
Napas mereka masih memburu begitu pertarungan di babak pertama baru saja to be continued. Cinta berkali-kali lipat terpancar di wajah Farhan. Yang tentunya Lisa tidak pernah tahu karena otaknya terlalu tempe. Lisa masih saja berpikir bahwa semua yang dilakukan pria itu masih berdasarkan nafsu.
Seperti pepatah yang menjadi simbol pikiran Lisa: tak ada kucing yang menolak diberi cilok. Begitulah kehidupan normal di dunianya nyata. Andai ini novel, mungkin Lisa dan Farhan akan tidur di ruang terpisah. Sering bertengkar. Cinta dan benci. Lalu hadir orang ketiga yang menerpa rumah tangga hingga pembacanya kegerahan. Dan masih banyak keseruan lainnya yang menunjukkan cerita cinta novel romance itu sendiri. Sayangnya dunia nyata tidak seseru itu kan, kecuali ungkapan cinta, Farhan dan Lisa menjalani kehidupan normal layaknya pasangan lain. Saling peduli dan perhatian, tak lupa melakukan hubungan badan rutin dari sejak awal mereka menikah hingga kini. Saking rutinnya, sampai ada jadwal yang Lisa buat untuk si gagang gayung lokal yang sudah berubah jadi premium. Yaitu setiap malam Selasa dan Kamis. Jam sembilan malam sampai selesai.
Itu juga seru sih, hanya saja Lisa butuh kepastian, atau lebih jelasnya cinta. Tapi, usia pernikahan mereka baru dua bulan, wajar jika Farhan masih melakukan penyesuaian dan pendekatan. Secara keduanya menikah bukan karena cinta, tapi karena butuh.
Dan ... waktu pun berlanjut.
Keduanya masih terpaku, saling mengunci pandangan sambil menikmati sisa-sisa permainan ranjang berdecit yang belum sampai layu dan basi. Mungkin sebentar lagi ... mereka akan segera memulai ronde kedua atau ketiga, dan seterusnya sampai baterai di tubuh mereka low bat total.
Merengkuh tubuh Lisa dalam-dalam, Farhan melayangkan satu buah kecupan sayang di pundak wanita itu. Membawanya ke tempat paling nyaman di dada sebelah kiri.
Dari situ, Lisa dapat merasakan degub jantung Farhan yang berdetak kencang seperti sedang melakukan aktivitas aerobik. Wanita itu tersenyum geli, lalu mendongak untuk melihat wajah pria yang baru saja melepas hormon kebahagiaan.
"Bagaimana dengan tempat ini, apa kamu sudah merasakan keseruannya?"
"Terlalu nyaman," ucapnya mengakui. Farhan menjatuhkan dagunya di pundak Lisa. Enggan dilihat ekspresi wajahnya yang memerah.
"Tuh 'kan! Apa kubilang, tempat ini memang seru. Murah, tapi gak murahan. Kayak aku banget. Menyenangkan, bukan?"
kau jauh lebih menyenangkan. Batin Farhan yang menjawab.
Tangan pria itu mulai bergerilya kembali, menyusuri apapun yang ingin disentuh oleh benda nakal itu. Hingga tanpa sadar, ia sudah berada di bagian perut Lisa. Lalu mulai termenung dengan spekulasinya sendiri.
"Kenapa?" tanya Lisa saat mendapati Farhan diam dengan tangan berhenti di bawah sana.
"Tidak apa, aku hanya sedang berfikir saja. Sepertinya lucu jika ada anak kita dalam sini suatu hari nanti. Kira-kira rasanya seperti apa?" Maksud Farhan, apakah ia dan Lisa bisa menjadi pasangan normal seperti lainnya?
Maka Lisa menjawab, "Berusahalah lebih keras lagi, Sayang. Dia akan hadir tergantung dari usaha ayah dan ibunya." Lembut Lisa berkata, sejenak meninggalkan suara barbar yang merupakan ciri khas biasanya
Berusahan yang seperti apa? Apa harus menambahkan Hari Rabu, Jum'at dan Minggu di kalender?
Farhan terdiam mencerna ucapan Lisa, pria itu hanya memeluk dan mentransfer energi besar yang mungkin hanya dapat di rasakan oleh dirinya sendiri.
"Kamu mau lagi?" celetuk Lisa yang sudah seperti pedagang sayur tidak laku. Farhan mengangguk iya. Dengan ekspresi datar yang pastinya malu-malu kucing.
"Bisakah kamu memintanya dulu padaku, baru kita lanjut lagi."
Glekk.
Farhan menelan saliva gugup. Wajah yang ia sembunyikan di balik ceruk leher Lisa memerah. Rasanya Lisa ingin menonjok wajah kaku dan datar itu. "Bukankah biasanya langsung boleh?" Bukan meminta, Farhan justru mengalihkan pembicaraan lain hingga decak kasar keluar dari mulut Lisa.
Ia menarik paksa wajah Farhan agar dapat melihat kegugupan sang suami dengan jelas. "Biasanya seperti itu, tapi kali ini aku ingin mendengar kau memintanya duluan. Apa itu sulit bagimu?" Matanya melotot tajam sambil menunggu reaksi Farhan berikutnya.
"Gimana cara ngomongnya?" Farhan tergugu-gugu saat bertanya. Satu masalah besar, Farhan memang tidak pernah melakukan itu karena segala sesuatunya sudah dijadwalkan dengan baik. Apalagi Lisa sudah peka dan paham tentang porsi suaminya sendiri.
"Ya tinggal ngomonglah, Mas Al."
Farhan mulai berburuk sangka dan kesal. "Apa kamu ingin mengerjaiku lagi setelah semua yang kita lewati hari ini?" gerutu Farhan tidak senang.
"Cuma minta, apa salahnya?" tandas Lisa tak mau kalah.
"Aku mau lagi." Berkata sambil memalingkan wajah. Terpaksa ia lakukan daripada gantung di tengah jalan. Namun, jawaban menyebalkan keluar dari mulut sambal setan Lisa.
"Mau apa dulu?" pancing Lisa memainkan.
Farhan yang sudah mengumpulkan keberanian dari unsur api dan air mendadak murka dengan candaan seperti itu.
"Sudahlah ... aku mau tidur saja. Lelah!" Senjata ampun Farhan diaktifkan. Begitulah reaksi pria itu saat di goda. Lebih parah dari anak perawan tetangga.
...***...
...Jangan lupa, like, komen, dan bagi-bagi vote yang teman-teman. Terima kasih.🙏...