
Flash back satu bulan sebelum pamit keluar.
Bertemu dengan Wicaksono Albraham adalah hal yang paling Rico hindari sampai detik ini. Karakternya yang kejam dan jahat membuat Rico enggan mengakui pria paruh baya itu sebagai seorang ayah, dan sekarang .... Kaki itu dia bawa melangkah, menyusuri lorong rumah sakit hingga pada akhirnya ia mendorong sebuah pintu kamar VIP, lalu masuk dengan gagah berani.
Ditatapnya wajah kuyu yang tengah berbaring lesu. Rico mendekat perlahan, mencoba mengusir rasa benci yang selalu singgah di sepertiga hati. Sayangnya, kebencian Rico pada Wicaksono tidak akan luntur.
Rico masih ingat dengan sangat sadar, saat ayahnya membawa wanita baru di hadapan ia dan ibunya yang sedang sakit-sakitan. Dengan bangganya, Wicaksono memperkenalkan calon istri baru hingga membuat kondisi ibu kandung Rico memburuk dan akhirnya menginggal dunia. Meninggalkan Rico yang saat itu masiu berusia 14 tahuh. Rico pun mengklaim bahwa Wicaksono-lah yang membuat ibunya meninggal karena terlalu banyak memikirkannya.
Kini, jarak mereka hanya tinggal beberapa centi. Rico berdiri kaku sambil melipat kedua tangannya. Pandangannya mengedar, menebar rasa kencian yang tak pernah bisa pudar. Tepat di hadapan sang ayah, ia berkata, "Apa istri muda yang cantik jelita itu sudah mencampahkan Anda? Kemana si jaalang itu sampai Anda jadi seperti ini?" tanya Rico dengan bahasa sengit.
"Jaga bicaramu Rico! Bagaimanapun juga dia lebih tua darimu." Wicaksono menyergah. Membuat hati Rico semakit bergetar-getar menahan perasaan jijik.
"Kalau begitu langsung saja katakan, masalah apa yang ingin Anda bicarakan denganku?" telak Rico dengan wajah muak. Menyiratkan bahwa ia sudah teramat gerah berada di satu ruang yang sama dengan ayahnya.
"Uhuk ... uhukk!" Suara batuk yang terdengar melemah itu membuat Rico melengos. Tidak mau goyah ataupun menumbuhkan rasa kasihan pada iblis berkedok ayah itu.
Pak Frans si asisten kepercayaan Wicaksono yang sedari tadi duduk di sofa langsung sigap mendekat, membantu Wicaksono mengambil air putih. Terlihat napasnya mulai terengah-engah seperti menahan sakit luar biasa.
Jangan tanyakan ekspresi Rico. Dia tampak tidak peduli sekalipun Wicaksono mati di hadapannya.
Sepuluh menit berlalu, Wicaksono sudah jauh lebih baik saat suster datang dan menyuntikkan obat ke tubuhnya. Pria paruh baya rapuh itu mulai mengutarakan maksud dan niatnya mengajak Rico bertemu.
"Ayah tidak mau basa-basi lagi padamu Rico!" Wicaksono memberikan kode pada pak Frans untuk mendudukkan posisi tubuhnya. Dia langsung cekatan memutar pengaturan ranjang agar membentuk posisi duduk.
"Ayah tahu kau tidak akan pernah memafkaan kesalahan ayahmu di masa lalu, tapi mau bagaimanapun juga kita tetap memiliki kesatuan. Kau adalah anak kandungku satu-satunya. Darah Wicaksono mengalir sempurna di tubuhmu. Yang menggariskan takdir bahwa kau adalah calon penerus Burning Sun yang sudah berdiri sejak jaman kakek buyutmu."
"Lalu?" Rico mengernyit sinis. "Apa Anda pikir aku sudi bergabung dengan perusahaanmu? Persetan dengan status ayah dan anak. Anggap itu tidak pernah ada. Dan berhenti menyuruhku untuk kembali, itu tidak mungkin!" tegas Rico padat dan jelas.
Wicaksono sampai menghela napas kasar, ia menatap anaknya yang keras kepala dengan bangga, persis seperti dirinya waktu muda. "Lalu untuk apa perjuanganku jika bukan untuk anak kandungku?" tanya Wicaksono. Ia masih mencoba menggunakan kata-kata lembut demi sebuah keberhasilan.
"Berikan saja semua harta Anda pada si j*lang yang selau kau agungkan. Aku tidak butuh harta anda, Tuan Wicaksono!" tolak Rico, bengis.
"Apa ini?" tanya Rico tanpa mengubah ekspresi sebelumnya.
"Itu adalah dokumen sekitar lima tahun silam, silahkan dibaca, Tuan Muda."
Tak mau menunda waktu lama, Rico langsung membuka lembaran dokumen yang baru saja di berikan pak Frans. "Bedebah! Apa Anda gila?"
Kilatan-kilatan amara tercetak jelas di wajah anak kandung Wicaksono. Tatapannya membunuh, setajam pisau yang siap melayang ke tubuh Wicaksono.
Kali ini ia benar-benar emosi melihat bukti kegilaan ayahnya.
****
Hallo, ada yang kangen aku. Pertama aku ucapin makasih banyak buat yang sudah baca nove RESIKO HAMIL DULUAN di aplikas *kbmapp*.
Kedua aku mau kasih tahu, kalo cerita ini belum tamat. dan masih lanjut, hanya saja aku gak mood karena liat komen kalian yang kurang enak. padahal aku g pindahin cerita ini kemanapun. Hanya sebatas ngasih tahu kalau ada novel versi aslinya ada di #***.
Aku banyak banget pesan masuk. yang bilang katanya cerita yang di sana ko lebih bagus, dan banyak juga yang merasa kesal karena gak ditaruh di sini aja. Ini aku kasih tahu sekali lagi ya, jadi cerita itu emang ceritaku yang paling mendingan diantara semua novelku, maka dari itu aku sayang dan aku mau bukuin suatu hari.
Kalau aku taroh di sini, ceritaku yang judulnya RESIKO HAMIL DULUAN gak akan bisa aku bukuin karena udah jadi milik NT. Adapun author yang novelnya dibukuin, itu hanyalah author pemes. Kalian kan tahu kalau aku cuma penulis yang ada dibawah sendal jepitnya author pemes. Gak keliatan alias kasat mata.
Kalau kalian gak mau baca novel yg di sana gak masalah kok, aku taruh di sana bukan nyari duit, tapi karena aku masih butuh hak cipta novel itu, tolong mengerti.
Dan yang sudah menyempatkan diri untuk membaca, aku makasih banget. 🙏🙏
Sekali lagi aku mohon maaf ya, gara-gara itu aku jadi gak mood up disini, padahal lagi dikonflik puncak. Kadang komen jahat kalian itu bisa bikin kita down. Dan imbas ke novel.
Satu lagi, gak usah hujat platform ini bikin author pada pindah. Aku masih nulis di sini, dan akan menyajikan berbagai novel gratis lainnya yang bisa kalian baca. Yang pindah mereka bukan aku. Adapun novel yang tidak aku taruh di sini, alasannya mau di bukuin. itu aja🥰
🙏🙏