HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Rahasia sekretaris Alex



Sementara di ruang tamu, Farhan dan Alex sedang berdiskusi mengenai pindahnya ruang kerja Lisa ke rumah. "Apa semuanya sudah beres?" tanya Farhan membuka suara.


"Sudah Tuan, besok nona bisa mulai bekerja dari rumah. Saya juga sudah menyusun berkas-berkas yang harus nona Lisa kerjakan selama satu minggu. Untuk rapat dan sebagainya, kita bisa menghadirkan nona secara virtual." Alex menerangkan begitu tenang. Matanya teduh saat menatap Farhan.


"Bagus. Aku suka kinerjamu yang cepat," puji Farhan bangga. Asisten pilihan Rico memang sudah teruji. Nyaris tidak ada kecacatan dalam bekerja.


"Ada satu lagi Tuan. Tapi ini menurut pribadi saya saja."


"Apa itu?" Farhan menatap Alex lekat. Kakinya berposisi menyila, dua tangannya terlipat di depan dada sambil menyandarkan tubuh ke sandaran sofa.


Alex menarik napas panjang, lantas membenarkan posisi duduknya lebih tegap. "Menurut pemikiran saya, nona pasti akan bosan jika bekerja dari rumah selama satu minggu full. Bagaimana jika kita beri sedikit kelonggaran agar mengizinkan nona bekerja di kantor selama dua hari dalam satu minggu. Dengan catatan, jam kerja nona tidak lebih dari lima jam. Bagaimana?"


Farhan menautkan satu alisnya seperti sedang menyimpulkan sesuatu. Lalu manggut-manggut tanda setuju. "Benar juga idemu. Menurut kepribadian Lisa yang keras kepala, sepertinya dia akan kesal jika kita menyuruhnya kerja di rumah."


"Benar sekali, Tuan."


"Ya sudah, aku akan membicarakan ini dengan istriku nanti."


"Baik Tuan. Oh ya, jam tiga sore nanti Anda ada jadwal konsultasi dengan psikiater. Apa Anda ingin saya menyuruhnya datang ke rumah?"


"Cancel saja, aku sedang tidak ingin konsultasi." Seperti biasa, Farhan selalu menolak jika itu berhubungan dengan psikiater.


"Tapi, Tuan, ini adalah perintah pak Rico langsung. Tuan harus menjalani terapi rutin demi kebaikan Tuan sendiri." Alex menolak permintaan Farhan dengan tegas. Sesuai apa yang diperintahkan Rico dari balik sana.


Meskipun pria itu sudah tidak menjadi asisten Farhan, tapi dia punya Alex yang selalu menjadi kaki tangannya. Termasuk mengontrol keadaan Farhan dari jarak jauh seperti ini. Bisa dikatakan, kesetiaan pria itu masih belum luntur walau ada jarak dan status yang membentang.


"Kalau begitu undur jam empat saja, hari ini aku ada janji pergi ke taman bermain dengan anak-anak."


"Baik Tuan, nanti saya akan menghubungi." Alex berdiri untuk berpamitan. Ia sedikit merapikan jas hitam yang selalu melekat di tubuhnya setiap waktu. "Kalau tidak ada hal yang perlu di sampaikan lagi, saya izin pulang ke rumah dulu. Selamat menikmati hari libur Anda, Tuan." Alex menunduk sopan sebelum pergi dari rumah Farhan. Namun belum sempat ia melangkah, Farhan mencegah pria itu pergi.


"Tunggu dulu."


"Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Tuan?" Dia tersenyum santun.


Farhan mengerjap. Ikut berdiri juga. "Sepertinya aku akan mencabut beberapa peraturan yang aku buat untukmu. Terutama soal pacaran, kau boleh berhubungan dengan gadis manapun asal semua itu tidak mengganggu pekerjaan."


"Ah itu." Alex tersenyum tulus. "Saya sudah berjanji pada diri saya agar tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun. Sebenarnya tanpa Tuan larang, saya memang tidak tertarik untuk berpacaran."


"Kenapa?" Farhan melayangkan tatapan heran ke arah anak itu. Kenapa semua sekertarisnya begini? Rico, Alex, Katty, tiga manusia itu memiliki prinsip hidup yang sama. Tidak suka berpacaran karena suatu alasan yang mereka pendam masing-masing.


"Dulu saya pernah menjalin cinta dengan dua wanita sekaligus. Satu pacar saya, dan satu lagi adalah dosen di kampus saya." Dia mulai membuka lembaran masa lalu.


"Wah, ngeri sekali kau, ya? Lalu apa yang terjadi dengan hubungan kalian." Farhan tampak antusias mendengarkannya. Mereka yang sedari tadi berdiri, mulai memposisikan diri untuk duduk kembali.


"Kami semua berpisah. Ternyata pacar utama saya dijodohkan oleh orang tuanya tanpa sepengetahuan saya, dan dosen killer yang menjadi selingkuhan saya langsung menghilang setelah puas bermain-main dengan hubungan tidak jelas kami. Saat itu saya ditinggalkan dua wanita sekaligus dalam satu bulan," ucap Alex, mulai bernostalgia dengan masa lalunya yang terdengar rumit.


"Memusingkan sekali kisah hidupmu. Jadi kau trauma berhubungan dengan wanita karena hal itu?" tanya Farhan penasaran.


Alex menggeleng samar diikuti dengan sudut bibirnya yang tertarik sempurna. "Tidak sama sekali Tuan. Hubungan satu bulan yang saya jalani dengan Miss Dafina sukses membuatku tidak dapat mencintai wanita lain sampai detik ini. Jika ada kesempatan, aku ingin sekali menemui wanita itu," ujar Alex. Wajahnya berubah sedih saat mengurai sosok Dafina yang pernah menjadi teman ranjangnya selama satu bulan.


"Semoga suatu saat kau bisa bertemu dengan wanita itu." Farhan beralih pada pacar utama. "Lalu bagaimana dengan pacar pertamamu, apa kau sakit hati setelah ditinggal menikah?"


"Tidak, karena saya sudah berpindah hati pada dosen killer itu. Tanpa bimbingannya, dulu saya hanya seorang bujangan urakkan yang tak memiliki masa depan. Perubahan ini terjadi akibat gemblengan keras dari Miss Dafina sebelum pergi."


"Ah, kasihan sekali kau! Mungkin dia pergi karena sengaja ingin menghindar darimu."


"Bisa jadi Tuan, dia memiliki pemikiran yang sulit ditebak. Terlihat seperti wanita nakal, tapi dia masih suci saat kita pertama kali berhubungan badan. Sayangnya kita sudah berjanji hanya menjalani hubungan selama satu bulan. Dia sudah menghilang duluan sebelum saya berhasil mengungkapkan perasaan cinta."


"Hmmm semiris itu cintamu, pantas saja kau menjadi jomlo abadi. Ngomong-ngomong kasihan sekali orang yang menjadi pasangan Dafinamu itu. Dia harus menerima barang bekas."


Alex terbatuk-batuk mendengarnya. Sejak kapan Farhan berubah nyinyir begitu? Ini si gila. Maka Alex menjawab lagi, "Saya berharap dia belum memiliki pasangan, dan saya bisa kembali merebut hatinya."


"Mana mungkin seperti itu, kalian sudah lama tidak saling bertemu dan berhubungan, bukan? Pasti dia sudah memiliki anak dan suami," pancing Farhan.


Alex mengepalkan kedua tanganya emosi. Tidak ingin menjawab omongan Farhan yang tidak bermutu. Lalu, pria itu menunduk dengan wajah yang dipaksakan tetap sopan. "Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan. Saya ada janji main golf dengan Tuan Cakrawala, sekalian ingin membahas perihal kerja sama."


Dia bergegas pergi meninggalkan Farhan yang masih duduk. "Hei, sekretaris kurang aja, Beraninya kau berlaku tidak sopan seperti itu!"


Alex sudah menghilang di balik pintu. Meninggalkan Farhan yang masih termenung memikirkan cerita Alex barusan. Pria itu merogoh ponsel, lalu menekan tombol hijau pada ponselnya.


"Cari tahu mantan dosen bernama Dafina di kampus Alex. Berikan semua data wanita itu padaku. Dan cari di mana keberadaannya."


Entah ada rencana apa, untuk saat ini hanya Farhan yang tahu.


***


Kisahnya Miss D belum bsa kutulis. Soalnya masih menata hati. Akan ada Reyno dan Jennie. Karena ceritanya ke masa lalu pas kuliah. jadi mereka belum kecelakaan. Aku butuh menata hatiku dulu. hehehe.