HELLO, MY BOSS!

HELLO, MY BOSS!
Resepsi Pernikahan Dadakan



Alunan musik piano bertema klasik mengalun dengan sangat indah. Ratusan orang menatap Farhan dan Rico begitu pintu aula terbuka. Sosok yang ditunggu-tunggu oleh mereka sedari tadi.


"Ada apa ini?" Farhan mengedarkan pandangannya tidak percaya. Ia menoleh pada Rico dengan tatapan menghardik. "Apa yang kau lakukan? Acara apa ini?" Masih setengah tidak sadar. Bahwa acara itu merupakan resepsi pernikahannya sendiri.


Miris, Rico menjawab segala kegundaan Farhan, bibirnya tersenyum lebar dan nampak bahagia sekali. "Ini adalah kejutan pernikahan yang telah disiapkan tuan Haris untuk Anda, Tuan. Bersiaplah karena acara akan di mulai, nona Lisa sedang menunggu di kursi pelaminan."


"Gila, kenapa kau tidak bilang?" tanya Farhan tidak senang. Berada di tempat ramai dengan pusat perhatian sudah biasa ia lakukan saat bekerja. Namun, berada di acara pernikahannya sendiri terasa beda. Malu. Gugup. Pucat. Grogi. Semua rasa itu bercampur dan menjadi perisai yang menyerang Farhan secara tiba-tiba.


"Ini adalah kejutan, Tuan. Kalau saya memberitahu sama saja bohong," balas Rico dengan ambisi luar biasa.


Seseorang dari belakang datang untuk membenarkan.


"Rico benar! Papi tahu kau pasti sangat terkejut dengan acara ini, Han. Papi juga tahu kau tidak suka acara pesta seperti ini, tapi semua ini sengaja kami lakukan agar seluruh dunia tahu bahwa putra kami yang berharga sudah menikah." Tuan Haris datang dari arah samping bersama nyonya Dina. Mereka tersenyum bangga, lalu berdiri mengapit Farhan untuk mengantarnya naik ke pelaminan.


"Ta-tapi." Wajah Farhan semakin gugup. Tangannya gemetar karena rasa grogi yang terus merundungi isi kepala. Apalagi semua mata kini tertuju padanya. Sedang menunggu Farhan naik ke pelaminan untuk menemani Lisa yang duduk gelisah sendirian.


Tuan Haris menarik lengan Farhan agar berdiri di tengah-tengah karpet merah. "Tidak ada tapi-tapi. Lihatlah, semua tamu undangan sudah menantimu," sergah nyonya Dina yang sudah tidak sabaran.


Rico menerima jas putih yang baru saja diantar oleh pelayan. Lalu memakaikannya pada Farhan dengan cekatan. "Tarik napas dalam-dalam, Tuan. Anda sangat kelihatan gugup hari ini. Semua akan berjalan dengan baik, tidak perlu khawatir dan memikirkan apapun."


Rico menepuk pundak Farhan dengan kedua tangan setelah selesai memakaikan jas di tubuh pria itu.


Farhan menghela napas sesuai perintah Rico, kemudian menghembuskannya pelan-pelan. "Ya, aku memang sangat gugup," aku Farhan sambil merapikan penampilan bajunya.


"Semangat Tuan!" Rico mengepalkan tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Ia mundur dari garis karpet. Pikirannya sedikit tertegun mendengar jawaban Farhan. Ia tidak menyangka, Farhan yang selalu ambisius bisa merasakan gugup seperti manusia normal lainnya. Ah, bagaimana kalau ia menikah nanti? Cukup! Perjalanan cinta Rico mengejar Irene Red Velvet masih panjang.


"Bagaimana penampilanku? Apa aku terlihat aneh?"


"Sempurna!" Telunjuk dan jempol Rico membentuk isyarat OK.


Musik mulai mengalun lagi, pertanda acara inti penting akan segera di mulai. Farhan berjalan diiringi oleh tuan Haris dan Nyonya Dina. Di kursi pelaminan, ada Lisa yang sudah menunggu bersama si kembar, bunda Lynda, dan ayah Hermawan.


Selagi Farhan berjalan, bunga-bunga terus disebar oleh pagar ayu yang berjejer di pinggiran pembatas jalan.


Tepat lima meter di hadapan Lisa, ia mengerjapkan mata tidak percaya. Pandangannya menatap lurus ke arah Lisa. Seakan dunia milik berdua.


Lisa begitu cantik di mata Farhan. Dua ratus kali lipat dari hari biasa. Farhan nyaris tak mengenali sosok wanita yang ada di depannya. Karena saat menikah bulan kemarin, Lisa dan Farhan hanya mengenakan pakaian standar tanpa riasan. Lisa sendiri juga bukan tipe wanita yang pintar dandan, hanya menggunakan bedak asal dan sedikit polesan lipstick setiap harinya.


Untuk mempersingkat acara, semua tamu dipersilahkan menyalami mempelai dan calon kelurganya. Bibi dan paman Lisa juga ikut hadir. Namun mereka hanya menjadi tamu biasa. Tidak diperbolehkan mengaku menjadi keluarga Lisa karena kejahatan mereka di masa lalu.


Untuk Bryan dan Felix sendiri, mereka memang sengaja tidak diundang oleh Rico. Selain takut terjadi hal buruk, Rico juga sudah paham bahwa Bryan masih harus butuh waktu untuk main perang-perangan bersama istrinya. Sedangkan Felix, Rico tak mau menyebut nama itu, terlalu mengerikan baginya.


Setelah jamuan makan dan acara dansa, tibalah bagi pengantin untuk melempar bunga pada para hadirin. Sebuah tradisi yang biasa dilakukan pasangan pengantin pada umumnya.


Farhan dan Lisa membalikkan badan secara bersamaan, Lalu melempar bunga pada kerumunan orang yang siap menangkap.


Teriakan menggema di mana-mana begitu bunga terlempar. Namun, sebuah insiden tidak terduga terjadi begitu saja. Mengambi alih pusat perhatian semua orang yang hadir di sana.


Sosok pria yang pernah menjadi musuh bebuyutan Farhan waktu itu, melempar bunganya kembali hingga mengenai punggung Lisa.


"Awkk!" Wanita itu memekik kesakitan.


"Kau tidak apa? Mana yang sakit?”


Mata Farhan menyalang murka. Ia mengepalkan tangannya dengan emosi yang mendadak tumpah ruah. Pandangannya tertuju pada Skala Prawira. Entah bagaimana ceritanya, anak itu bisa datang ke acara pernikahan Farhan dan Lisa.


"Jaga kestabilan emosi Anda Tuan." Rico langsung datang menghadang sebelum Farhan melakukan baku hantam dengan Skala.


Semua mata hadirin sedang mengeksekusi Farhan dan Skala. Jangan sampai acara pesta yang sudah Rico susun sampai begadang-gadang berakhir kacau balau. Rico menatap Lisa, memohon bantuan dengan binar memelas.


"Mas, jangan emosi di sini. Aku baik-baik saja kok," ucap Lisa sambil menahan sakit pada punggungnya. Jangan sampai penyakit suaminya kumat di tengah keramaian. Apalagi sampai berubah jadi: aing macan.


Bianca selaku istri Skala, langsung menarik suaminya dari perhatian para hadirin. Farhan hendak mengejar, namun Lisa menarik tangan pria itu secepat kilat. Lalu membisikkan ramuan mujarap untuk meluluhkan hati pria itu.


"Jangan membuang tenagamu untuk hal yang tidak penting, Mas. Tahu 'Kan, apa akibatnya jika kamu sampai gagal push up di ranjang 1000 kali?" Sontak Farhan mundur satu langkah. Tidak jadi mengejar Skala yang sudah menghilang entah ke mana.


"Siap-siaplah bertapa 1000 hari di gua hantu jika kau tidak mampu menjadi pria persyaka," ancam Lisa yang ditujukan kepada gagang gayung Farhan. Mata pria itu membola, pipinya merona layaknya kepiting bakar saus tiram.


Demi kesejahteraan gagang gayung. Farhan tidak jadi mengejar raja siluman Anaconda walau hatinya seperti ladang ganja kebakaran.


***


Nyesss gak tuh ancaman buat Farhan?🤣 Btw itu semboyan Lisa kalau lagi ngancem. Aku ambil dari adegan Lisa versi novelku tentang Keluarga Cereme abal-abal yang mau di bukuin itu. Gpp lah ya, terinspirasi dari karya sendiri. Halal kan, hehe.🤣