
Lisa pernah membaca sebuah artikel, bahwa anak laki-laki mempunya dua kromosom X dan Y, sedangkan perempuan hanya memiliki satu kromom yaitu, X. kromosom Y sendiri adalah kromosom yang membawa sifat sex seorang anak laki-laki. Di mana kondisi itu membuat anak laki-laki memiliki perbedaan hormon yang cukup signifikan dengan perempuan.
Anak laki-laki tidak bisa disamakan dengan perempuan. Diketahui, mereka sudah memiliki naluri nafsu sejak masih bayi. Maka dari itu, para bunda-bunda harus lebih hati-hati lagi jika hendak bertelanjang atau memperlihatkan bagian-bagian intimnya kepada anak laki-laki—sekali pun umur mereka masih tiga tahun.
Lisa mulai menyadari itu, ia tidak mau kebiasaan buruk Cello sampai keterusan dan menimbulkan dampak yang lebih buruk lagi untuk kedepannya.
Lama-lama Lisa mulai mengkhawatirkan keadaan bakpao coklatnya juga. Cepat atau lambat si kembar pasti akan tinggal bersama mereka. Ia tidak sanggup kalau harus melayani anak piranha dan batu bernapas sekaligus. Takut-takut gunung kembarnya erupsi dan menyemburkan lahar panas berbahaya.
Kembali lagi pada lipstick, Farhan ragu-ragu saat hendak menggoreskan benda itu ke dada Lisa. Gara-gara tak tahan, gagang gayung mendorong otak kotor Farhan agar mencicipi bakpao coklat itu dulu sebelum mulai menggambar. Pikiran Farhan jadi maju mundur, antara menggambar atau minta izin dulu untuk aye-aye.
"Kenapa berhenti, ayo cepet digambar. Katanya tadi ngantuk. Aku juga sudah ngantuk, nih."
Farhan mendengkus tanpa kata. Matanya kembali memandang benda yang ada di depannya. Farhan terbengong sejenak.
Oh astaga, mata Farhan langsung segar kembali saat gagang gayungnya disuguhi sesajen menggiurkan seperti itu. Darahnya berdesir. Bahkan, rasa panas yang datang melanda tubuhnya mengalahkan suhu AC kamar.
"Cepetan!" Lisa menyodorkan benda sebesar dada Hulk itu—nyaris menempel kepermukaan wajah Farhan.
Farhan yang merasa reflek langsung memajukan bibirnya dengan cekatan, menerjang benda itu tanpa kata permisi.
Satu tepukkan melayang di kepala Farhan cukup keras. "Ya ampun! Siapa yang nawarin kamu! Aku 'kan minta tolong gambarin! Fokus ... fokus ... fokus!" protes Lisa sebal. Tangannya mendorong wajah Farhan. Menghancurkan harapan besar gagang gayung dalam sekali hentak.
"Maaf, aku tidak sengaja." Ekspresi wajah Farhan tampak cengo dan kaku. Menambah kesan lucu karena kemesuman otaknya ketahuan.
Pria langsung mengumpati dirinya sendiri dalam hati. Ia merasa malu karena tidak dapat mengontrol emosional gagang gayung yang terus memaksa otaknya untuk jadi agresif.
"Makannya fokus, Mas. Inget ada anak-anak lagi tidur. Jangan sampai mereka bangun karena kelakuanmu. Apalagi sampai mata polos mereka ternistakan oleh kelakuan orang dewasa." Lisa membangun tembok besar setinggi-tingginya. Menjelaskan bahwa malam ini tidak ada jatah untuk si gagang gayung.
Padahal ada kamar mandi, ruang tamu, alasan saja! Farhan menggerutu dalam hati.
"Iya!" Farhan meraih benda kenyal itu dengan kedua tangan. Mulai menggambar di permukaan itu sambil sesekali menelan ludah dengan susah payah.
Satu menit berlalu, Farhan tersenyum geli menatapi hasil buah karyanya sendiri.
"Kok begini?" Lisa langsung mengerucutkan bibirnya. "Ello mana takut kalau gambarnya matahari sama bintang-bintang. Sekalian aja kamu gambar muka Spongebob sama Patrick. Biar misi aku gagal!"
"Sabar dulu, ini baru permulaan." Senyum mengembang di pipi. Farhan mulai menggambar kembali di atas dua gunung kembar yang ukurannya tidak sama besar.
Gambar selesai. Dua manusia yang sedang pangku-pangkuan itu termenung sejenak. Lisa menatapi maha karya Farhan yang cukup lumayan dan terkesan menipu anak kecil. Cello pasti nangit kejar besok pagi.
"Makasih, Mas. Tapi kok ini aku jadi gatel-gatel gini, ya?"
"Gatel?" Farhan mengernyitkan dahi tidak paham. Ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. "Apa jangan-jangan iritasi?"
"Mungkin aja sih, Mas. Soalnya aku pakai lipstick yang udah kedaluwarsa."
"A-apa!" Farhan tak dapat menutupi keterkejutannya. "Beraninya kau!"
Farhan langsung menyingkirkan tubuh Lisa. Pria itu menggeram seperti macan beranak.
"Berani-beraninya kamu menggunakan barang kedaluwarsa untuk dirimu sendiri!"
Sorot mata Farhan tampak mengerikan. Emosi pria itu sudah tidak terbendung lagi. Dibandingkan perihal Lisa yang meracuni dirinya dengan obat warung kedaluwarsa beberapa tahun silam, Farhan jauh lebih marah melihat benda favoritnya terancam bahaya. Bagaimana jika rusak? Farhan masih belum sanggung kehilangan bakpao coklat kegemarannya.
"Maaf, Mas. Abisnya aku sayang kalau pakai yang masih utuh. Aku pikir gak bakalan kenapa-napa."
"Diam kau!" Farhan menekan tombol darurat. Memanggil dokter hotel agar segera datang ke kamarnya. "Jika sampai terjadi apa-apa. Kau yang akan kumutilasi dengan tanganku sendiri!
Lisa terdiam. Menunduk ketakutan tanpa berani berkomentar.
Kenapa aku harus memiliki istri sebodoh dirimu si, Lisa. Menggusar rambut ke belakang, menghentakkan kakinya kesal, Farhan membanting telepon saat tak ada satu pun staff berjaga yang mengangkat panggilan daruratnya.
"Sepertinya kalian ingin kupecat. Keparat!" Gumam-guman lirih dengan napas naik turun. Farhan yang tak tahan langsung bergegas keluar kamar untuk memanggil dokter. Ia memilih jalan sendiri daripada menunggu telepon tanpa kepastian.
Lisa masih gemetar ketakutan walau sumbernya sudah pergi, ia takut melihat amarah Farhan yang terlihat seperti ayah tak terima melihat telurnya di goreng manusia
****
Up kedua.
Bagi poin ya, guys ... buat yang belum vote, yuk .. yuk ... vote.