HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Apa Kau Juga Akan Pergi?



Lisa sudah mendengarkan semua cerita Farhan dengan rinci. Kali ini yang Lisa rasakan berbeda dari biasanya, tak ada sakit hati ataupun cemburu saat melihat suaminya menangisi seorang pria. Lisa sangat paham dengan apa yang dirasakan Farhan. Berpisah dengan orang yang paling dekat tanpa ada alasan yang pasti memang berat. Begitulah kira-kira yang Farhan pikirkan. Bahkan saat ia memohon, Rico tetap memilih pergi layaknya suami yang sudah tidak cinta lagi.


Satu hal yang masih membuat Lisa tidak menyangka, si bodoh Rico itu benar-benar pengabdi Farhan Budiman akut. Ia mau saja mengikuti perintah bodoh Farhan yang notabene hanyalah bualan semata. Sampai berani menembak diri sendiri, pula.


Ah, gila! Ini benar-benar sudah di luar logika. Lisa yang istri sahnya Farhan saja tak akan mau jika pria itu menyuruhnya mati konyol.


Hmmm. Memang apa hebatnya sang suami sampai membuat seorang Rico rela mati? Apa jangan-jangan dia cinta mati? Hanya Rico dan Tuhan yang tahu. Lisa nyaris gila sendiri memikirkan konflik dua mahluk itu.


Di saat ia sedang dipusingkan oleh masalah Rico dan Farhan. Tiba-tiba ingatannya kembali pada masa lalu. Lisa teringat betapa dekatnya ia dengan Jennie sebagai seorang sahabat. Mungkinkah yang Rico lakukan untuk Farhan adalah demi kebaikannya? Sama seperti Lisa yang saat itu rela menikah dengan Farhan demi sahabatnya, Jennie. Bahkan tanpa pikir panjang dalam mengambil keputusan.


Kalau dipikir-pikir ia juga satu server dengan Rico. Hanya karena tidak rela melihat anak sahabatnya diasuh oleh ibu tiri lain, Lisa rela menikah dengan Farhan tanpa kepastian. Bahkan sampai saat ini pria itu hanya menganggapnya sebatas teman ranjang. Itulah yang Lisa pikirkan.


Jadi kalau ditelaah ulang, apa yang Rico lakukan bisa jadi untuk kebaikan Farhan.


"Uhuuk!" Lisa tersadar dari lamunan saat mendengar suara batuk-batuk. Wanita itu langsung menoleh pada Farhan yang sedari tadi bergeming, kecuali batuknya barusan.


Lisa segera mengelus tengkuk Farhan. pelan. "Kalau keadaan kamu sudah baikkan, nanti kita jenguk pak Rico ya, Mas," ujar Lisa menyarankan.


Mendengar itu Farhan langsung mengernyit dengan pandangan mata jijik. "Apa kau pikir aku sudi melihat wajahnya?" tanya Farhan yang emosinya mulai terpancing lagi.


Hal itu membuat Lisa mengembuskan napas kasar. Tatapannya mengarah pada Farhan dengan dengkusan setengah sebal. "Aku bisa melihat kamu sangat khawatir kepadanya, Mas. Tidak usah gengsi, kalian itu sejoli sejati."


Sejoli sejati? Rasanya Farhan ingin muntah mendengar kata sejati. Dengan mimik wajah tegas dan penuh benci, pria itu menyergah lagi,


"Aku bilang tidak ya, tidak!" sungut Farhan seraya menjauhkan tubuh Lisa yang bergelayut di pundaknya. Bahkan anak itu ikut menjadi sasaran atas kekesalan Farhan pada Rico.


Lisa masih mencoba sabar. Sebagai wanita, ia harus berada di tengah-tengah agar keduanya bisa berdamai kembali.


"Begini loh, Mas. Pak Rico 'kan hanya keluar dari perusahaan. Jadi kalian masih bisa berteman dan ketemu kapan saja. Menurutku, kembalinya pak Rico ke perusahaannya bisa menjadi hal yang bagus, mungkin aja perusahaan kalian bisa menyatu. Dan itu adalah bentuk upaya tuan Rico untuk kebaikan bersama." Satu jentikkan keras mendarat di dahi saat ia baru selesai mengatakan itu. Lisa langsung memajukan bibirnya tiga senti.


"Kenapa? aku tidak salah, kan?" pungkas wanita itu dengan nada bingung.


Mendengar itu Lisa merasa miris. Dunia bisnis begitu luas, Lisa yang baru saja bergabung merasa belum memiliki bekal apa-apa untuk pengetahuannya.


Lisa kembali bergelayut manja di pundak Farhan tanpa rasa canggung. "Sayang sekali, tapi kamu tidak mungkin membenci pak Rico 'kan, Mas?" tanya dia penasaran. Bahkan seluruh aliran darahnya ikut berteriak menunggu jawaban seorang Farhan.


"Tolong jangan bahas dia, saat ini aku ingin melupakan nama itu sejenak." Layaknya seorang mantan yang wajib dibuang, begitulah Farhan menyiratkan Rico seperti sampah.


Pria itu mencondongkan wajahnya ke depan, menarik pinggang Lisa hingga akhirnya menjatuhkan satu kecupan sayang. "Terima kasih telah menjadi obatku hari ini. Kau yang terbaik." Aing macan telah pergi, tiba-tiba Farhan kesurupan Vicky Prasetyo si artis yang pintar merangkai kata manis.


Bibirnya langsung menempel lagi sebelum Lisa sempat berteriak gila. Di tariknya dagu mungil itu dengan lembut, di mana lidah mereka mulai beradu dalam balutan romansa syahdu. Tenang. Dan nampak saling menikmati satu sama lain.


Aku harap kau tidak akan pernah meninggalkanku seperti si penghianat itu, batin Farhan karena merasa hanya Lisa satu-satunya ciptaan Tuhan yang sampai detik ini selalu setia.


Tauatan terlepas. Masih dengan mata setengah sayu, Lisa bertanya untuk memastikan sesuatu.


"Kamu kenapa, Mas? Kok hari ini beda banget?" Lisa merasa ada yang ganjil, entah kenapa ia mendadak merasa dicintai oleh Farhan. Ciuman yang baru saja Farhan lakukan begitu memikat hati. Lembut, menyenangkan, hingga Lisa menginginkan lagi.


"Tidak apa." Farhan mendaratkan satu kecupan lagi, kali ini di puncak kepala Lisa. Kemudian, pria itu memeluk tubuh Lisa sekuat tenaga sampai ia merasa sesak.


"Jangan pernah pergi seperti yang lain, apapun yang terjadi tetaplah berada di sampingku. Hanya kamu satu-satunya yang dapat mengerti."


Kalimat itu sontak membuat Lisa terbelalak. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Bibirnya kelu. Hatinya melambung bersamaan dengan jutaan kupu-kupu fatamorgana yang lepas dari dasar perut.


...***...


...Maaf ya, aku nulisnya gantian. Karena ini udah mau tamat, jadi aku udah mulai aktif di novel baru. Tapi nanti ada season duanya kok, tenang aja. Jangan lupa ke novek baruku ya....


... Istri Polos Kesayangan ...