
Kembali lagi pada tiga anakan piranha yang sedang berada di kedai es krim. Pada akhirnya mereka bertiga dibawa ke ruang peristirahatan karyawan oleh satpam supaya tidak kabur. Cello dan Cilla tampak bingung melihat Malika menangis terisak-isak. Mereka sudah berusaha menenangkan anak itu sebisa mungkin, tapi Malika tetap saja menangis sambil memanggil ayahnya berkali-kali.
“Ayah kamu pasti gak bakalan kenapa-napa. Kakek aku kaya, dia pasti bisa beliin obat yang mahal buat ayah kamu supaya cepet sembuh,” ucap Cilla dengan polosnya.
Malika terpaku murka, ia sungguh tidak senang setiap kali mendengar si centil Cilla membahas uang dan kekayaan. Seolah hanya uanglah kebutuhan yang paling penting untuk manusia. Sebagai anak yang umurnya lebih tua dari mereka, tentunya Malika sudah jauh lebih paham. Ia bisa mengerti tentang perbedaan kasta yang membentangi mereka dan dirinya. Apalagi sang ayah sering berkata bahwa keluarga Malika sangat berhutang budi pada keluarga Cello. Malika jadi tambah sebal karena lagi-lagi uang yang jadi penentunya.
Bagai seorang ksatria, Cello pun tak mau kalah dalam urusan menenangkan Malika. “Tenang aja Kecap! Ayah Hanhan pasti bakalan dateng sebentar lagi.”
Padahal yang ditunggu sedang asik mantap-mantap dan sampai sekarang belum bisa dihubungi. ugh, betapa murkanya tuan Haris kalau tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua. Mentang-mentang anak sedang diasuh oleh kakeknya, Lisa dan Farhan malah asik jungkir balik tengah hari bolong begini.
Di mana otak mereka? Tolong jangan tanyakan pada rumput yang bergoyang karena itu tidak ada gunanya.
Malika bergerak menjauh, ia berjalan ke arah pintu bertuliskan 'EXIT’ sambil meremas dua tangannya yang gemetaran memikirkan nasib sang ayah. Cello segera menahan gadis kecil itu agar jangan pergi sebelum ada orang dewasa datang.
“Mau kemana, Kecap?”
Kecap?
Hidung Malika kembang kempis menahan tangis sekaligus kesal. Entah kenapa panggilan itu sangat tidak enak didengar oleh gadis mungil berkulit putih seperti Malika.
“Kemana aja, itu bukan urusan anak kecil sepertimu!” ketus Malika. Ia sudah menarik handle pintu, namun lagi-lagi Cello menahannya.
“Kita harus menunggu ayah dan bundaku dulu, tidak boleh kemana-mana sebelum ada orang dewasa datang!” Cello mengingatkan pesan sang kakek jika Malika lupa.
Gadis kecil itu menepis tangan Cello. Tak disangka-sangka ia malah mendorong Cello sampai tersungkur. “Semua itu pasti gara-gara ayah kamu. Pasti ayah kamu menyuruh orang-orang yang badannya besar itu buat mukulin ayah aku. Ayah kamu penjahat, aku bakalan laporin ayah kamu ke polisi biar dipenjara.”
Malika menjerit dan terisak.
Cello sedikit terkejut dan berusaha bangkit tanpa marah sedikit pun. "Gak mungkin, Lika! Ayahku itu baik walau mukanya serem."
Sementara Cilla yang tidak terima langsung mencakar dan menjambak rambut Malika sampai bando bermotif bunga daisy di kepala anak itu jatuh ke lantai. “Jangan sembarangan ngomong, ayahku orang baik, mana mungkin dia mau jahatin ayah kamu!”
“Tapi botol kecap itu nyebelin. Aku gak suka ayah kita dibilang orang jahat!”
“Ya, tapi gak boleh mukulin orang!”
Cello menarik lengan adiknya, menyuruh gadis kecil itu duduk dengan posisi agak jauh dari Malika. Lantas pria berhati malaikat itu mengambil tisu di saku celananya.
“Maafin adik aku ya, dia memang galak!” Cello mengusap darah yang keluar dari pipi Malika—bekas cakaran Cilla tadi.
Lagi-lagi Malika menepis tangan anak itu dengan gerakan kasar. Kali ini matanya mendelik tidak senang. Logika dan kesan pertamanya bertemu dengan Farhan yang garang menuntun gadis kecil itu pada pikiran negatif.
"Ngga usah sok baik deh, udah jelas-jelas semua itu terjadi gara-gara kamu, kalau kamu ngga bikin orang dewasa marah dengan tingkah kamu, ayahku gak bakalan sampe dipukulin begitu. Mulai sekarang aku bakalan batalin pertemanan kita. Aku ngga mau bertemenan sama orang kaya yang nyebelin kayak kalian!" tegas Malika.
"Asal kamu tau ya, aku mau temenan sama kalian tuh karena disuruh ayah. Sebenernya aku juga ngga mau temenan sama anak kelas dua yang gayanya sok sultan macam adik kamu dan kamu!" lanjutnya kemudian.
Cilla yang tidak terima mulai berdiri kembali. Menyeret kakaknya agar menjauh dari Malika. "Yaudah, kita juga ngga pengin punya temen galak kayak kamu. Dasar kedele hitam nyebelin!"
Cello tertunduk sedih. Dalam pikirannya, ia salah apa sampai harus dimusuhi seperti ini?
"Udah, mulai sekarang kakak ngga usah ngarepin Malika mau nikah sama kakak. Aku yakin mamah sama papah udah gak suka lagi sama Malika yang galak begitu. Apalagi dia ngga mau temenenan sama kita lagi. Kakak denger, 'kan?"
Cello mengangguk. Mengiyakan bahwa perteman mereka dan Malika berakhir cukup sampai di sini. Mulai detik ini, Cello tidak akan menyuruh atau mengejar Malika lagi.
...***...
...Bapak sama emaknya kemana sih? Anaknya pada berantem ini gimana?🥴...
...Up kedua. Jangan lupa komen dan like yang banyak, terus kasih hadiah biar nangkring di rank. Hehehe....
...***...