HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Gara-Gara Spongebob



Satu masalah terpecahkan dalam waktu singkat. Lisa sudah resmi diakui sebagai istri Farhan—alias bunda tiri si kembar yang baru. Walau Farhan sendiri masih bersikap kaku seperti batu prasasti di dalam museum, Lisa tidak peduli. Yang utama baginya adalah merebut hati si kembar.


Suasana nampak haru siang itu. Bunda Lynda sangat senang melihat cucu perempuannya mau menganggap Lisa sebagai ibu baru tanpa keberatan. Apalagi Cello yang terus bersenandung saking senangnya mendapat ibu baru yang sesuai dengan keinginannya.


Pada akhirnya, perjuangan Lisa membuahkan hasil yang baik dan respon cepat dari si kembar. Wanita itu sangat bangga. Karena menaklukan hati si kembar itu sama susahnya dengan membasmi pejabat yang suka korupsi.


Berniat merayakan kebahagiaan bersama, Lisa dan Farhan mengajak si kembar pergi jalan-jalan ke mall untuk sekedar merayakan kebersamaan mereka berempat. Lebih tepatnya mereka bertiga, karena Farhan menjadi pihak yang paling menyesal mendatangi tempat ramai itu.


"Apakah kalian sudah selesai?" Farhan mendesah kesal. Seumur hidupnya, belum pernah ia diperlakukan serepot ini. Mengikuti tiga manusia aktif dengan belanjaan menggantung di kedua lengannya. Rasanya ingin melempar aneka belanjaan itu ketempat sampah!


"Ayah, main ke 'Time Zone' dulu yuk!" Cello sudah berceloteh. Tangan kecilnya menarik-narik baju Farhan tidak mau tahu.


Mau tidak mau, Farhan menuruti keinginan anak-anaknya. Di mana sang istri adalah kompor utama mereka berdua.


"Ya, tapi jangan lama-lama!"


"Oke, Ayah!" Cilla dan Cello berseru kompak. Farhan berjalan mengikuti istri dan kedua anaknya. Mereka bertiga nampak seperti kakak beradik. Sama sekali tidak ada aura istri jika melihat tingkah Lisa saat bermain.


Suasana tempat itu sangat ramai. Farhan memilih duduk di pojokkan, berkumpul bersama para orang tua lain yang juga sedang menunggu anak-anaknya bermain.


Iseng-iseng berhadiah, Farhan melihat barang belanjaan Lisa. Dua jarinya menyapit kain tipis yang ada di dalam tote bag. Lalu mengangkatnya ke permukaan agar dapat melihat dengan jelas baju apa yang Lisa beli.


"Ekhm!" Farhan berdeham malu, mengerjap gugup saat melihat baju tipis yang Lisa beli.


Untuk apa dia membeli baju seperti itu? Apa dia sedang berusaha menggodaku?


Farhan menggelengkan kepala yang terasa berat. Otaknya mendadak travelling sehabis melihat baju tidur yang baru saja dibeli Lisa. Oh ya ampun! Farhan merasa gila. Sebagai pria berhasrat, pria itu langsung membayangkan Lisa memakai gaun tipisnya di malam hari. Meliuk-liukkan tubuh seksinya dengan gaya erotis sambil menggoda Farhan di atas ranjang.


Ah, Sialan. Sejak kapan aku semesum ini?


Farhan mendorong belanjaannya ke bawah kolong kursi. Lalu menghampiri Lisa dan anak-anak agar otaknya sedikit waras.


"Dasar bodoh!" Pria itu nimbrung tiba-tiba, ia mengejek Lisa yang kesulitan mengambil boneka di mesin capit. Mereka sudah habis puluhan koin, namun satupun boneka tak Lisa dapatkan. Hanya berkerumun dan teriak saat bonekanya gagal untuk di dapatkan.


"Bisakah Tuan Farhan yang budiman mengambilkan boneka itu untuk kami?" ledek Lisa dengan gaya menantang. Bibir manisnya menyungging sinis, bersiap mengejek Farhan jika sampai ia tidak bisa.


"Mengambil seperti itu harus menggunakan trik," ucap Farhan. Ia memang belum pernah mengambil boneka di mesin capit, tapi Farhan pernah melihat Spongebob dan Patrick melakukan trik ajaib. Dan berhasil membuat Squidward tercengang dengan kehebatan mereka.


"Ayo! Ayah pasti bicaaah!" Cilla berseru mengamati ayahnya.


"Jangan bilang Anda akan memecahkan kaca itu, Tuan?" Lisa sudah ancang-ancang curiga. Wanita itu menggendong Cello yang asik menikmati es krim di tangannya.


"Sembarangan, itu namanya curang. Lihatlah trik hebatku." Farhan sudah yakin berhasil. Ia memegang knop untuk menggeser capit. Lalu berkata dengan bangganya,


Tuwing ... tuwing.


Mesin itu berbunyi. Boneka yang Farhan ambil tak tersentuh sama sekali. Lisa langsung tercengang beberapa detik, lalu tergelak seperti orang gila.


"Jangan tertawa! Ini hanya permulaan." Farhan masih penasaran. Pria itu kembali menutup matanya, mencoba menjadi mesin agar dapat mengambil boneka keramat itu. Sialnya, percobaan kedua juga gagal. Lisa nyaris kencing di celana melihat wajah Farhan yang merona malu.


"Ayah! jimana mau dapet bonekanya kalo mata Ayah ditutup gitchuh!" Cilla menarik baju Farhan kesal.


Pria itu seperti merasakan dejavu. Ia pernah mendengar Squidward mengucapkan kalimat yang Cilla ucapkan. Farhan ingat betul Squidward juga berbicara pada Spongebob seperti itu, namun teori Spongeboblah yang benar, dan Squidward dapat mengambil bonekanya setelah mengikuti trik menjadi mesin yang Spongebob ajarkan.


"Ah, sialan! Sepertinya aku sudah gila!" Farhan menggusar rambutnya ke belakang. Menendang mesin sialan itu dengan kaki kiri. "Ayo kita pulang, ayah akan membeli boneka setoko untuk kalian berdua.


Farhan berjalan cepat. Meningalkan Lisa yang masih cekikikan melihat pria itu ngambek. Ia menggeram emosi sambil mengumpati dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia mempraktekkan teori bodoh Spongebob di kehidupan nyata. Memalukan.


Oh Tuan Farhanku sayang, hari ini Anda sangat imut, batin Lisa. Wanita itu bergegas menuntun si kembar, mengikuti Farhan yang berjalan cepat di depan mereka.


"Ayah marah! Kita pulang ya."


Cello dan Cilla mengangguk tanpa berkomentar. Lisa menuntun mereka dengan langkah cepat sampai kedua bocah itu sulit mengimbanginya.


"Cilla capek!" keluh bocah itu. Lisa yang kesal langsung reflek memanggil Farhan dengan suara keras.


"Ayah!" teriak Lisa. Semua mata tertuju pada Farhan yang menoleh ke belakang. Beberapa ibu-ibu menatap Farhan dengan pandangan aneh. Akhirnya Farhan berhenti sejenak, menunggu Lisa dan si kembar yang menyusulnya dari belakang.


Telinga pria itu mendadak panas ketika mendengar ibu-ibu membicarakan Farhan dengan suara keras. Awalnya mereka memuji Farhan, namun kesananya Farhan merasa kesal saat para ibu itu mengatakan Farhan awet muda. Sudah punya anak gadis, tapi masih setampan itu.


Oh, demi Neptunus. Farhan ingin merobohkan gedung ini sekarang juga. Jadi setua itukah Farhan di mata mereka? Sampai orang lain salah paham dan mengira Lisa adalah anaknya Farhan. Untuk pertama kalinya Farhan menyadari, bahwa ia telah menikahi bocah kecil.


"Jangan ngambek!" ucap Lisa kesal. Mereka baru sampai di depan Farhan. Ada dua anak polos yang juga ikut mengatur napas kelelahan. "Kasian si kembar, mereka kelelahan mengikuti ayahnya."


Mendengar kata ayah, telinga Farhan kembali panas.


"Aku bukan ayahmu!" Farhan menjentikkan jarinya di dahi Lisa. Lantas berjalan kembali dengan langkah pelan.


"Apa salahku?" Lisa menunjuk dirinya cengo. Tanpa ia tahu bahwa Farhan kesal karena dianggap sebagai bapaknya Lisa oleh orang lain.


***


Tunggu, aku up satu lagi agak maleman. Bab horor soalnya. 🤣