pelan, Lisa membuka kotak itu. Lalu mengeluarkan semua isinya. Ada sebuah album foto dan satu flashdisk di dalamnya.
"Ini adalah foto-foto mama Jennie dan kak Lisa. Ada papa Reyno juga, loh." Lisa membuka lembaran album itu. Buru-buru Cilla merebut dan menaruhnya di belakang tubuh.
"Cilla syudah liyat potonya." Gadis kecil itu menunduk malu.
"Eh, ternyata kamu bohong ya? Jadi sudah liat fotonya?"
"Ya!" jawab Cilla. "Mama Panda dan kakak Lisa dekat syekali, ada banyak poto, Cilla cuman puna poto mama panda dikit," ujar anak itu.
"Foto tidak penting. Yang penting hati kamu selalu ada untuk mama Panda." Lisa mengambil card memori yang ada di dalam flashdisk. Lalu memasang kartu memori itu di ponselnya.
"Kita liat video mama Panda dan kak Lisa ya!" Lisa bangkit dari posisi berlutut, lalu duduk di samping Cilla. Wanita itu tersenyum saat melihat buah hati sahabatnya tampak malu-malu.
"Hmmm," jawab Cilla antusias, sampai ia diam saja saat Lisa mengangkat gadis itu kepangkuannya.
Video pertama mulai diputar. Menampilkan Lisa dan Jennie yang tengah bercengkrama di dekat kolam renang. Nampak Lisa tengah mengalungkan sebuah kalung berliontin hati. Gadis itu berseru sambil menatap ke arah kamera.
Kedua bocah berseragam SMA itu bersorak gembira. Ngakak-ngakak berdua.
'Dear calon anakku, wanita jelek di sampingku adalah ibu kedua untukmu.' Jennie berseru, wajahnya nampak bahagia saat itu. Lisa yang merasa tidak kuat langsung menjeda video itu, meletakan ponselnya di samping paha.
Wanita itu menyeka air matanya. Sesak menyelimuti rongga dada Lisa saat melihat video itu diputar. Rasanya baru kemarin membuat video itu, kini sahabatnya sudah berada di alam yang berbeda. Dan video itu adalah kenangan terakhir Lisa. Di mana saat itu Lisa sedang menghibur Jennie yang hendak dinikahkan dengan Reyno.
"Video itu adalah video terakhir kami, saat itu mama kamu hendak menikah dengan papa Reyno," tutur Lisa.
Wanita itu memutar posisi tubuh Cilla hingga menghadapnya. Lalu mengelus kalung bergambar hati di dada anak itu.
"Entah sejak kapan kamu memakainya, tapi kalung ini sudah berada di tempat yang benar," ujar Lisa. Wanita itu memeluk Cilla erat, di mana ada getar nyaman yang membuat Cilla diam sejenak sambil menikmati pelukan ibu keduanya.
"Kalung ini dari nenek. Cilla yang nemu kalungna di kamal mama Panda." Cilla menangis sesenggukkan, baju Lisa sampai basah oleh air mata dan ingus anak itu.
"Kak Lisa sudah menunggu kehadiranmu sejak lama, Sayang. Meskipun kita baru kenal, tapi kakak sangat bersyukur bisa bertemu kamu. Kakak tahu, mungkin pertemuan ini sangat terlambat, namun ini lebih baik daripada tidak sama sekali. "
"Jadi kakak nikah sama ayah Hanhan bial bisa gantiin mama Panda? Cilla dengel sendili nenek bilang ke kakek, kalau kak Lisa syudah menikah dengan ayah Hanhan. Makannya ayah tidak mau puyang, tinggal sama akak Lisa teyus."
Gadis kecil itu memberanikan diri untuk mendongak. Rahasia Lisa dan Farhan telah terbongkar meski mereka terus menutupinya dengan susah payah.
"Siapa bilang begitu, kakak menikah dengan ayah Hanhan agar kakak dapat menjadi ibu tiri untuk kalian berdua. Kakak tidak ingin anak sahabat kakak sampai jatuh ke tangan ibu yang salah. Mengenai menggantikan mama Panda, kak Lisa sama sekali tidak berniat melakukan itu. Mama Panda terlalu istimewa untuk digantikan. Dia memiliki hak khusus untuk berada di hati kamu." Lisa tersenyum hangat, membuah hati gadis kecil yang ada di depannya mulai luluh.
"Ibu kandung tidak pernah tergantikan, apalagi mama Pandamu. Dia adalah pahlawan yang patut diberi gaji tinggi. Namun nyatanya, dia tidak pernah mengharapkan apapun selain cinta dari anak-anaknya. Melihat kalian berdua tumbuh menjadi anak yang baik adalah keinginan utama seorang ibu. Jadi, izinkan kak Lisa membantu mama Panda untuk merawat kalian berdua ya, kak Lisa janji akan menyayangi kalian seperti janjiku untuk sahabatku Jennie."
Cilla mengangguk. Sedikit tersenyum malu-malu. Entah anak itu paham atau tidak dengan bahasa yang Lisa gunakan. Karena jujur saja, Lisa kurang pandai merangkai kata untuk disampaikan pada anak kecil seperti Cilla.
"Makasih kak Lisa," ucap Cilla.
Lisa memeluk tubuh kecil itu penuh kasih sayang. Membuka rongga hatinya agar lebih bersabar lagi.
Ah, begini ya, rasanya menjadi seorang ibu. Harus ekstra sabar, tapi aku menyukainya.
***
Lisa keluar kamar dengan derai air mata, ia meninggalkan Cilla yang sedang melihat koleksi video mamahnya di ponsel Lisa. Wanita itu sengaja tidak ingin melihat, mentalnya belum kuat jika harus melihat video bahagianya dengan Jennie.
"Bagaimana? Apa kalian bertengkar?" Farhan langsung menyergah saat Lisa baru keluar dari kamar Cilla.
"Hatiku sakit!" Lisa melingkarkan tangannya di pinggang Farhan. Memeluk pria itu dengan sambil sesenggukkan. Hatinya bagai ditikam sembilu. Lisa ingin sekali teriak dan meluapkan semua yang ia rasakan saat ini.
"Kamu diapain?" tanya Farhan yang masih berpikir bahwa Lisa menangis karena ulah Cilla.
"Hatiku sakit karena melihat nasib si kembar sama sepertiku. Mereka ditinggal ibu kandungnya di saat masih kecil, sama sepertiku. Tuan ...." Lisa mendongak, memberanikan diri menatap Farhan dengan wajah yang masih bercucuran air mata.
"Bahagiakanlah bunda selagi ia masih ada. Jangan sampai nasibmu seperti aku dan si kembar. Aku ingin sekali membahagiakan ibu kandungku, berbakti pada orang yang telah melahirkanku ke dunia. Namun semua itu tidak bisa kulakukan karena alam kami sudah berbeda." Tangisan Lisa semakin pecah dipelukan Farhan. Hatinya seperti diris-iris ketika mengingat semestar yang telah berpaling darinya. Merenggut sang ibu di saat ia masih belum siap ditinggalkan.
Ah, sakit!
Lisa ingin sekali melakukan hal-hal kecil bersama ibu kandungnya. Memberi kado di hari ulang tahun, mengucapkan selamat hari ibu sambil mencium pipinya. Sayang sekali, semua itu hanya ada di dalam angan-angan. Ia tidak bisa seperti anak beruntung lain yang masih memiliki ibu.
Wahai engkau yang masih memiliki ibu, jaga baik-baik perasaan ibumu. Mungkin saja waktu mereka di dunia tidak banyak lagi. Berikan kado-kado kecil meskipun ibu bilang tidak perlu. Karena setelah ia pergi, kau tidak akan mampu membahagiakannya lagi. Meski uang di ATM-mu menumpuk sekalipun. Semua itu tidak berguna lagi.
Ibumu telah tiada.
***
Up kedua agak panjangkan? Jangan lupa vote sebanyak-banyak biar novel ini nangkring di ig noveltoon. Wkwkkw.