
Selesai berkeliling. Rico mengajak Lisa menunggu Farhan di ruangan khusus tamu. Mereka menikmati hidangan ringan yang disediakan oleh staff kantor sambil sesekali mengobrol masalah perusahaan.
"Pak Rico!" Lisa menatap Rico sambil meremas gelas jus melon agak kuat.
"Ya?" Rico menoleh. Menaruh segelas coklat hangat yang baru saja ia minum ke atas meja. Jemarinya mengelap bibir yang sedikit basah.
"Kalau boleh tahu, tipe wanita yang Anda suka seperti apa?" tanya Lisa pura-pura penasaran.
Diam. Rico termangu sejenak dengan pandangan penuh curiga. Lalu ia berkata, "Jangan coba-coba menjodohkanku dengan wanita kenalanmu, Nona. Saya tidak akan tertarik." Pria itu menghardik sebelum Lisa bicara. Seperti cenanyang yang katanya dapat membaca pikiran orang.
"Hahaha ... ya ampun." Lisa menepuk udara, gemas. "Bagaimana Anda bisa tahu, Pak Rico? Padahal aku baru saja berencana dalam hati. Belum sampai berucap. Kemarin Diana menanyakan tentangmu, makannya aku ingin tanya tipe wanita kesukaanmu seperti apa."
"Pertanyaan dan raut wajah Nona Lisa terlihat jelas. Saya hanya mematahkan rencana tidak penting Nona sebelum harapan itu terlampau jauh. Jangan coba-coba menjadi makcomblang untuk orang lain Nona. Apalagi untuk diriku."
"Cih!" Lisa berdecak sebal. Bola matanya berputar-putar malas sambil melipat tangannya di depan dada.
Ucapan Rico menegaskan bahwa orang-orang yang berusaha menjodohkannya seperti Lisa sangat banyak. Dan mereka semua hanya melakukan hal yang sia-sia percuma.
Menurut Rico sendiri, secantik apapun wanitanya, jika Dipsy tidak bergetar, artinya dia bukan tipe wanita yang cocok untuk dijadikan pendamping hidup Rico.
"Tapi kamu tidak bermaksud untuk mengganggu suamiku 'kan, Pak Rico? Jujur saja, kedekatan kalian berdua sangat mencurigakan! Aku takut suamiku terbawa arus, laluโ"
"Cukup Nona!" Rico memotong pembicaraan Lisa cepat. "Hubunganku dengan tuan Farhan hanya sebatas profesional kerja. Kami memiliki masalah pribadi dan privasi masing-masing. Jika Nona berpikir kesetiaan saya di samping tuan Farhan tergolong kotor, lebih baik Anda berhenti memikirkan hal gila semacam itu. Mungkin yang ngeres adalah otak Nona Lisa!"
"Aku hanya bertanya, kenapa marah sampai sedetail itu?" sembur Lisa kesal. Dadanya naik turun karena kebaikan Lisa ditolak mentah-mentah.
"Saya tidak suka ada yang mencampuri urusan pribadi saya, Nona."
Tak lama kemudian Farhan datang dan ikut bergabung duduk di samping Lisa. Wanita itu langsung nemplok pada Farhan seperti cicak.
"Sayang ... aku dimarahi Rico! Dia kesal gara-gara aku mau mencarikan jodoh untuknya. Niatku kan baik," adu Lisa sambil merajuk-rajuk. Bibirnya maju tiga centi. Farhan langsung menyapit bibir itu dengan kedua buku jari sampai Lisa menjerit.
"Sakit, Bodoh!"
"Jangan mengganggu Rico. Dia sudah bekerja keras setiap saat. Biarkan hidupnya tenang sedikit."
"Jadi kamu belain cowok itu?" Lisa menunjuk Rico sebal. Pria itu tersenyum devil sambil menaikkan satu alisnya. Mengejek Lisa yang masih manyun-manyun tidak jelas.
"Tuan Farhan tidak akan membela yang salah, Nona."
"Waah, peliharaanmu lucu sekali, Tuan. Apa Anda ingin saya mencarikan tulang? Sepertinya dia lapar."
"Pak Ricooooo!" Lisa berteriak kesal. Farhan dan Rico terkekeh geli melihat tingkah Lisa yang ingin dibela dan dimanja tapi tidak keturutan. Wanita itu terus menyembunyikan wajahnya di dada Farhan karena terlalu malu.
Pembicaraan teralihkan.
"Oh ya ... beberapa waktu lalu, apa kamu pernah pergi ke Bandung dengan seseorang?"
"Uhukk!" Rico terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Farhan. Coklatnya sedikit muncrat mengenai baju.
"Pelan-pelan. Aku hanya bertanya, tidak usah gugup begitu," ujar Farhan seraya mengulurkan kotak tisu. Rico langsung membersihkan baju yang terkena noda coklat. Untungnya tidak terlalu banyak dan mudah dibersihkan dengan tisu.
"Untuk apa aku ke Bandung?" Aura gugup nampak jelas di wajah Rico. Farhan langsung memancing untuk memastikan yang ia lihat adalah benar.
"Tapi aku seperti melihatmu berada di tempat pariwisata, dengan seorang wanita." Farhan mengerutkan keningnya. Pura-pura bingung.
"Apalagi itu ... mustahil sekali, Tuan! Setiap libur aku selalu pergi ke tempat latihan menembak. Untuk apa aku berada di tempat pariwisata." Dada Rico terlihat naik turun.
Lisa yang masih bersembunyi di dada Farhan langsung menyergah. "Sudah kubilang matamu jereng ... tidak percayaan," cibir Lisa kesal.
"Diam. Aku tidak sedang bicara denganmu." Farhan mengambil buah ceri di atas cake, lalu menyuapkannya ke mulut Lisa agar mau diam.
"Hump." Wanita itu melotot protes sambil mengunyah. Matanya merem melek karena rasa masam menggelitik mulut.
"Aku tidak kemana-mana Tuan." Rico menjelaskan sekali lagi untuk menyakinkan Farhan. Raut wajahnya nampak mencurigakan seolah dia baru saja mencuri sendal jepit di depan masjid. Nampak bersalah dan ketakutan.
"Aku percaya padamu, tenang saja, aku hanya iseng-iseng bertanya." Mengambil satu buah ceri lagi, memasukannya sambil manggut-manggut menggoda istrinya. Lisa protes, tapi tetap memakan buah itu hingga mulutnya bersih.
Di saat aku selalu terbuka padamu, kamu terus saja menjadi misterius. Apakah kebersamaan kita bertahun-tahun tidak ada artinya di matamu?
Farhan memilih melampiaskan kekesalannya dengan cara menggoda Lisa. Mengabaikan Rico dan kebohongan misterius yang dia simpan rapat-rapat.
***
Bagi vote nya dong, guys.. ๐