HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Tempat Eksperiman Baru



Farhan menyerngit kebingungan begitu sampai di tempat tujuan. Bahkan, pria itu nyaris tidak percaya dengan tempat yang dituju Lisa. Konsepnya aneh, persis seperti orang yang mengajakkan ke mari.


Hotel kapsul. Di mana tempat itu jauh berbeda dengan kamar president suit yang biasa Farhan tiduri. Farhan pernah mendengar konsep hotel seperti ini, tapi ia tidak pernah ingin bekerja sama membangun hotel model minimalis seperti itu. Ia lebih suka menciptakan gedung pencakar langit berkualitas yang bisa memuat ribuan pegawai.


Ah, Farhan kembali menatap pintu kamarnya ragu-ragu, Farhan sudah hampir keluar mengambil baju di ruang ganti. Tidak ingin tidur di tempat aneh itu.


Dibukanya pelan-pelan kamar tersebut. Penasaran dengan isi dalamnya seperti apa.


"Tempat apa ini?"


Matanya terus mengindahkan kamar dari luar ruangan. Ada kasur yang cukup dipakai untuk dua orang, televisi, selimut, tapi tidak bisa berdiri di dalamnya, dan ... di mana toiletnya? Apa tidak ada toilet? Farhan sibuk berbicara dengan diri sendiri. Sampai tak sadar Lisa yang sudah selesai ganti baju.


Wanita itu segera menepuk pundak Farhan takut kesambet.


"Apa kamu yakin tempat ini bisa ditinggali? Bagaimana jika aku ingin berdiri?" Farhan sudah hampir kabur jika tidak dicegah Lisa. Dan gadis itu menyerang dengan ungkapan yang tidak terduga.


"Apa kamu ingin tidur sambil berdiri, Sayang? Tidak mungkin kan? Lagian, sebagai pebisnis di dunia properti, kamu harus bisa memandang dunia dengan luas. Gaya hotel seperti ini sedang digandrungi di seluruh dunia. Kamu tidak akan tahu keseruannya sebelum mencoba. Masuk dulu yuk." Lisa menarik tangan Farhan. Pria itu sedikit membungkuk karena hanya ada akses berdiri saat masuk saja. Sedangkan untuk bisa naik keranjang, Farhan harus membungkukkan badannya setengah.


"Bagaimana? Bagus 'kan?"


"Aneh. Kenapa semua konsep yang kamu atur tidak ada yang benar, Lisa?" Farhan masih belum menyadari letak keseruannya. Terlalu sempit, sesansinya setara tidur di kolong meja bagi Farhan.


"Sini tidur dulu, Sayang. Baru kamu protes." Lisa menepuk tempat tidur jatah Farhan, pria itu ikut berbaring tepat di samping Lisa meski agak ragu.


"Mataku silau. Bisakah kamu mengatur pencahayaannya?" protes Farhan Lagi. Lisa menekan tombol lampu mode redup, sekalian menyalakan televisi agar kamar tidak terlalu sepi.


"Sekarang bagaimana? Apa kamu sudah merasa lebih nyaman?" tanya Lisa.


"Biasa saja," jawab Farhan.


Lisa mendengkus. Susah memang, mau diapakan saja, Farhan kurang pandai menyatu dengan jiwanya anak muda masa kini.


"Apa kamu tidak merasa, bahwa jarak kita semakin dekat di tempat ini. Walaupun kecil dan sempit, tapi desain interior di tempat ini dibuat senyaman mungkin untuk ditiduri pasustri. Sangat cocok untuk pasangan yang sedang dalam proses mendekatkan diri seperti kita."


Farhan ber' oh ria sambil menatap langit-langit. Ia masih belum paham letak serunya di mana. Padahal, Farhan sudah menyewa kamar dengan harga fantastis. Kenapa Lisa maunya yang seperti ini?


Maka Farhan melakukan protes sekali lagi untuk mengetahui pikiran Lisa lebih rinci. "Tapi kamar kita di hotel lebih nyaman, luas dan semua fasilitas lengkap. Sedangkan di sini, mau ganti baju tidur saja harus jauh-jauh keluar," keluh Farhan mematahkan.


"Uhk. Kamu bawel, Sayang!" Lisa membungkam mulut Farhan dengan bibirnya. Menyeruakkan benda liat yang menggelitik sekujur tubuh Farhan. Tak ada penolakkan, apalagi dorongan protes yang keluar dari mulut Farhan.


Pria itu begitu menikmati setiap sentuhan yang membuat gagang gayungnya bergetar-getar. Merasa dipancing dan diajak melakukan sayembara balap liar lagi.


"Apa kamu mau coba benda ini, Sayang? Sepertinya seru kalau pakai ini. Aku belum pernah." Sebuah alat kontrasepsi milik pria sudah di tangan. Lisa memamerkan dengan bangganya sambil kedip-kedip mata.


"Tidak! Singkirkan benda menggelikan itu dariku." Farhan menepis benda itu sampai jatuh entah kemana.


"Kenapa lagi? Apa kamu phobia k*ndom juga?" tanya Lisa dengan nada mengejek.


"Aku tidak akan pernah menyentuh atau memakai benda menggelikan seperti itu," sungut Farhan menahan gelinya setengah mati.


"Padahal itu benda kebanggan pria loh, Mas. Kamu memang beda dengan pria lain. Sampai yang seperti itu saja ditakuti," ejek Lisa lagi.


Farhan menyanggah cibirran Lisa. "Bukan begitu. Aku pernah tak sengaja menyentuh benda bekas pakai yang seperti itu di kampusku dulu. Sejak saat itu, aku sangat geli setiap kali melihat benda gila itu. Ingatakanku selalu tak pernah lepas dengan kejadian di belakang kampus dulu."


"Hahaha." Lisa menanggapi dengan tawanya yang lepas. Sampai ia bisa membayangkan dengan gamblang bagaimana ekspresi Farhan saat menyentuh benda bekas pakai itu. Seperti apa marahnya, kagetnya, gelinya, dan ... apakah dia langsung mandi kembang tujuh rupa? Hihi.


Lisa kembali tersadar dari lamunan menggelikan itu. Lalu menepuk tangannya di depan muka. "Untung kita tidak butuh alat seperti itu, Sayang. Kalau pun suatu saat harus menunda kehamilan, kita bisa memakai program penunda lain."


Mode ngoceh diaktifkan.


"Eh, tapi aku pakai KB apa ya? Setidaknya aku harus mulai memikirkan persiapan KB pasca lahiran nanti. Enaknya apa ya, Mas?"


Farhan diam tanpa kata, malas menanggapi.


"Suntik, Pil, spiral, atau—"


Farhan yang sedari tadi menahan geram langsung buka suara.


"Bisakah kita berhenti ngobrol. Kapan acaranya bisa di mulai?"


Pertanyaan yang lolos dari bibir Farhan sukses membuat Lisa melongo. Pandangannya turun, tertuju pada antena yang sudah menunjukkan sinyal 4G sedari tadi. Eh, maksudnya 10G sudah on fire. Hehe. Lisa tersenyum-senyum geli menatapi.


Ternyata kamu udah gak sabar ya, Mas Al?


Batin Lisa sambil cekikikan.


***


Yang baca bab ini komen dan like dong. Hehehhe.